• Ketahanan Pangan
    Ketahanan Pangan

Jumlah Penduduk Terus Bertambah, Bagaimana Ketahanan Pangan RI? Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia hari ini menggelar Jakarta Food Security Summit (JFFS) 4. Acara yang digelar hingga esok hari ini membahas mengenai ketahanan pangan.

Ketua Umun Kadin Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan, sektor pangan saat ini menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Sebab isu melonjaknya jumlah penduduk dunia bisa memberikan masalah ketahanan pangan di kemudian hari.

"Penduduk dunia berjumlah sekitar 7,6 milyar orang dan pada 2050 diproyeksikan melonjak menjadi 9,8 miliar atau hampir 10 miliar orang. Sementara itu penduduk Indonesia kini sudah berjumlah 265 juta orang, pada urutan ke 4 setelah Amerika, India dan China, dan diperkirakan pada tahun 2050 akan menembus angka 300 juta orang," tuturnya di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, kata Rosan, maka untuk dapat memberikan jaminan pangan kepada pertambahan penduduk tersebut, diperlukan jaminan ketersediaan pangan yang memadai.

Kebutuhan makanan

"Segala daya dan upaya dilakukan oleh pemerintah di dunia untuk menciptakan ketahanan pangan, baik melalui program swasembada atau bahkan mengimpor, demi menjaga adanya stabilitas ekonomi dan politik nasional," tambahnya.

Namun sayangnya saat ini ketimpangan pusat produksi pertanian masih sangat besar. Hampir 40% dari luas persawahan yang ada sebesar 8,1 juta hektare terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padahal luas Jawa hanya 7% dari luas daratan Indonesia sebesar 181 juta hektare.

Ironisnya 60% penduduk Indonesia yang berjumlah 265 juta jiwa bermukim di pulau Jawa. Akibatnya, lahan sawah di pulau Jawa setiap tahun semakin tergerus dan hilang sekitar 100 ribu hektare, karena beralihnya fungsi persawahan.

"Kondisi tersebut mengakibatkan upaya untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan nasional menjadi semakin sulit diwujudkan. Mengatasi kendala tersebut, perlu dikembangkan program ekstensifikasi lahan pertanian, terutama di luar Jawa," tegasnya.

Panen di Kabupaten Cirebon Berpotensi Hasilkan 75.600 Ton Beras

Kementrian Pertanian (Kementan) menilai serapan gabah di Kabupaten Cirebon pada tahun ini mulai membaik. Bahkan bisa melebihi masa panen pada tahun sebelumnya.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Banun Harpini mengatakan pada masa panen awal tahun ini tanaman padi di Kabupaten Cirebon dalam kondisi sehat. Kondisi tersebut, sambungnya, lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

"Di Kecamatan Plumbon ini luar biasa kondisinya. Seluruh kecamatan juga. Kalau tahun lalu, kurang lebih 1600 hektare kita lakukan upaya pengendalian, sekarang kondisinya normal," kata Banun usai menghadiri acara percapatan tanam dan panen awal di Desa Purbawinangun, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (8/3/2018).

Padi

Kondisi masa panen awal pada tahun ini, lanjut Banun, mampu mengembalikan kejayaan hasil panen di Kabupaten Cirebon sebagai daerah penghasil padi tertinggi di Jawa Barat. Ia mengatakan pada bulan Maret ini sebanyak 19.000 hektare sawah di Kabupaten Cirebon memasuki musim panen.

"Setiap satu hektare sawah produktivitasnya 6,3 ton gabah kering giling. Dengan begitu, panen bulan ini di Kabupaten Cirebon berpotensi mendapatkan 120.000 ton gabah kering giling, atau setara dengan 75.600 ton beras," kata Banun yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Upaya Khusus Swasembada Padi Jagung Kedelai (Upsus Pajale) Kementan.

Cirebon, sambungnya, memiliki kontribusi besar untuk Jawa Barat terkait hasil panen padi. Sementara itu, lanjutnya, di tingkat nasional Jawa Barat memiliki kontribusi sebesar 17 persen.

"Di Jawa Barat kami menargetkan 12.600.000 ton gabah kering giling. Kalau tidak ada gangguan signfikan, seperti el nino, la nina, wereng, dan lainnya, tentu bisa memenuhi target. Terlebih, saat ini menurut BMKG kondisi air mencukupi hingga April nanti," tutupnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Ali Efendi mengatakan lahan baku untuk persawahan di Kabupaten Cirebon seluas 53.000 hektare. Ia menjamin masa panen awal tahun ini bisa lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 5,3 ton gabah kering giling per hektare.

"Kita ada upaya melalui perda untuk menjaga lahan produktivitas di Cirebon. Bencana banjir kemarin juga tak terlalu berpengaruh, hanya menghambat masa tanam saja," katanya. (Detikcom)

Mar 08, 2018 14:39 Asia/Jakarta
Komentar