Sejumlah tema yang dibahas dalam edisi Dinamika Asia Tenggara 6 Agustus 2018; Gempa susulan 6,2 SR guncang Lombok, ASEAN Diklaim Ingin Kurangi Pengaruh Cina di Laut Cina Selatan, Enam orang tewas dalam serangan bom mobil di Filipina, Banjir di Myanmar paksa 100.000 warga mengungsi dan ASEAN Tolak Perang Dingin Baru di Kawasan Asia-Pasifik.

Wilayah Lombok yang belum pulih akibat gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) pada 29 Juli dan gempa 7,0 SR pada 5 Agustus, kembali diguncang gempa bumi susulan dengan kekuatan 6,2 SR pada Kamis pukul 12.25 Wita. Menurut siaran informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi susulan tersebut berpusat di darat, enam kilometer barat laut Kabupaten Lombok Utara, pada kedalaman 12 kilometer.

Gempa susulan tersebut menimbulkan kepanikan di Rumah Sakit Lapangan Tanjung, Posko Induk Bencana Gempa Kabupaten Lombok Utara, dan menyebabkan bagian tembok markas Koramil Tanjung yang dijadikan dapur umum roboh. Gempa tersebut dirasakan dengan intensitas VI MMI di Lombok Utara, V MMI di Mataram, II-IV MMI di Klungkung, IV MMI di Denpasar, III MMI di Sumbawa dam II-III MMI di Tabanan menurut BMKG.

Getaran gempa dengan intensitas II menurut Skala Mercalli (Modified Mercalli Intensity/MMI) dirasakan oleh beberapa orang dan membuat benda-benda yang digantung bergoyang, dan III MMI dirasakan nyata seperti ada truk berlalu.

Sementara gempa dengan intensitas IV MMI menyebabkan gerabah pecah dan jendela-pintu berderik, dan getaran pada V MMI getaran dirasakan hampir semua penduduk, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, dan barang besar begoyang.

Gempa Lombok

File suara.....

Sebuah koran terbitan Hong Kong mengklaim, ASEAN ingin mereduksi pengaruh Cina di Laut Cina Selatan. Terkait hal ini Koran Morning Post cetakan Hong Kong Jumat lalu mengklaim, tujuan negara-negara anggota ASEAN di sidang mereka di Singapura adalah memperkokoh hubungan militer dan maritim untuk melawan pengaruh Cina di Laut Cina Selatan, oleh karena itu mereka ingin membentuk sebuah pakta non militer dengan negara tersebut.

Morning Post menulis, negara anggota ASEAN meyakini bahwa mereka mampu melawan Cina di Laut Cina Selatan dengan memanfaatkan unit patroli lautnya, dengan demikian mereka ingin membentuk hubungan non militer dengan memanfaatkan patroli laut untuk meraih tujuan mereka.

Menurut Morning Post, ASEAN mampu melawan berbagai ancaman seperti terorisme, penyelundupan laut, dan penangkapan ikan ilegal tanpa bantuan angkatan laut Cina. Ketika koran ini melaporkan upaya anggota ASEAN menjalin hubungan militar dan maritim untuk melawan pengaruh Beijing, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi menekankan hasil sidang tingkat menlu ASEAN di Singapura kali ini menguntungkan semua pihak.

Sidang antara menlu Cina dan menlu anggota ASEAN digelar Kamis lalu di Singapura. Realitanya adalah sejumlah anggota ASEAN seperti Vietnam dan Filipina memiliki friksi tajam dengan Cina terkait kepemilikan pulau di Laut Cina Selatan. Mereka juga ingin mengangkat kasus ini menjadi isu internasional dan mengadukan Cina ke pengadilan internasional. Di sisi lain, Thailand dan Filipina termasuk sekutu Amerika yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Washington.

ASEAN dan Laut Cina Selatan

Bom mobil dengan kekuatan besar yang diduga dipasang di satu kendaraan meledak pada Selasa di Pulau Basilan, Filipina Selatan, sehingga menewaskan enam orang --termasuk seorang tentara dan empat anggota milisi. Satu laporan militer mengatakan serangan tersebut terjadi pada pukul 05.50 waktu setempat di satu desa di Kota Lamitan, Basilan, provinsi pulau di lepas pantai Mindanao.

Laporan mengenai ledakan itu menyebutkan "satu mobil berwarna putih" meledak di pos pemeriksaan militer di Desa Colonia di Kota Lamitan. "Saat tentara melakukan pemeriksaan, van tersebut tiba-tiba meledak sehingga menewaskan seorang prajurit dan empat (anggota milisi) serta melukai dua anggota militer lagi," kata laporan itu seperti dikutip Xinhua.

Militer menyatakan militan Abu Sayyaf diduga berada di belakang serangan tersebut. Kelompok Abu Sayyaf adalah kelompok kecil yang melakukan kekerasan yang beroperasi di pinggir barat Pulau Mindanao di Filipina Selatan serta di Kepulauan Sulu --yang membentang dari Mindanao. Mereka memiliki nama buruk karena melakukan pemboman di Filipina Selatan.

Kelompok itu telah berjanji setia kepada Daesh (ISIS) dan telah melakukan penculikan untuk minta tebusan baik orang Filipina maupun warga negara asing. Pemerintah menyatakan kelompok tersebut, yang didirikan pada 1990-an, diduga menawan sejumlah sandera di hutan Basilan dan Sulu, kubu mereka. Abu Sayyaf membantu kelompok teroris Maute dalam menyerang Kota Marawi pada Mei tahun lalu, sehingga menyulut pertempuran sengit selama lima bulan sehingga menewaskan lebih dari 1.200 orang.

Kelompok teroris Abu Sayyaf

Banjir pada musim hujan di Myanmar telah menewaskan sedikitnya 11 orang dan memaksa lebih dari 100.000 orang mengungsi, kata otoritas setempat pada Senin. Hujan besar menyapu kawasan selatan, timur, dan tengah di Myanmar sejak pekan lalu sehingga memutus sejumlah akses jalan besar, merusak beberapa jembatan, dan membanjiri banyak wilayah, lapor Reuters.

Nway Nway Soe, asisten direktur departemen penanganan bencana Myanmar, mengatakan bahwa 11 orang telah tewas, termasuk tiga tentara yang hilang saat menyalurkan bantuan pada pekan lalu. "Hingga saat ini sudah ada 11 orang yang kehilangan nyawa," kata dia.

"Lebih dari 119.000 orang harus meninggalkan rumahnya. Departemen penanganan bencana kini telah memberikan bantuan beras dan makanan kering lain seperti mi instan dan ikan kaleng kepada para korban," kata dia. Pada Senin, tiga orang tewas tenggelam di negara bagian Mon, kata Menteri Kesejahteraan Sosial Win Myat Aye kepada Reuters.

Pemerintah Myanmar sudah meminta para warga untuk meninggalkan wilayah daratan rendah dan membangun sejumlah tempat penampungan. "Kami sedang berupaya menyadarkan warga yang berpikir bahwa banjir akan surut dalam tiga atau empat hari. Mereka harus lebih berhati-hati," kata Win Myat Aye.

Hujan besar menghanyutkan sebuah bagian dari jembatan beton sepanjang 60 meter di negara bagian Shan. Sementara itu negara bagian Kayin, sawah dan jalanan menderita kerusakan besar, demikian kantor berita setempat melaporkan. Gambar-gambar di media sosial menunjukkan lumpur coklat menenggelamkan sebuah pemukiman, sementara para warga berupaya keluar dari air setinggi dada.

Banjir di Myanmar

Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan mengatakan ASEAN tidak akan membiarkan pecahnya sebuah Perang Dingin baru di Asia. Seperti dilansir Sputniknews, Vivian dalam konferensi pers setelah penutupan pertemuan para menlu ASEAN, Sabtu (4/8/2018) menambahkan, ASEAN tidak akan membiarkan pecahnya sebuah Perang Dingin baru antara adidaya di kawasan Asia-Pasifik.

Mengacu pada kemampuan militer Amerika Serikat dan Cina serta kehadiran mereka di Asia-Pasifik, menlu Singapura menuturkan ASEAN akan melakukan segala upaya untuk mencegah Perang Dingin baru di kawasan ini. "ASEAN memainkan peran penting di kawasan ini dengan mempertahankan dan memperkuat nilai-nilai bersama di antara para anggotanya," ujarnya.

Vivian mengungkapkan,"Singapura telah menyampaikan keprihatinannya kepada AS dan Cina tentang ketegangan perdagangan yang meningkat antara kedua kekuatan itu."  Negara-negara anggota ASEAN menyatakan kekhawatiran atas dampak buruk perang dagang antara AS dan Cina.

Kekhawatiran tentang dampak perang dagang dan kebijakan proteksionisme adalah salah satu isu yang dibahas oleh para menlu ASEAN selama pertemuan mereka di Singapura.

Tags

Aug 13, 2018 02:39 Asia/Jakarta
Komentar