• Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
    Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Pemanfaatan nuklir telah banyak dilakukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya saja di bidang kedokteran dan pertanian.

Namun, pemanfaatan nuklir di sektor tenaga kelistrikan masih dianggap hal baru dan menakutkan karena berbagai kejadian yang menimpa pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di beberapa negara.

Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis mengatakan perlu ada peta jalan (road map) pemanfaatan energi nuklir di Indonesia.

"Jangankan di masyarakat umum, para ahli nuklir pun masih belum tentu sama pendapatnya. Jadi perlu ada road map sampai kapan batu bara digunakan dan kapan nuklir ini mulai digunakan," ujarnya di Moskow, Rusia, Kamis, 6 September 2018.

Ia melihat bahwa pemanfaatan energi nuklir untuk listrik dapat masuk kelompok penggunaan energi baru dan terbarukan yang sedang dijalankan pemerintah.

Sebagai informasi, saat ini pemanfaatan tenaga nuklir masih berada dalam urutan terakhir dalam kebijakan energi nasional. Akan tetapi, belum ada keterangan lebih lanjut kapan pemanfaatannya dilaksanakan.

Rektor Universitas Gadjah Mada, Panut Mulyono juga sependapat bahwa penyiapan road map mutlak diperlukan. Dengan demikian, tahapannya akan lebih jelas.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan isu terkait dengan pemanfaatan nuklir untuk listrik tidak hanya melulu soal teknologi. Masih banyak aspek lain yang perlu diperhatikan, seperti soal harga, pembiayaan, dan penerimaan masyarakat.

"Kalau soal teknologi pasti sudah lebih baik dan aman. Tapi masih perlu dipertimbangkan dari sisi biaya, sumber daya, dan keberlanjutannya. Apalagi saat ini di beberapa negara telah ada juga yang membatalkan rencana pembangunan PLTN," ujar Fabby.

Dalam kunjungan ke National Research Nuclear University Moscow (Mephi) terungkap bahwa penggunaan nuklir dalam kehidupan sehari-hari makin terus dikembangkan. Banyak pihak tidak menyadari manfaat besar penggunaan dari teknologi nuklir dan takut menggunakannya karena masih mengasosiakan nuklir sebagai bahan berbahaya. Padahal pemanfaatan nuklir untuk tujuan kemanusiaan telah banyak dilakukan.

Wakil Rektor Mephi Tatiana Leonova mengatakan pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan universitas di Indonesia demi penyiapan sumber daya manusia dalam mengelola teknologi nuklir.

PLTN Dipertimbangkan Jadi Sumber Listrik

Ketersediaan dan harga listrik menjadi faktor penentu untuk menarik investasi masuk ke suatu negara. Bank Dunia bahkan memasukkan kemudahan memperoleh listrik sebagai salah satu komponen dalam menghitung peringkat kemudahan berusaha di suatu negara.

Berdasarkan survei Bank Dunia 2018, peringkat Indonesia dalam mengakses listrik berada di urutan ke-38 dari sebelumnya ke-49.

Saat ini tarif listrik Indonesia masih cukup kompetitif jika dibandingkan dengan negara lainnya di Asia Tenggara. Untuk listrik industri, harga listrik di Indonesia hanya kalah dari Vietnam.

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Amir Rosidin menyampaikan PLN akan terus meningkatkan efisiensi pembangkit guna membuat tarif listrik di Indonesia tetap kompetitif.

"Namun, kami tetap hati-hati dengan Vietnam agar posisi kita tetap terjaga sebab mereka juga pasti berusaha untuk membuat tarif listrik lebih kompetitif lagi," kata Amir di Moskow, Rusia.

Apalagi saat ini Vietnam telah memiliki rencana untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Bila hal itu terealisasi, harga listrik di Vietnam akan lebih murah lagi.

Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Wahid Supriyadi mengatakan Indonesia sudah saatnya menjadikan PLTN sebagai alternatif sumber penyedia listrik di Indonesia. Apalagi harganya lebih murah jika dibandingkan dengan pembangkit listrik lain yang menggunakan batu bara.

"Harga listrik dari pembangkit nuklir sekitar 4-5 sen per dolar AS. Jadi lebih murah daripada energi lainnya," tutur Wahid.

Kepala Pusat Kajian Energi Universitas Indonesia, Iwa Garniwa menerangkan teknologi PLTN saat ini telah memasuki generasi keempat. Adapun PLTN yang sering mengalami kecelakaan atau kebocoran merupakan generasi pertama dan kedua. (Metrotvnews)

Sep 07, 2018 13:39 Asia/Jakarta
Komentar