• Rahbar Ayatullah Al-Uzhma Sayid Ali Khamenei
    Rahbar Ayatullah Al-Uzhma Sayid Ali Khamenei

Akhlak Fathimah Zahra as dengan para wanita lain, dengan orang-orang bawahannya dan bahkan dengan pembantunya sendiri, sebagai ibu rumah tangga, sebagai istri, sebagai wanita mudah yang sudah menikah dan berkeluarga, sebagai wanita yang suaminya adalah salah satu pasukan yang senantiasa siap.

---

Coba kalian bagi; tiga puluh pertempuran perang yang dihadiri oleh Amirul Mukminin as dalam sepuluh tahun. Setiap tahun tiga peperangan. Seorang pasukan yang dalam setahun minimal tiga kali ikut perang dan terluka atau mendekati kematian. Wanita ini adalah istrinya seorang pasukan seperti ini. Dalam sejarah satu kalipun kita tidak pernah menemukan dan membaca serta mendengar tentang kondisi Fathimah Zahra as menyumpekkan. Bahkan dalam kehidupannya beliau tidak pernah kelihatan kalau suaminya itu tidak ada di sampingnya. Suaminya senantiasa dalam safar. Suaminya dalam safar perang yang membahayakan yang kemungkinaan setiap saat jenazahnya dibawa pulang atau dikabarkan bahwa suaminya meninggal dunia. (dalam seminar peran wanita di tengah-tengah masyarakat, di universitas Tarbiyat Moallem, 10/24/1364)

Senantiasa Membantu Suaminya

Wanita besar ini, dalam kehidupan rumah tangganya sekitar selama sembilan tahun, tidak pernah meski sekali saja menjalani hidupnya dengan nyaman seperti wanita-wanita lainnya. Selama itu suaminya yang masih muda yakni Ali bin Abi Thalib as senantiasa dalam kancah bahaya, di medan peperangan, berada di front terdepan dan menghadapi bahaya besar. Sekali saja, Fathimah Zahra as tidak pernah mengatakan kepada suami tercintanya mengapa engkau tidak mengurusi rumah. Beliau senantiasa membantunya,  senantiasa menyemangatinya dan senantiasa berada di sisinya. (dalam khutbah salat Jumat, 4/11/1364)

Membarengi Suami Menjalani Tujuan

Nilai pengorbanan di jalan Allah. Suaminya yang masih muda yang sangat dicintainya, selama sepuluh tahun; kira-kira Sembilan sampai sepuluh tahun sebagai suami istri sampai akhir usianya Sayidah Fathimah; selama sepuluh tahun itu berkali-kali pergi perang. Mungkin bisa dikatakan bahwa lelaki muda ini ikut perang sekitar enam puluh sampai tujuh puluh perang yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam beberapa tahun itu, kecuali hanya beberapa saja. Yakni senantiasa dalam perang. Sebagaimana istilahnya orang-orang sekarang, suami yang masih muda ini senantiasa dalam perang. Begitu kembali, perang lainnya dimulai. Dia lagi orang yang pertama pergi. Dialah yang pertama mencalonkan diri. Sekali saja tidak pernah terjadi ibu ini mengatakan kepada suaminya bahwa kali ini anda jangan pergi atau wajahnya cemberut menunjukkan tidak suka. Yakni suami ini adalah suami dia, namun suaminya, anak-anaknya dan ayahnya serta semua dunia untuk tujuan ini. Karena sebagai suaminya, maka jangan sampai dia tertinggal dari tujuannya. Dia juga harus bergerak mencapai tujuan itu. Inilah sebuah pengorbanan. (dalam pertemuan dengan para wanita, 21/12/1363)

Setia Dan Sehati Dengan Suami

Sayidah Fathimah as sebagai wanita pejuang Mekah. Sebagai putri Rasulullah Saw sikap beliau dengan para wanita lain, dengan orang-orang bawahannya, dan bahkan dengan pembantunya sendiri adalah sebagai pelajaran. Sebagai seorang ibu rumah tangga, dan sebagai seorang wanita muda yang sudah menikah dan suaminya sebagai pasukan yang senantiasa siaga, ikut sekitar dalam tiga puluh perang dan terluka di jalan ini, sampai mendekati kematian. Kita melihat bahwa sekali saja beliau tidak pernah ketakutan atau sedih. (dalam pertemuan dengan para wanita, 25/9/1371)  

Pekerjaan Sulit Rumah Di Samping Ibadahnya Yang Melelahkan

Wanita muda yang saat mencapai masih berusia delapan belas tahun ini, sedemikian rupa beribadah dan berdisi mengerjakan salat, sampai kakinya bengkak. Wanita ini, dengan posisinya ini, juga mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Melayani suami dan anak-anaknya juga beliau yang menanggung. Banyak hadis-hadis yang meriwayatkan tentang tangannya Fatimah as. (dalam pertemuan dengan para wanita, 25/9/1371)

Menaati Suami

Sekali waktu Imam Ali as terkait Fathimah as berkata, “Ma aghdhabtani wa la kharajta min amri... Wanita ini, selama masa berumah tangga, sekali saja tidak pernah membuatku marah, sekali saja tidak pernah menentang perintahku. Fathimah Zahra dengan keagungannya itu, di dalam lingkungan keluarga adalah seorang istri. (dalam pertemuan dengan para wanita, 25/9/1371)

Lingkungan Rumah Tangga Yang Terindah

Beliau adalah seorang istri yang tidak pernah membuat suaminya galau dan sedih. Lingkungan rumah tangganya adalah lingkungan rumah tangga yang terindah. Kasih saying suami istri ini pada batas yang paling tinggi. (dalam pertemuan dengan para wanita, 21/12/1363)

Peran Keibuan Fathimah Zahra as

Peran Pendidikan Sayidah Zahra as Dalam Rumah Tangga

Terkadang seseorang berpikir bahwa berbakti kepada suami yakni seseorang menyiapkan makanan di rumah dan di dapur, membersihkan rumah dan menghamparkan selimut dan seperti orang-orang dahulu meletakkan kasur kecil karena suami datang dari kantor atau toko. Berbakti kepada suami itu bukan hanya ini saja. Lihatlah bagaimana Fathimah Zahra as berbakti kepada suaminya. Selama sepuluh tahun Rasulullah Saw berada di Madinah, sekitar selama sembilan tahun Sayidah Zahra dan Amirul Mukminin as sebagai suami istri. Selama sembilan tahun ini, disebutkan ada terjadi perang kecil dan perang besar. Sekitar ada enam puluh perang yang terjadi. Kebanyakan dari perang itu ada Amirul Mukminin as. Coba lihat, beliau adalah seorang istri yang tinggal di rumah dan suaminya senantiasa ada di medan perang. Bila tidak berada di dalam perang maka perang itu akan pincang. Perang begitu membutuhkan keberadaannya. Dari sisi kehidupan juga tidak begitu lancar. Sebagaimana yang kita dengar:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا 

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّـهِ

Yakni pada hakikatnya mereka hidup secara murni dalam kemiskinan. Padahal beliau adalah putri seorang pemimpin. Putri seorang nabi. Juga memiliki rasa tanggung jawab. Lihatlah betapa manusia memerlukan kejiwaan yang kuat. Sehingga bisa membekali suaminya. Harus mengosongkan hatinya dari memikirkan keluarga dan kesulitan hidup. Menghiburnya. Mendidik anak-anaknya sebaik-baiknya sebagaimana yang sudah dididiknya. Sekarang kalian lihat bahwa Imam Hasan dan Imam Husein adalah seorang imam dan memiliki karakter kepemimpinan. Sementara Zainab bukan seorang imam. Sayidah Fathimah mendidiknya selama sembilan tahun itu. Sepeninggal Rasulullah Saw beliau juga tidak hidup lama. Menjadi ibu rumah tangga seperti itu, berbakti kepada suami seperti itu, dan sedemikian rupa menjadi nyonya rumah tangga serta menjadi poros kehidupan keluarga yang abadi dalam sejarah. Apa yang demikian ini tidak bisa menjadi teladan bagi seorang wanita muda, seorang ibu rumah tangga atau yang menguasai rumah tangga? Yang demikian ini sangat penting. (dalam pertemuan bersama para pemuda dalam rangka pekan pemuda, 7/2/1377) (Emi Nur Hayati)

Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan II, Olgou-ye Zan Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-Uzhma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami

Aug 10, 2017 18:25 Asia/Jakarta
Komentar