• Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin.
    Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin.

Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin bicara soal alasan mengapa saat ini marak penipuan ibadah umrah. Menurutnya, penipuan saat ini tak terlepas dari banyaknya golongan masyarakat kelas tertentu yang berangkat umrah. Apa maksudnya?

Lukman awalnya menyatakan bahwa dulu-dulu, kasus penipuan terkait keberangkatan umrah sangat jarang terjadi lantaran saat itu kalangan menengah ke atas lah yang paling banyak berangkat ibadah. Mereka yang kalangan bawah saat itu lebih ingin beribadah haji.

"Mengapa 5-6 tahun ini baru terasa persoalan? Ini implikasi keterbatasan kuota haji. Dulu itu berumrah kalangan menengah atas, bukan menengah bawah karena kalangan bawah prioritas haji," ujar Lukman di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/3/2018).

Dulu, kata Lukman, ibadah haji tak perlu menunggu antrean karena belum ada pembatasan kuota. Saat ini, ada kuota haji. Jadi, banyak kalangan menengah ke bawah yang memilih berumroh.

Saat kalangan menengah atas yang berangkat umrah, sangat jarang terjadi masalah. Lukman memberi alasannya. "Konsumen umrah masyarakat menengah atas relatif tak ada persoalan. Menengah atas cenderung edukatif, tidak mudah dijadikan objek penipuan," kata dia.

Lalu, mengapa Lukman memandang kalau maraknya penipuan umrah berkaitan dengan klasifikasi golongan calon jemaah?

"Kemudian masyarakat menengah bawah, tentu segala hormat saya, pengalamannya tak seperti masyarakat menengah atas. Maka, oleh sekelompok kalangan, jadi menggiurkan bisnis. Itu jadi industri tersendiri," tutur Lukman.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin tak ingin calon jemaah umrah tertipu lagi. Melalui Peraturan Menteri Agama tentang Penyelenggaraan Ibadah Umrah, Lukman menetapkan harga minimal biaya umrah oleh biro travel.

"Kami menetapkan harga referensi yang bisa dijadikan publik rujukan apakah travel ini benar atau tidak. Itu Rp 20 juta," ujar Lukman di kompleks DPR RI, Senayan.

Meski demikian, Lukman memperbolehkan jika biro travel menetapkan harga di bawah referensi itu. Namun ada syaratnya.

Syarat itu di antaranya soal harga maskapai yang dipakai biro travel, hotel, dan sebagainya. Masyarakat disarankan memilih biro perjalanan yang mematok biaya umrah Rp 20 juta.

"Bagi yang di bawah harga referensi dimungkinkan, harga fluktuatif. Kita patok moderat," sebutnya.

Menag: Umrah Itu Ibadah, Bukan Wisata

Menteri Agama meminta biro travel umrah fokus kepada penyelenggaraan ibadah dalam memberangkatkan jemaah. Lukman menyatakan umrah bukanlah wisata.

"Umrah wisata atau ibadah? Beda dengan tur Eropa, Amerika, umrah perjalanan ibadah, bukan wisata," tegas Lukman.

Dia meminta semua biro travel harus berbasis syariah. Dia menegaskan biro travel umrah tak boleh memutar uang calon jemaah ke bisnis lain.

Selain itu, Lukman menyatakan Kementerian Agama akan mengawasi biro travel umrah lewat Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Penyelenggaraan Ibadah Umrah. Langkah ini agar tak ada lagi kasus penipuan ke depannya.

"Setiap jemaah umrah harus mengetahui pakai maskapai penerbangan apa. Setiap PPIU (biro travel) harus transit minimal 1 tempat saja. Tidak boleh ke Kuala Lumpur dulu, Kolombo, Afrika, nggak jelas karena menggunakan harga paling murah maskapai," ujar Lukman.

Lukman menegaskan setiap biro travel umrah juga wajib memberangkatkan calon jemaah tanpa menunda pelaksanaannya. Ada batas waktu yang ditetapkan Kementerian Agama terkait waktu pemberangkatan jemaah.

"Di Peraturan Menteri Agama, pemberangkatannya selambat-lambatnya 6 bulan sejak mendaftarkan diri harus diberangkatkan dan 3 bulan setelah melunasi, diberangkatkan. Tak boleh ada penelantaran," ucapnya.

Biro travel, disebut Lukman, mesti memastikan semua hal terkait keberangkatan calon jemaah mereka. Semua hal itu termasuk soal penginapan. "Hotel, pelayanan satu kamar berapa orang, makanannya," ucap Lukman.

Andai biro travel tak mematuhi Peraturan Menteri Agama, sanksi menanti. "Kalau ada yang tidak sesuai, kami beri sanksi sesuai gradasi tingkatan kesalahannya," jelas dia. (Detiknews)

Tags

Mar 28, 2018 09:56 Asia/Jakarta
Komentar