• Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Mohon jelaskan bila ada kenangan yang Anda dengar dari Imam Khomeini ra!

Sikap, ucapan, perilaku dan semua ciri khas kejiwaan dan akhlak beliau bagi orang-orang yang memahaminya adalah teladan. Berulang kali saudara-saudara yang mulia telah menukil kenangan indah dan tak bisa dilupakan dari Imam Khomeini. Namun, saya akan menyampaikan satu poin dan merupakan salah satu kenangan yang paling istimewa dan sampai saat ini sudah disampaikan di hadapan beliau dan itu adalah kenangan tentang pesan beliau kepada para jemaah haji pada tahun 1366 HS.

Imam Khomeini setiap tahun menjelang musim haji selalu menyampaikan pesan untuk para jemaah haji. Pada tahun 1366 HS, ketika kami pergi haji mulai dari turun di Madinah sampai pawai di Madinah, kami rela dengan sikap dan perilaku pemerintahan dan para petugas Saudi dan kami tidak menyangka sama sekali pemerintah Saudi begitu menghormati Iran dan warga Iran dan prediksi semua panitia haji adalah “tahun ini kita akan menyaksikan salah satu manasik haji yang paling seru”

Ahmad Agha, putra Imam Khomeini mengatakan, ketika dia melihat mukadimah ayat yang digunakan di awal pesan haji, dia sangat takjub; mengapa Imam Khomeini mengajak para jemaah haji untuk menyongsong syahadah dan berhijrah seperti Imam Husein as?

Ahmad Agha mengatakan, “Ketika saya membaca pesan itu, sulit bagi saya untuk mempercayainya dan saya menunjukukkan pesan ini kepada Agha Anshari dan dia juga sependapat dengan saya.”

Setelah Agha Anshari menyampaikan pendapatnya, Ahmad Agha mengatakan, “Saya datang menemui Imam Khomeini dan saya katakan, Agha! Bukan hanya pendapat saya, tapi yang lainnya juga sama meyakini bahwa ayat yang dipakai sebagai mukadimah tidak ada hubungannya sama sekali dengan acara manasik haji.”

Imam Khomeini berkata:

“Segera sampaikan pesan ini kepada media umum dan para jemaah haji Iran.”

Ketika pesan ini disampaikan, saya dan Agha Karoubi membacakannya untuk semua panitia haji. Kami juga sangat takjub; apa hubungannya antara acara manasik haji dengan ayat “man yakhruj min baitihi muhajiran ilallahi wa rasulihi tsumma yudrikhul mautu faqad waqa’a ajruhu alallah”?

Kami menelpon ke rumah Imam Khomeini dari Madinah. Ahmad Agha berkata, “Saya juga telah menyampaikan masalah ini kepada Imam. Namun beliau mengatakan bahwa sampaikan pesan yang ada dengan ayat dan mukadimah ini.”

Pesan ini disampaikan pada tanggal satu Dzulhijjah dan tragedi berdarah Mekah terjadi pada tanggal enam Dzulhijjah dan masalah ini jauh-jauh telah menunjukkan irfan Imam Khomeini yang tinggi dan mukjizat beliau yang luar biasa.

Kenangan menarik lainnya adalah salah satu dari famili kami memiliki penyakit yang aneh. Bila mendengar suara tembakan, maka seluruh tubuhnya akan merasa gatal dan benar-benar ketakutan, kemudian muncul bintik-bintik yang melepuh di tubuhnya dan kondisinya sangat buruk. Pada malam ditembakkannya anti udara, ketika Imam Khomeini masuk ke dalam huseiniyeh, beliau melihat orang ini sangat ketakutan dan sedih. Imam Khomeini meletakkan tangannya di dada orang ini, seraya berkata, “jangan sedih.”

Orang ini mengatakan, “Ketika Imam Khomeini meletakkan tangannya di dada saya, rasa takut saya langsung hilang dan mulai dari saat itu sampai seterusnya, saya tidak lagi mengalami kondisi seperti ini dan dengan segala rudal dan bom, saya tidak lagi mengalami ketakutan ini. Ini karena berkat tangan Imam Khomeini.”

Mengenal semua sisi wujudnya Imam Khomeini tidak mungkin bagi seseorang. Beliau memiliki kewibawaan dan tuma’ninah yang istimewa dan pada saat yang sama sangat tawadhu. Seringnya beliau tidak banyak bicara. Beliau berusaha seperlunya untuk berbicara dan ucapannya benar-benar diperhitungkan dan teratur serta pendek.

Di luar acara pidato umum, beliau tidak banyak bicara dan lebih banyak berpikir dan kondisinya senantiasa dalam kondisi berpikir dan banyak memanfaatkan waktunya. Beliau sangat teratur dan detil dalam pekerjaan sehari-harinya.

Salah satu dari bapak-bapak pengurus keuangan Imam Khomeini dan setiap pagi harus mengerjakan tugasnya berkata, “Selama sembilan sampai sepuluh tahun Imam Khomeini tinggal di Jamaran, setiap hari pada jam tertentu beliau siap menyambut kami. Bila kondisinya tidak memungkinkan dan kami tidak hadir pada waktunya, maka Imam Khomeini akan memencet bel ruangan lima menit setelah waktu yang sudah ditentukan dan beliau memanggil kami untuk hadir.”

Pada pertemuan-pertemuan umum, terkadang setelah beliau siap, masih harus menunggu selama menit untuk sampai penuhnya orang-orang yang ingin bertemu dengan beliau bahkan sampai molor selama sepuluh menit. Beliau protes atas ketidakteraturan acara pertemuan ini dan berkata:

“Mengapa kalian memanggil saya ke ruangan pertemuan sebelum selesainya semua persiapan pertemuan?”

Atau dalam pertemuan dengan orang-orang dekat, bila orang-orang tidak pergi pada waktu tertentu dan lebih lama menghabiskan waktunya, maka beliau protes dan berkata:

“Kalian harus menggunakan waktu sesuai dengan kapasitas waktunya seseorang, tidak lebih dan tidak kurang.”

Imam Khomeini tidur pada waktu tertentu dan bangun tidur pada pukul dua untuk mengerjakan salat malam. Ketika beliau opname di rumah sakit, meski untuk tidurnya harus meminum obat, namun beliau bangun dari tidurnya pada pukul dua untuk mengerjakan salat malam dan menanyakan waktunya pelaksanaan salat malam. Ini menunjukkan akan keteraturan dalam menjalankan program hidupnya.

Ketika beliau dipindahkan ke rumah sakit, beliau berpesan agar diberitahu waktunya salat Zuhur dan Ashar. Pertama beliau mengerjakan salat, kemudian makan siang. Suatu hari beliau tiba-tiba tahu bahwa makanan dibawa ke ruangan. Beliau bertanya, “Memangnya waktunya salat sudah tiba?” Orang-orang yang hadir di situ menjawab, “Iya. Waktunya salat telah tiba.”

Imam Khomeini dengan kesal menghadap kepada orang-orang yang hadir di situ seraya mengatakan:

“Lalu mengapa kalian tidak membangunkan saya?”

Mereka menjawab, “Karena kondisi khusus Anda, kami tidak ingin membangunkan Anda.”

Dengan kesal beliau mengatakan:

“Mengapa kalian memperlakukan saya demikian? Kalau begitu bawa kembali makanan itu, sehingga saya kerjakan salat.”

Masalah-masalah seperti ini menunjukkan ikatan Imam Khomeini dengan keteraturan, ketertiban, dan program hidupnya yang detil dalam semua sisi kehidupan dan keteraturan ini tampak dalam pekerjaan-pekerjaannya sampai detik-detik terakhir kehidupannya.

Dalam pertemuan dengan semua kalangan masyarakat, Imam Khomeini senantiasa mendengarkan dengan seksama pada masalah-masalah yang disampaikan. Hal ini membuat orang yang bertemu dengan beliau menjadi percaya diri. Padahal sebelumnya Imam Khomeini sudah mengetahui masalahnya dari jalan yang lain.

Sepanjang usia saya, saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih cerdas dari Imam Khomeini. Dalam hal ini dikatakan bahwa Imam Khomeini begitu cerdas sampai tahu apa yang ada dalam pikiran seseorang dan di sisi lain, di hadapan Imam Khomeini tidak ada jalan lain selain kejujuran kata.

Beliau tidak pernah mau bertransaksi, apapun harganya terkait harga diri orang lain dan beliau sangat menghargai kehormatan dan kepribadian seseorang.

Seseorang merasakan bahwa Imam Khomeini senantiasa berjuang melawan hawa nafsunya dan beliau benar-benar tawadhu dalam kemenangan yang benar dan kondisi yang ada. Karakter Imam Khomeini sangat tinggi dan tidak bisa begitu saja dilalui. (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Sayid Mahdi Imam Jamarani; putra pemilik rumah yang ditempati oleh Imam Khomeini di Jamaran

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh

Nov 11, 2017 16:23 Asia/Jakarta
Komentar