• Wamenlu AM Fachir
    Wamenlu AM Fachir

Pemerintah Indonesia menyampaikan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Singapura mengenai kasus penjualan secara daring sejumlah pembantu rumah tangga yang diduga berasal dari Indonesia.

Pemerintah Indonesia meminta perhatian serius dari Pemerintah Singapura agar kasus penjualan tenaga pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia secara online tidak terulang lagi.

"Yang jelas kami sudah sampaikan, kami sudah komunikasikan kepada Kementerian Ketenagakerjaan Singapura dan mereka sudah melakukan investigasi," kata Wamenlu AM Fachir di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, dilansir situs Antara.

Wamenlu juga menyebutkan pada Senin ini Kedutaan RI di Singapura menyampaikan nota diplomatik kepada Kemenlu Singapura.

Ia menyebutkan kasus penjualan tenaga kerja itu tidak hanya terhadap WNI saja tetapi juga warga negara lain dan Indonesia yang pertama kali menyampaikan protes.

Ketika ditanya kapan ada balasan dari nota diplomatik itu, Wamenlu mengatakan belum tahu. "Tapi dari Ministry Manpower sudah melakukan investigasi, sedang diselidiki," katanya.

Sebelumnya diberitakan Kementerian Tenaga Kerja Singapura kini tengah menyelidiki kasus penjualan sejumlah pembantu rumah tangga yang diduga dari Indonesia di salah satu situs niaga.

Melalui pernyataan di Facebook, kementerian tersebut mengaku "menyadari adanya kasus sejumlah pekerja rumah tangga dari luar negeri dipasarkan secara tidak patut".

"Kami tengah menyelidiki kasus ini, dan telah mengatur agar penawaran ini dicabut," sebut Kementerian Tenaga Kerja Singapura.

Surat kabar melaporkan bahwa penawaran itu diunggah pengguna bernama @maid.recruitment. Di dalamnya, terdapat beragam wajah sejumlah pembantu rumah tangga yang diduga berasal dari Indonesia.

Situs Republika hari Senin (17/9) melaporkan, Migrant Care mengutuk keras adanya tenaga kerja wanita (TKW) yang diperjualbelikan secara online melalui sebuah situs di Singapura. Kejadian ini amat disayangkan karena untuk kesekian kali kejadian serupa menimpa para TKW Indonesia.

Bendera Singapura

 

"Kami menuntut adanya tindakan hukum atas penayangan penjualan pekerja migran Indonesia di situs Carousell," kata Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo melalui siaran pers, Ahad (16/9).

Menurut Wahyu, tuntutan hukum harus dilakukan karena kejadian tersebut sering kali menimpa TKW asal Indonesia. Dengan melakukan upaya hukum besar diharapkan akan membuat jera para pelaku yang mencoba bermain-main dengan para TKW Indonesia.

Dulu, ungkap Wahyu, para TKW tersebut dengan sengaja dipertontonkan di gerai-gerai di Singapura. Tentu saja, menurutnya, apa yang dilakukan pelaku ini sangat merendahkan martabat TKW asal Indonesia. "Ini sangat tidak adil dan merendahkan martabat PRT migran Indonesia," jelasnya.

Bukan saja di Singapura, lanjut Wahyu, di Malaysia pun TKW Indonesia diperlakukan sama. Para TKW tersebut diiklankan secara masif kemudian dipasang dan ditempel di jalan-jalan. "Di Malaysia, pernah ada iklan masif yang tertempel di jalan-jalan Kuala Lumpur bertuliskan 'Indonesia Maid on Sale'," terang dia.

Oleh karena itu, sambung Wahyu, ketika kejadian serupa kembali menimpa para TKW Indonesia, pihaknya sangat mengecam keras. "Migrant Care mengecam keras eksploitasi yang sudah memperbudak manusia dan menuntut adanya tindakan hukum para pelakunya," kata dia.

Wahyu juga meminta agar ke depan harus ada standar dan code of conduct dalam memberikan informasi mengenai lowongan kerja. Serta untuk mempekerjakan PRT migran Indonesia harus dengan syarat-syarat hak asasi manusia.(Antara/Republika/PH)

 

Tags

Sep 17, 2018 13:52 Asia/Jakarta
Komentar