Aksi protes terbaru warga Iran terhadap masalah ekonomi yang melanda negara ini, terutama kenaikan harga, meningkatnya angka pengangguran dan sulitnya lapangan kerja, serta tuntutan pengembalian uang para penabung sebuah lembaga keuangan yang pailit ternyata ditunggangi oleh sejumlah perusuh dan provokator.

Aksi protes damai yang terjadi di sejumlah daerah berujung bentrokan dan penghancuran fasilitas publik dan kerugian materi, bahkan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Pertanyaannya, mengapa aksi protes damai tersebut berubah menjadi gelombang kekerasan? Bersamaan dengan aksi protes yang dilakukan sebagian masyarakat Iran, berbagai pihak dari luar negeri berupaya menunggangi unjuk rasa tersebut demi kepentingan mereka.

Washington, Tel Aviv dan Riyadh dengan berbagai sarana media, politik dan finansialnya menggunakan antek-antek mereka di dalam negeri Iran untuk memperkeruh situasi dengan mengarahkan aksi protes menuju kudeta.

Musuh-musuh Iran dari Gedung Putih hingga kelompok teroris MKO menyampaikan statemen dukungan terhadap para perusuh yang menyusup dalam kerumunan massa pemrotes untuk mengobarkan konflik lebih membara.

Lalu, bagaimana memandang masalah ini. Benarkah aksi protes ini  tuntutan rakyat yang menghendaki perubahan sistem pemerintahan di Iran, sebagaimana diberitakan media-media Barat selama ini. Ataukah ada plot asing yang mengarahkan aksi protes dari tuntutan ekonomi menuju perubahan sistem pemerintahan demi kepentingan tertentu. 

Tampaknya, masalah ini harus dilacak lebih dalam setiap lapisannya. Statemen Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani dalam wawancara dengan televisi Almayadeen barangkali akan memberikan sedikit penjelasan tentang masalah ini.

Ali Shamkhani

Shamkhani menjelaskan sosial media dan internet saat ini dipergunakan oleh musuh-musuh Republik Islam Iran untuk melancarkan perang proksi terhadap Iran dalam bentuk seruan hastag  mengenai kondisi di dalam negeri Iran yang dilakukan secara serentak dari AS, Inggris, negara lain hingga Arab Saudi.

Shamkhani menegaskan, tujuan dari intervensi asing yang terorganisir ini untuk mencegah kemajuan Iran. Oleh karena itu mereka hendak memukul Iran dari dalam negeri.

Meski demikian, Shakhani juga tidak menghindari adanya faktor ketidakpuasaan sebagian masyarakat Iran terhadap kondisi ekonomi mereka saat ini.

Pengalaman Republik Islam Iran selama hampir empat dekade menunjukkan negara ini terus-menerus menjadi sasaran serangan asing baik dilancarkan secara lunak maupun keras dengan menggunakan berbagai cara.

Tentu saja, tuntutan masyarakat mengenai perbaikan masalah ekonomi dan penuntasan kasus dugaan korupsi juga harus ditindaklanjuti. Masalah penting ini sedang ditangani oleh mahkamah agung Iran yang terus bekerja kerja menyelidiki sejumlah kasus dugaan korupsi, dan peran anggota parlemen yang terus menyuarakan kepentingan rakyat, terutama menyelesaikan tuntutan mereka dalam masalah ekonomi di jalurnya sendiri.

Dalam hal ini, media diharapkan memainkan peran pentingnya dengan memberikan informasi yang benar demi memperbaiki kondisi yang ada saat ini menuju keadaan yang lebih baik di masa mendatang. Di luar itu semua, tidak bisa dilupakan kepentingan asing yang sedang mengail ikan di air keruh dengan berkaca pada peristiwa getir lima tahun lalu. 

Sejatinya, dua hal yang harus dipisahkan dari kerusuhan terbaru ini. Aksi protes sebagian masyarakat mengenai masalah ekonomi dan sepak terjang para perusuh yang diplot dari luar memiliki tujuan dan maksud yang berbeda. (PH)

Tags

Jan 03, 2018 18:43 Asia/Jakarta
Komentar