• Mohammad Javad Zarif
    Mohammad Javad Zarif

Menteri luar negeri Iran mengkritik sikap terbaru AS yang mengancam negara lain dalam masalah Baitul Maqdis di PBB, dan menilai Washington menghalangi penegakan demokrasi di dunia.

Mohammad Javad Zarif  menilai sikap AS hanya mengedepankan kepentingan pihaknya saja, yang bertentangan dengan upaya perdamaian dunia.  

"Washington hanya berputar dari kata 'Bersama kami atau Tidak'," ujar Zarif hari Rabu (20/12).

Menlu Iran di laman Twitternya menulis, "Sikap Presiden AS, Donald Trump yang mengancam pihak yang berani menentang arogansinya, menunjukkan dia menghalangi penegakan demokrasi di tingkat dunia,".

Sebelumnya, Trump mengatakan, Washington akan menghentikan bantuan finansialnya kepada negara-negara yang hendak menentang keputusan AS mengenai Baitul Maqdis di sidang Majelis Umum PBB.

"Kami pantau suara mereka," tegas Trump.

Donald Trump

Majelis Umum PBB akan menggelar sidang mengenai masalah Baitul Maqdis pada hari Kamis (21/12).

AS Senin malam (18/12) memveto rancangan resolusi yang diusulkan Mesir mengenai Baitul Maqdis, meskipun 14 anggota Dewan Keamanan PBB menyetujuinya.

Prakarsa resolusi ini menyerukan kepada seluruh negara dunia untuk menghindari pembentukan perwakilan diplomatik, baik kedutaan maupun konsuler di kota Baitul Maqdis berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB no.478.

Sebelumnya, Trump Rabu (6/12) menyampaikan pengakuan resmi AS terhadap Baitul Maqdis sebagai ibu kota rezim Zionis. 

Tidak hanya itu, Trump juga mengintruksikan kepada kementerian luar negeri AS untuk melakukan persiapan pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis.

Keputusan tersebut menyulut penentangan dari berbagai kalangan, termasuk para pemimpin dunia.

Kota Baitul Maqdis adalah tempat Masjid Al-Aqsa yang menjadi kiblat pertama umat Islam, sekaligus bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Palestina dan tiga tempat terpenting umat Islam. Tapi sejak 1967, Baitul Maqdis dikuasai oleh rezim Zionis Israel.(PH)

Dec 21, 2017 04:43 Asia/Jakarta
Komentar