Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Da Nang, Vietnam, dan Manila, Filipina. Kepala Negara bertolak dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma dengan pesawat kepresidenan, Jumat, 11 November 2017 sekitar pukul 10.35 WIB.

Ada dua konferensi yang akan dihadiri Jokowi di dua negara tetangga.

"Saya akan ke Vietnam dan Filipina, menghadiri KTT APEC dan KTT ASEAN," kata Jokowi sebelum keberangkatan di Lanud Halim Perdanakusuma.

Di KTT APEC, Jokowi dan delegasi Indonesia lainnya akan memperjuangkan Sustainable Development Goals (SDGs) dan mempersempit kesenjangan ekonomi.

Selain itu, ada pula tema infrastruktur dan kebijakan berbasis maritim yang akan diperjuangkan oleh pemerintah Indonesia.

Selanjutnya pada KTT ASEAN di Manila, Filipina, Jokowi dan delegasi RI akan membahas penguatan kerja sama negara-negara Asia Tenggara. Jokowi ingin ASEAN membawa manfaat bagi seluruh anggotanya. "Harus memberi manfaat yang nyata," kata Jokowi.

Presiden menghadiri KTT APEC ke-25 di Da Nang, pada 10-11 November. Pada Jumat, Presiden jokowi juga telah menghadiri APEC Business Advisory Council dengan para pemimpin anggota APEC dan menghadiri makan malam bersama.

Ada 21 pemimpin anggota APEC yang hadir, antara lain Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri Justin Trudeau, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, dan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto.

APEC 2017 yang bertema "Menciptakan Dinamika Baru, Membina Masa Depan Bersama" akan fokus membahas beberapa masalah, antara lain perekonomian berkesinambungan, integrasi regional, penguatan daya saing usaha mikro kecil dan menengah, perubahan iklim, dan dana pertanian.

Didirikan pada 1989, APEC tahun ini memasuki fase finalisasi "Bogor Goals" mengenai liberalisasi perdagangan dan investasi pada 2020. Hambatan muncul dalam proses globalisasi dan integrasi ekonomi.

Ada 21 entitas ekonomi yang menjadi anggota APEC yaitu Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, China, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua Nugini, Peru, Filipina, Rusia, Singapura, Taipei, Thailand, Amerika Serikat dan Vietnam. Mereka mewakili 39 persen populasi dunia, menyumbang 57 persen dari PDB dan 49 persen perdagangan global.

Di sela-sela event penting tersebut, Presiden Jokowi dan Perdana Menteri (PM) Australia Malcolm Turnbull mengadakan pertemuan bilateral. Sejumlah isu regional dibahas. 

Pertemuan berlangsung di The Gallery Room IV The Library, Furama Resort, 105 Vo Nguyen Gyap, Ngu Hanh Son, Da Nang, Vietnam, Sabtu (11/11/2017) mulai pukul 08.15 waktu setempat.

Pertemuan bilateral dilakukan secara tertutup, diikuti sejumlah menteri. Yang ikut pertemuan dari pihak Indonesia antara lain Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. 

35 menit kemudian, Jokowi keluar bersama para menteri. Pramono Anung menjelaskan isi pertemuan. Pertemuan bilateral dengan PM Australia sebenarnya sering dilakukan pada kesempatan forum-forum internasional, biasanya pihak Australia yang meminta.

"Prime Minister Turnbull selalu meminta bilateral dengan Presiden Jokowi, dan beliau yang selalu hadir di hotel di mana Presiden Jokowi berada. Ini menunjukkan hubungan yang sangat erat dan sangat akrab antarkedua negara," kata Pramono.

Dalam pertemuan, topik pertama yang dibicarakan yakni konflik di Rakhine State berkaitan dengan etnis Rohingya di Myanmar. Indonesia diminta tetap aktif mencari solusi terhadap permasalahan kemanusiaan.

"PM Australia tetap meminta Indonesia berperan aktif, karena memang seperti yang diketahui bersama, yang berkomunikasi secara langsung dengan Rakhine State adalah Indonesia," kata Pramono.

Kedua, soal pemulihan Kota Marawi usai kecamuk tempur melawan kelompok terorisme di Filipina selatan itu. Jokowi meminta Australia membantu pemulihan Marawi. Indonesia, disampaikan Jokowi ke Turnbull, akan mengirimkan para pendakwah agama Islam yang berhaluan tengah untuk menyebarkan pemahaman keagamaan non-teror.

"Indonesia juga akan mengirim beberapa Islam moderat untuk memberikan edukasi kepada teman-teman di Marawi, karena Indonesia dianggap sebagai 'big brothers' sehingga dengan demikian Indonesia bisa berperan serta dalam hal tersebut," tutur Pramono.

Ketiga, Turnbull mengundang Jokowi untuk hadir pada gelaran ASEAN-Australia Summit di Australia, bulan Maret. Jokowi diminta memberikan pidato dalam acara itu nanti. 

Jokowi mengiyakan undangan itu dan mengatakan akan mempersiapkan pidatonya. Ada pula pembicaraan soal The Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) Indonesia-Australia. (detiknews/RA)

Nov 11, 2017 13:07 Asia/Jakarta
Komentar