Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, beragam isu telah dibahas selama kunjungan Boris Johnson, Menteri Luar Negeri Inggris ke Tehran.

Bahram Ghasemi mengungkapkan hal itu dalam jumpa pers di Tehran, ibukota Iran yang dihadiri oleh wartawan dalam dan luar negeri pada Senin (11/12/2017).

"Kunjungan Menlu Inggris ke Tehran telah direncakanan sebelumnya dan menganalogikan lawatan ini dengan isu-isu lainnya tidak dapat diterima," kata Ghasemi ketika menjawab wartawan IRIB mengenai kunjungan Menlu Inggris ke Iran bersamaan dengan keputusan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang mengumumkan al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel.

Ia menjelaskan, apa yang terlihat dalam opini publik pemerintah-pemerintah dunia pasca keputusan Trump adalah konsensus dunia untuk mengecam langkah memalukan Presiden AS, di mana negara-negara dunia termasuk negara-negara Arab terlibat dengan masalah ini.

Jubir Kemlu Iran juga menyinggung berita tentang hasil penyelidikan tim khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang penembakan rudal Yaman ke Arab Saudi yang diklaim sebagai rudal buatan Iran.

Ghasemi menuturkan, laporan yang dikaitkan dengan salah satu tim penyelidikan PBB adalah laporan dengan tujuan tertentu dan tidak memiliki kredibilitas apapun.

"Posisi Republik Islam Iran mengenai Yaman adalah jelas dan Tehran tidak memiliki campur tangan dalam urusan negara ini dan hanya upaya untuk mengungkapkan ketertindasan rakyat Yaman di arena global," jelasnya.

Ia mengatakan, hinggga sekarang belum ada perubahan dalam hubungan antara Tehran dan Riyadh, bahkan Arab Saudi masih mengejar isu-isu di kawasan dengan ceroboh dan tidak bijaksana, di mana negara ini melakukan kesalahan-kesalahan sebelumnya tentang kawasan dan negara-negara tetangganya.

Ilustrasi kunjungan delegasi Bahrain ke Palestina pendudukan.

Ghasemi lebih lanjut menyinggung kunjungan delegasi Bahrain ke Palestina pendudukan (Israel) bersamaan dengan keputusan terbaru Presiden AS untuk memindahkan Kedutaan Besarnya dari Tel Aviv ke al-Quds.

"Kunjungan ini merupakan tindakan yang tidak pantas, salah dan memalukan dan sepenuhnya memperjelas wajah sejumlah negara Arab pendukung penjajahan," ujarnya.  

Jubir Kemlu Iran menjelaskan, ada sejumlah tanda dan analisa yang menunjukkan bahwa sejumlah negara yang sangat terbatas terlibat dalam langkah AS yang mengumumkan al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis dan koordinasi telah dilakukan dengan mereka. (RA)

Tags

Dec 11, 2017 19:29 Asia/Jakarta
Komentar