Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dan Sergei Lavrov, mitranya dari Rusia mencapai kesepakatan untuk memperkuat kerjasama bilateral dalam melawan bahaya terorisme yang terus meningkat di Asia Tenggara.

Dalam pertemuan di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu (9/8/2017), Lavrov mengatakan, ancaman teroris Daesh masih ada dan para anggotanya telah menyebar ke seluruh dunia termasuk wilayah yang dekat dengan perbatasan Rusia dan Indonesia.

"Kami sepakat bahwa layanan khusus kami akan memberikan perhatian khusus untuk meningkatkan koordinasi dalam upaya bersama memerangi momok ini. Kami akan meningkatkan kerjasama di bidang ini baik di tingkat bilateral maupun pada platform Rusia-ASEAN," tegas Lavrov.

Pertumbuhan terorisme dan ekstremisme telah menjadi ancaman kolektif bagi negara-negara dunia dalam dua dekade terakhir. Ancaman ini telah menciptakan peluang yang tepat untuk melakukan kerjasama keamanan dan intelijen pada tingkat regional maupun internasional. Perang terhadap Taliban dan kelompok teroris Al Qaeda, dan sekarang Daesh juga berada dalam konteks kerjasama ini.

Perluasan operasi teroris Daesh dalam bentuk sel-sel kecil dan pelaku tunggal telah meningkatkan kekhawatiran para pemimpin negara-negara regional dan dunia.

Daesh dan afiliasinya seperti Abu Sayyaf dan Maute, ingin merebut wilayah baru untuk mengumumkan "kekhalifahan" dan melakukan kejahatan besar-besaran termasuk pembunuhan, penculikan, pemerasan, dan pemerkosaan di Asia Tenggara.

Perkembangan ini memicu kekhawatiran para pemimpin Asia Tenggara, dan Moskow juga berkesimpulan bahwa Amerika Serikat – dengan mendukung Daesh untuk bergerak ke daerah-daerah sekitar Rusia sampai ke Asia Tenggara – berniat mengancam keamanan nasional Rusia.

Direktur Pusat Analisis Institut Studi Internasional Rusia, Andrei Kazantsev mengatakan, "Keamanan regional menghadapi tantangan yang cukup serius menyusul kepulangan para teroris Daesh ke Asia Tengah dan daerah-daerah di sekitar Rusia."

Rusia sekarang ingin mempererat kerjasama keamanan dengan negara-negara Asia Tenggara untuk mencegah penyebaran Daesh di kawasan. Daesh telah membangun afiliasi dengan kelompok-kelompok teroris lokal seperti Abu Sayyaf dan Maute dan memulai serangan ke kota Marawi di Filipina Selatan. Ini adalah bagian dari misi mereka untuk merebut daerah baru sehingga memungkinkan pembentukan kekhalifahannya di Asia Tenggara.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Ansyaad Mbai mengatakan, "Orang-orang yang telah bergabung dan mendukung Daesh di Irak dan Suriah, mereka ingin mendirikan cabang Daesh di Indonesia, di mana secara serius mengancam keamanan negara ini dan kawasan."

Menurut Ansyaad, sejumlah WNI yang pulang ke Indonesia dari Suriah berbahaya, karena masing-masing punya kemampuan. Ada yang ahli merakit senjata dan ada yang ahli membuat bom. Tentu tidak semuanya.

Perang melawan kelompok teroris Daesh di Asia Tenggara tentu saja membutuhkan kerjasama keamanan dan intelijen, di samping mengatasi akar masalahnya yang berasal dari pemikiran Wahabi. Sebab, Arab Saudi dengan dana fantastis terus menyebarkan dan memperkuat pemikiran ekstrim di berbagai belahan dunia. (RM)

Aug 10, 2017 14:32 Asia/Jakarta
Komentar