• PT Dirgantara Indonesia (DI).
    PT Dirgantara Indonesia (DI).

Beberapa pesawat dipamerkan di dalam Hanggar Rotary Wing PT Dirgantara Indonesia (DI) di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jawa Barat. Pesawat-pesawat itu merupakan hasil karya putra bangsa yang mampu bersaing di bisnis internasional.

Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro optimistis pesawat karya bangsa mampu bersaing di dunia internasional. Bahkan, PT DI telah mengekspor puluhan pesawat.

"Dalam kancah internasional, PT DI telah diakui dunia. Selama 42 tahun, kita telah ekspor 48 pesawat ke beberapa negara. Tahun ini tiga pesawat ke Vietnam dan dua pesawat ke Filipina. Sebentar lagi delivered dua pesawat ke Thailand," kata Elfien dalam acara penutupan rangkaian kegiatan hari ulang tahun ke-42 PT DI, Rabu 12 September 2018.

Elfien mengatakan akan terus menciptakan karya dan mempromosikannya, salah satunya CN 235. Proses seluruh pembuatan pesawat tersebut dilakukan di Bandung. Bahkan beberapa negara telah menggunakan pesawat terbang jenis CN 235 dan sebagian besar dibuat langsung di Bandung.

"Di acara puncak ini kami ingin memberikan apresiasi kepada insan-insan terbaik yang memberikan kontribusi untuk kemajuan PT DI," ujar Elfien.

Indonesia Disebut Bisa Tiru Korsel untuk Kembangkan Industri

Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Korea Selatan (Korsel) semakin mempererat hubungan kerja sama ekonomi antara kedua negara. Dalam hal ini, Indonesia bisa mengambil contoh dari Korsel dalam melakukan penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D) di bidang industri.

Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEB UI Kiki Verico menyambut baik komitmen kerja sama yang telah tercipta antara Indonesia dengan Korea Selatan. "Tentu saja komitmen ini berdampak sangat besar karena Korea Selatan adalah negara yang sangat maju dari sisi R&D," kata Kiki, seperti dikutip dari MetroTV.

Kiki mengatakan R&D yang dilakukan Negeri Gingseng tersebut merupakan yang terbesar di dunia dengan persentase empat persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di atas Amerika Serikat dan Tiongkok yang sebesar dua persen serta Jepang tiga persen.

Menurut Kiki, enam komitmen investasi yang diteken pun sangat berkaitan dengan revolusi industri 4.0 yang juga sedang digaungkan oleh Indonesia.

"Korea Selatan adalah contoh yang cukup tepat untuk Indonesia mengembangkan industri dan ekonomi terkait di 10-20 tahun ke depan," jelas Kiki.

Sebelumnya sejumlah industri manufaktur Korea Selatan dari berbagai sektor menyatakan minatnya untuk segera menanamkan modalnya di Indonesia. Komitmen investasi ini merupakan hasil dari Indonesia-Korea Business and Investment Forum 2018 sekaligus peringatan hubungan diplomatik kedua negara yang telah terjalin baik selama 45 tahun.

Ada enam perusahaan yang telah komit berinvestasi yakni LS Cable System yang bermitra dengan PT Artha Metal Sinergi untuk pengembangan industri kabel listrik senilai USD50 juta di Karawang, Jawa Barat. Kemudian Parkland menggelontorkan dana USD75 juta guna membangun industri alas kaki di Pati Jawa Tengah, dan Sae-A Trading menanamkan modalnya hingga USD36 juta untuk sektor tekstil dan garmen di Tegal, Jawa Tengah.

Selanjutnya, Taekwang Industrial akan membangun industri alas kaki senilai USD100 juta di Subang dan Bandung, Jawa Barat. Selain itu, World Power Tech dengan mitra lokalnya PT NW Industries berinvestasi sebesar USD85 juta untuk pengembangan industri manufaktur turbin dan boiler di Bekasi, Jawa Barat, serta InterVest dengan Kejora Ventures yang menamamkan modalnya USD100 juta untuk jasa pembiayaan startup di DKI Jakarta. Sehingga total investasi mencapai USD446 juta. (Metro TV)

Tags

Sep 12, 2018 13:02 Asia/Jakarta
Komentar