Hari kedua berada di Manila, Filipina, Senin (13/11/2017), Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghadiri pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-31 di Philippine International Convention Center (PICC).

Berdasarkan siaran pers resmi Istana Kepresidenan, serangkaian agenda KTT ke-31 ASEAN telah menanti Presiden, mulai dari sidang pleno, jamuan santap siang, hingga sejumlah pertemuan lainnya.

Presiden juga akan menghadiri ASEAN Leader’s Interface dengan ASEAN Business Advisory Council (ABAC), KTT ASEAN-AS, KTT ASEAN-Tiongkok, KTT ASEAN-Korea, KTT ASEAN-Jepang, serta Pertemuan APT Leaders lnterface dengan East Asia Business Council.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat menjelaskan kepada jurnalis, Minggu, 12 November 2017, menyatakan bahwa Presiden akan mengikuti sebelas kegiatan di hari pelaksanaan KTT ASEAN ini. "Bisa bertambah bisa berkurang," ucap Retno seperti dikutip Kompas.

Sedangkan pada hari kedua pelaksanaan KTT ASEAN, sebanyak sepuluh kegiatan telah menanti Presiden. "Kalau kita total dalam dua hari ini akan terjadi 21 kegiatan yang akan dilakukan oleh Presiden," ujar Retno.

Di antara pejabat yang mendampingi Presiden pada acara pembukaan KTT ASEAN ke-31 adalah Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Kepala BKPM Thomas Lembong dan Dubes RI untuk Filipina Johny Lumintang.

Terkait KTT ASEAN, pemerintah Republik Indonesia mendesak negara-negara anggota ASEAN untuk bertindak konkret soal tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Rakhine State Myanmar.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan bahwa situasi krisis Rohingya di Rakhine State, Myanmar memerlukan komitmen dan tindakan yang konkret agar krisis kemanusiaan dapat segera diakhiri.

Hal ini disampaikan Menlu Retno dalam pertemuan ASEAN Political and Security Community (APSC) Council di Manila, Filipina, Minggu, 12 November 2017, waktu setempat.

"Sudah waktunya bagi ASEAN untuk menunjukkan kepada masyarakat dan dunia bahwa ASEAN dapat melindungi rakyatnya dan mampu merespons tantangan di Asia Tenggara," kata Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dalam siaran persnya, Minggu, 12 November 2017 seperti dilansir Viva.

Tak cuma itu, Retno yang hadir dalam pertemuan ASEAN Political and Securty Community Council di Manilai Filipina, bersama Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, juga menyerukan bahwa penanganan krisis kemanusiaan di Rakhine juga menjadi langkah mencegah dampak negatif.

"Kita perlu upaya mencegah krisis ini agar tidak menjadi bencana, yang akan menjadi pintu masuk radikalisme dan terorisme," kata Wiranto.

Terkait penanganan terorisme, Wiranto menekankan pentingnya kerja sama negara-negara ASEAN dalam melawan terorisme.

Sementara itu, mengacu pada aksi terorisme di Marawi, ia menekankan bahwa ASEAN harus selalu waspada terhadap ancaman tersebut, khususnya peningkatan ancaman foreign terrorist fighters atau 'teroris asing' dan terorisme lintas batas. (RA)

Nov 13, 2017 15:57 Asia/Jakarta
Komentar