• Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Mohon jelaskan secara singkat tentang suasana hari-hari kedatangan Imam Khomeini dan pemerintahan Bakhtiar!

Setelah lima tahun, Imam Khomeini datang ke Iran dengan penuh kewibawaan luar biasa dan pada saat yang sama, semua hati merindukan pertemuan dengan beliau. Detik-detik sepuluh fajar kemenangan adalah sebuah kenangan; yang awalnya adalah kedatangan Imam Khomeini dan akhirnya adalah kemenenangan penuh mukjizat Revolusi Islam. Shah Pahlevi melarikan diri dari Iran, pada tanggal 26/10/1357 HS. Sementara teman dan musuh meyakini bahwa kondisinya sangat berbahaya.

Ketika Imam Khomeini di Paris, kondisi begitu negara kacau dimana Shah dan Bakhtiar berusaha jangan sampai ada gerakan dari pihak kita. Bahkan dalam beberapa waktu tidak satupun teman-teman kita tinggal di rumahnya sendiri, tapi mereka tinggal di persembunyian. Pada saat itu kami dan teman-teman lebih banyak tinggal di persembunyian dan rumah kami menjadi selalu menjadi sasaran. Karena para antek Shah datang menyerang dan mengobrak abrik. Sejak gerakan kebangkitan dan revolusi memuncak dan setiap hari ada demonstrasi, mulai dari masalah Hifdah Shahrivar dan gerakan setelahnya, semakin hari semakin jelas bahwa kemenangan sudah dekat. Namun dari sisi lain, kondisinya sangat berbahaya dan terasa ada bahaya besar.

Sebagaimana Imam Khomeini sebelum bergerak ke Paris, beliau memprediksi dan berkata:

“Akan ada ledakan besar di Iran.”

Ini benar-benar sebuah ledakan. Padahal rencananya Imam Khomeini akan datang dari Paris ke Tehran, sementara masyarakat tanpa senjata menghadapi pemerintahan dengan segala persenjataannya. Namun dalam kondisi masyarakat tidak punya senjata, bagaimana Imam Khomeini datang ke Iran? Karena itulah semua menilai kondisinya berbahaya, meski para sahabat Imam juga menganggap demikian. Saya masih ingat, pada waktu itu almarhum Agha Beheshti dan para pemuka masyarakat menilai bahwa tidak baik, Imam Khomeini datang ke Iran. Bahkan Imam Khomeini di Paris banyak ditelpon dari Iran bahwa Imam Khomeini sebaiknya jangan datang. Karena dari sisi persenjatan dan peralatan tidak ada di tangan untuk bisa menjaga Imam. Setelah kepergian Shah Pahlevi dari Iran, semua kekuatan setan di Paris secara langsung maupun tidak langsung mengusulkan kepada Imam Khomeini agar jangan datang ke Iran. Atau bila datang ke Iran, sebaiknya ditunda dulu. Tapi beliau berkata:

“Karena semua orang yang menginginkan kejelekan buat saya mengatakan, jangan pergi, maka saya tahu bahwa saya harus pergi.”

Imam Khomeini telah menentukan keputusannya. Pemerintahan Bakhtiar yang merupakan pemerintahan tangan besi, merasa bahwa dengan kedatangan Imam Khomeini, akan terjadi ledakan besar di tengah-tengah masyarakat dan persenjataan tidak akan bekerja serta tidak ada kekuatan apapun yang bisa menghalangi masyarakat. Mereka berusaha bagaimana caranya agar Imam Khomeini tidak datang ke Iran dan mereka mencari jalan keluarnya. Jalan satu-satunya yang tersisa bagi mereka adalah menutup bandara-bandara negara. Selama sepekan hal ini dilakukan, tapi Imam Khomeini menegaskan bahwa:

“Saat bandara dibuka, saya akan kembali ke Iran.”

Sampai ketika tiba malam tanggal dua belas, bulan Bahman. Para sahabat karib Imam Khomeini di Paris saling berlomba untuk datang ke Tehran bersama Imam dengan penerbangan revolusi. Orang-orang yang siap datang adalah mereka yang sudah menulis surat wasiat dan sudah memprediksi bahaya untuk dirinya. Bila terjadi sebuah peristiwa, maka mereka tidak akan lepas tangan dari Imam dan tetap mengabdi kepada beliau. Kondisinya demikian, Imam Khomeini datang bergerak ke Iran dengan penerbangan revolusi. Kita semua menyaksikan dan semua tahu bahwa sebelum kedatang Imam Khomeini, betapa ramainya di Iran. Suara teriakan jutaan penduduk begitu keras, “Celakalah Bakhtiar, bila Imam besok tidak datang. Senjata-senjata akan keluar”. Di hadapan teriakan masyarakat dan slogan-slogan yang disuarakan, tidak ada senjata dan artileri maupun tank yang bisa bertahan. Semua masyarakat menunggu dan bergerak menuju pusat-pusat yang bisa berkumpul di tempat yang luas. Misalnya di bunderan Azadi atau Behesht-e Zahra atau tempat-tempat yang bisa menampung banyak penduduk. Semuanya sudah disiapkan untuk kedatangan Imam Khomeini.

Salah satu sahabat Imam Khomeini menukil tentang detik-detik landingnya pesawat, “Ketika pandangan saya tertuju pada lapangan, dimana penerbangan revolusi landing di sana, dan Imam Khomeini harus turun, tiba-tiba saya membayangkan para polisi menyerbu ke arah pesawat dan saya yakin bahwa Imam Khomeini akan ditangkap dan semuanya telah selesai. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Saya melihat Agha Pasandideh, kakak Imam Khomeini masuk ke dalam pesawat. Saya tahu bahwa kondisinya tidak seperti yang kami bayangkan. Kondisinya adalah lain. Selain itu, sebagaimana sikap yang biasa dilakukan oleh Imam Khomeini terhadap saudaranya yang lebih tua, beliau berkata, Agha Pasandideh sebaiknya jalan lebih dahulu. Karena Imam Khomeini tidak pernah mendahului beliau. Agha Pasandideh juga tidak bisa jalan mendahului Imam. Imam Khomeini berkata:

“Untuk itu, Anda sebaiknya, lebih dahulu keluar dari pesawat. Kalau tidak, saya tidak akan berjalan lebih dahulu dari Anda.”

Dan Agha Pasandideh pun turun terlebih dahulu dari Imam Khomeini. Kemudian Imam bergerak dan kemudian Haj Ahmad Agha turun dari pesawat.

Ketika Imam Khomeini melewati anak-anak tangga pesawat, benar-benar seperti turunnya malaikat rahmat ilahi. Beliau menurunkan semua berkah ilahi dan ketinggian irfaninya dan kepribadian spiritualnya dalam kondisi menurun. Sebagaimana kata seorang arif, “Imam benar-benar turun ke bawah untuk menjadi pemimpin revolusi dan menyibukkan dirinya dengan tugas ini.” (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Sayid Mahdi Imam Jamarani; putra pemilik rumah yang ditempati oleh Imam Khomeini di Jamaran

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh

Sep 11, 2017 22:42 Asia/Jakarta
Komentar