Sejumlah tema yang dibahas dalam edisi Dinamika Asia Tenggara 6 Agustus 2018; Presiden Jokowi Minta Pemuda tidak Takut Bersaing, Myanmar Bunuh Lebih dari 24.000 Muslim Rohingya, Presiden Duterte Sebut Senjata AS tidak Berguna bagi Filipina dan PM Malaysia: AS Terisolasi Setelah Tinggalkan JCPOA

Presiden RI Joko Widodo berharap kepada pemuda-pemuda Indonesia untuk tidak takut bersaing dan berani ambil risiko bisnis dalam menghadapi revolusi industri 4.0. "Jangan takut bersaing anak-anak muda, kita tidak akan kalah bersaing, asal peluang dibuka, opportunity itu," kata Presiden saat membuka acara Young on Top National Conference 2018 di Jakarta, Sabtu (25/8/2018), seperti dilaporkan kantor berita Antara.

Pada kesempatan itu, kepala negara meminta para peserta Young on Top National Conference 2018 bisa melakukan survei kecil-kecilan untuk membuka peluang bisnis. Dia menambahkan, "Survei kecil-kecilan harus ilmiah. Disurvei betul-betul, sehingga kita punya kalkulasi, perhitungan-perhitungan baik dalam menentukan lokasi, baik dalam menentukan jenis bisnis yang akan kita kerjakan."

Image Caption

Kepala Negara juga mengatakan para peserta yang hadir untuk tidak takut mengambil risiko dalam menjalankan bisnis. Jokowi menuturkan, "Jangan takut yang namanya risiko, kalau tidak berani mengambil risiko jangan masuk ke dunia bisnis. Saya sudah merasakan namanya jatuh-bangun, bangun-jatuh, di bolak-balik enggak sekali dua kali dan biasa bahwa ada risiko untung, ada risiko rugi."

Untuk itu, lanjutnya, dirinya telah meminta  perusahaan berbasis teknologi, seperti Plug and Play untuk membangun ekosistem di Indonesia agar memiliki inkubator dalam melepas startup (pebisnis pemula) semakin banyak. Presiden ingin mendorong lebih banyak startup muda, seperti Tokopedia milik William Tanuwijaya, Bukalapak milik Ahmad Zaki, yang memulai pada umur 32 tahun, Go-jek milik Nadiem Makarim yang juga berumur 34 tahun.

Dalam hal ini, Presiden memberi nasihat bahwa jika membuka bisnis itu harus fokus, jangan sering berganti-ganti. Jokowi juga mengingatkan kepada generasi muda bahwa perubahan dunia saat ini begitu cepat. Apalagi sekarang sudah masuk era Revolusi Industri 4.0, yang diperkirakan 3.000 lebih cepat daripada revolusi industri sebelumnya.

Temuan baru yang dirilis oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario menyebutkan bahwa lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar sejak Agustus 2017. Lebih dari 34.000 Muslim Rohingya dilemparkan ke dalam api dan lebih dari 114.000 lainnya dipukuli. Demikian dilaporkan Farsnews, Ahad (19/8/2018).

Badan Pembangunan Internasional Ontario juga menyatakan bahwa tentara Myanmar telah memperkosa 17.718 wanita dan gadis Rohingya, dan polisi secara sistematis menargetkan kelompok yang paling teraniaya di dunia ini. Lebih dari 115.000 rumah-rumah Muslim Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dihancurkan. Temuan ini telah menyingkap tingkat brutalitas tentara Myanmar dan perlakuan tidak manusiawi mereka terhadap minoritas Rohingya.

Muslim Rohingya

Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 Muslim Rohingya – sebagian besar anak-anak dan perempuan – melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap mereka. PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh tentara Myanmar.

PBB mengatakan ratusan ribu anak-anak Muslim Rohingya tidak memiliki pendidikan yang layak baik di Myanmar maupun kamp-kamp pengungsian di Bangladesh, dan memperingatkan bahwa anak-anak Myanmar bisa menjadi "generasi yang hilang." Dana Anak-anak PBB (UNICEF) pada hari Kamis (23/8/2018) memberi penilaian suram mengenai prospek anak-anak Rohingya di kedua sisi perbatasan Myanmar-Bangladesh, dan mengatakan pengungsi yang melarikan diri dari Myanmar dan memasuki Bangladesh menghadapi risiko, termasuk penyakit dan banjir.

"Kami berbicara tentang kehilangan atau potensi hilangnya generasi anak-anak Rohingya. Ini bukan hanya setengah juta anak-anak atau lebih di perbatasan Bangladesh, tetapi juga mereka yang masih tertinggal di negara bagian Rakhine, di mana aksesnya untuk pendidikan tidak merata dan sangat terbatas," kata juru bicara UNICEF, Simon Ingram pada konferensi pers di Jenewa.

PBB menyatakan bahwa kondisi di Rakhine tetap tidak aman dan prospek pemulangan pengungsi Muslim Rohingya dari Bangladesh ke Myanmar dalam waktu dekat tetap suram, meskipun perjanjian repatriasi sukarela ditandatangani antara Myanmar dan Bangladesh pada Juni lalu.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan Amerika Serikat sedang mengejar pembicaraan untuk pengadaan peralatan militer dengan Filipina di tengah rencana Manila untuk membeli senjata dari Rusia. Berbicara di sebuah acara militer di kota Davao pada hari Kamis (23/8/2018), Duterte menuturkan bahwa dia telah menerima surat yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Menteri Perdagangan Wilbur Ross dan Menteri Pertahanan James Mattis.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Surat itu, katanya, mendesak Manila untuk membeli helikopter tempur Bell dan pesawat Cessna dari sebuah perusahaan Amerika. Padahal, kata Duterte, apa yang dibutuhkan negaranya adalah helikopter serbu dan pesawat kecil untuk operasi kontra-terorisme. Dia menegaskan peralatan militer Amerika tidak digunakan untuk negaranya, dan Filipina tidak lagi akan menerima senjata bekas dari AS.

Presiden Filipina menandaskan, "Yang saya butuhkan hanyalah pesawat yang digerakkan oleh baling-baling untuk anti-pemberontakan. Kami tidak membutuhkan F-16 dan mereka memamerkan itu di depan kami setelah mereka menghina kami."

Pekan lalu, seorang pejabat senior Pentagon mengunjungi Filipina dan memberi saran kepada Manila agar tidak membeli persenjataan buatan Rusia. Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Keamanan Asia-Pasifik, Randall Schriver mengatakan Washington dapat menjadi mitra yang lebih baik daripada yang bisa dilakukan oleh Moskow ke Manila.

Duterte lebih lanjut mengatakan tidak ada jaminan bahwa dia bisa mendapatkan apa yang sudah dibeli dari Washington. “Buktikan dulu bahwa Anda benar-benar memiliki keyakinan yang baik,” ujarnya dengan mengatakan bahwa anggota parlemen AS dapat memblokir pasokan senjata ke Filipina kapan pun mereka mau.

AS telah lama menjadi pemasok utama peralatan militer ke Filipina. Duterte telah membatalkan kesepakatan untuk membeli senapan serbu dari AS dua tahun lalu, ketika beberapa anggota parlemen AS berkampanye untuk memblokir penjualan senjata dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia di Filipina. Filipina di bawah Presiden Duterte, telah menjalin hubungan perdagangan dan pertahanan yang lebih erat dengan Rusia dan Cina.

Pekan lalu, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan, Amerika Serikat telah terisolasi setelah secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir yang ditandatangani antara Iran dan enam kekuatan dunia pada tahun 2015. Menurutnya, AS telah melakukan kesalahan dengan menarik diri dari kesepakatan nuklir dan menjadi terisolasi, karena Uni Eropa bekerja untuk mempertahankan kesepakatan.

PM Malaysia menambahkan, "Langkah-langkah Presiden AS Donald Trump untuk keluar secara sepihak dari JCPOA, telah melemahkan peran AS di tingkat internasional dan kemungkinan untuk kembali berkuasanya Trump di Gedung Putih sangat kecil." Mahathir juga menegaskan kembali pendiriannya bahwa akan sulit untuk bekerja dengan seseorang seperti Trump.

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad

Mahathir menuturkan, "Saya memang memberi tahu pers ketika ditanya tentang Trump bahwa sulit untuk bekerja dengan seorang pria yang mengubah pendiriannya dalam 24 jam sebanyak tiga kali." Dia menambahkan, "Saya pikir Trump mungkin kalah dalam masa jabatan kedua, dan akibatnya sebagian besar kebijakannya akan dihapus, karena dia telah menghapus kebijakan presiden sebelumnya."

Pemerintah Malaysia mendukung kesepakatan nuklir antara Iran dan kekuatan dunia yang dikenal sebagai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Menurut Malaysia, semua negara harus mematuhi prinsip-prinsip mendasar yang terkait dengan penggunaan energi nuklir damai dan menyambut JCPOA sebagai perkembangan penting dalam upaya untuk mempromosikan perdamaian, keamanan dan stabilitas di dunia.

Tags

Aug 27, 2018 17:43 Asia/Jakarta
Komentar