• Imam Khomeini
    Imam Khomeini

Dalam banyak hal terkait urusan kenegaraan, para pejabat kebingungan, tapi Imam Khomeini mengakhiri semua kekhawatiran itu hanya dengan satu kalimat.

Dalam peristiwa serangan Irak ke Iran, ketika pesawat-pesawat tempur Irak menyerang semua perbatasan bagian selatan dan barat, para pejabat dan komandan benar-benar dalam kondisi kebingungan dan panik datang menemui Imam Khomeini. Imam Khomeini menemui mereka beberapa saat dan membimbing mereka. Di akhir pertemuan itu mereka menjadi semangat dan salah satu mereka mengatakan, “Kami akan menghancurkan Irak” dan lainnya mengatakan, “Kami akan maju sampai ke Bagdad”.

Imam Khomeini menenangkan masyarakat dengan kata-kata ini:

“Pencuri datang dan melemparkan batu.”

Dalam peristiwa sarang mata-mata, setiap hari juga muncul masalah baru. Yang satu mengatakan, “Tidak mungkin bisa berperang dengan Amerika” yang lainnya lagi mengatakan, “Amerika telah menurunkan pasukannya di kawasan” dan yang lainnya mengatakan, “Kapal induk Amerika yang keberapa datang” tapi Imam Khomeini hanya mengatakan:

“Amerika Tidak akan bisa berbuat apa-apa”.

Suatu hari salah seorang revolusioner datang mengeluh kepada Imam Khomeini tentang konspirasi, Imam Khomeini memegang dadanya dan berkata:

“Mengapa engkau ketakutan? Tidak akan terjadi apa-apa”.

---

Malam ketika kabar tentang syahadahnya Doktor Beheshti dan para sahabatnya sampai ke kantornya Imam, kami semua tercengang, bagaimana kabar ini kita sampaikan kepada Imam. Karena kita tahu bagaimana kecintaan Imam Khomeini kepada Agha Beheshti. Kita beritahukan kepada radio dan televisi untuk tidak menyampaikan kabar ini pada malam hari. Karena Imam Khomeini mendengarkan kabar pada akhir malam. Rencananya Haj Ahmad Agha dan Agha Rafsanjani; ketua Majlis Syura Islami besok paginya menyampaikan kabar ini kepada Imam Khomeini supaya tidak terjadi masalah bagi beliau. Di rumah Imam Khomeini juga diminta untuk mengambil radio dari sisi Imam Khomeini, sehingga bila kabar pukul tujuh atau delapan disiarkan, maka Imam Khomeini tidak mendengarnya. Ketika ibu-ibu datang kepada Imam untuk mengambil radio tersebut, beliau mengatakan:

“Jangan ambil radio itu, aku sudah mendengar kabarnya dari radio asing”.

Agha Hashemi dan Haj Ahmad datang menemui Imam Khomeini. Imam menenangkan mereka dan menceritakan masalahnya:

“Salah seorang ulama Islam sedang berada di atas mimbar. Dikabarkan kepadanya bahwa telah terjadi sebuah peristiwa dan di sana banyak jumlahnya yang meninggal dunia. Seorang alim itu mengatakan, “Ajalnya telah didekatkan”. Yakni Allah telah mendekatkan ajal-ajalnya. Rencananya mereka mati di tempat yang berbeda berpencaran, namun Allah mendekatkan ajal-ajalnya”.

Ketika kabar ledakan kantor perdana menteri dan kantor Dewan Keamanan yang sangat menyedihkan sampai ke kantor Imam, beliau berkata:

“Pergi lakukanlah penelitian supaya aku tahu tentang kondisi Agha Rajai [presiden] dan Bahonar [perdana menteri]”.

Sayangnya undian itu jatuh kepada saya dan saya harus melakukan penelitian dari dekat. Saya tidak akan melupakan pemandangan mengerikan itu. Sayalah orang yang pertama kali menghadapi jenazah terbakar dan hitam orang-orang mulia ini. Tidak ada yang tersisa pada mereka yang bisa dikenal. Dari almarhum Syahid Bahonar hanya jubah yang tersisa dan dari Syahid Rajai tidak ada yang tersisa sama sekali.  

Saya bersama Agha Doktor Manafi membersihkan mulut mereka yang berdarah dengan air mawar. Dari gigi emasnya kami bisa menentukan bahwa jenazah itu terkait dengan Rajai. Allah tahu apa yang terjadi pada kami. Saya sempat berpikir bagaimana kami harus menyampaikan kabar ini kepada Imam. Sangat sulit. Pada hari itu juga Imam Khomeini berkata kepada Haj Ahmad Agha:

“Aku kangen pada Rajai”.

Padahal rencananya, besok Agha Rajai akan menemui Imam. Meski Imam Khomeini sangat mencintai Agha Rajai, tapi tragedi ini tidak juga tidak bisa membuatnya goyah dan tetap tenang dan yakin. (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam Wal Muslimin Mohammad Ali Anshari Kermani

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh

Tags

Jan 04, 2018 19:58 Asia/Jakarta
Komentar