• Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Hari-hari pertama di Qom, ada masalah besar terkait penjagaan dan keamanan. Yaitu Imam melarang seorang tentara Pasdaran menjaga beliau dengan senjata. Beliau selalu berkata:

“Aku tidak menginginkan petugas bersenjata.”

Ketika acara pelayatan Syahid Mofatteh, Imam ada di tengah-tengah ribuan masyarakat dengan mobil yang saya sebagai supirnya. Karena kecintaannya kepada beliau, masyarakat mengerubuti mobil sampai atap mobil hampir rusak. Muncul bau asap kopling dari dalam mobil. Kami kebingunan. Bila Imam Khomeini tetap tinggal di dalam mobil, ada kemungkinan mobil terbakar karena desakan masyarakat. Bila beliau keluar, maka emosional dan kecintaan masyarakat akan membuatnya terjepit. Akhirnya saya menekan gas dan saya pencet bel mobil. Pada saat itu Imam berkata:

“Ada apa ini? Anda mau menggilas masyarakat?”

Saya katakan, “Agha! Mobilnya memanas.” Beliau berkata:

“Sebentar, aku akan turun dan berjalan di tengah-tengah masyarakat.”

---

Suatu hari Imam Khomeini sedang meunuju ke madrasah Feiziyeh. Masyarakat lari mengerubuti mobil dan seorang prajurit lari mengerjar Imam dan karena saking cintanya dia memegang wajah imam dan memutarnya dan mencium tangan dan wajah imam. Kami marah. Namun imam dengan tenang dan tersenyum mengatakan, jangan sampai berbuat buruk pada masyarakat.

Terkadang jalan untuk mobil yang dinaiki imam terbuka, namun beliau memerintahkan:

“Hentikan saja mobilnya, sehingga aku bisa melihat masyarakat.”

Terkadang anak-anak lari mengerubuti mobil imam sampai di samping rumah. Imam Khomeini membawa mereka masuk ke rumahnya dan memberikan buku atau hadiah-hadiah lainnya kepada mereka.

---

Ketika wafatnya Ayatullah Taleghani, Imam Khomeini pergi ke masjid Azam untuk ikut acara tahlilan. Karena saking ramainya, sepatu Imam Khomeini hilang dan amamah [surbannya] jatuh dari kepalanya. Kami berhasil mengeluarkan Imam Khomeini dari tengah-tengah masyarakat. Keesokan harinya, Imam Khomeini juga rencananya harus ke sana lagi karena ada sebuah acara. Kami memerintahkan sejumlah Pasdaran untuk datang ke sana untuk mengontrol tempat yang akan dihadiri oleh imam. Salah satunya pintunya tertutup dan imam datang, kemudian duduk di halaman di tepi kuburannya Ayatullah Boroujerdi sampai ceramah yang terakhir dan tidak ada yang mendekati Imam Khomeini. Setelah selesai acara, Imam Khomeini yang seharusnya naik mobil, beliau berjalan di tengah-tengah masyarakat dan masyarakat mengerumuninya. Tapi kondisinya lebih baik dari hari sebelumnya. Ketika sudah masuk ke dalam mobil, kepada almarhum Ayatullah Eshraghi dan Hujjatul Islam Sane’i:

“Siapa yang bilang masyarakat harus dihalangi dan harus dibiarkan di depan pintu? Jangan sampai hal-hal seperti ini terulangi lagi.”

Hari berikutnya ketika ikut acara, kondisi hari pertama terulang kembali. Namun Imam Khomeini tidak menyampaikan sedikitpun rasa tidak nyaman.

---

Suatu malam rencananya harus pergi ke rumah salah seorang rohaniwan. Gang rumahnya sangat sempit sehingga tidak ada mobil yang bisa masuk selain mobil ziyan. Kami menyiapkan mobil ziyan dan mengantarkan Imam Khomeini ke sana. Masyarakat datang memenuhi dan mengerubuti mobil ziyan untuk menemui beliau. Hawanya pada waktu itu sangat panas dan Imam Khomeini berkeringat. Mobil pun mati dan tidak bisa berjalan. Kami kebingungan harus bagaimana. Akhirnya masyarakat mendorong mobil tersebut sampai di depan rumah pemilik acara. Kembalinya juga kami memakai mobil tersebut dan keluar dari gang yang sempit itu. Salah seorang teman kami menyiapkan satu mobil Peykan. Dia mengusulkan kepada Imam Khomeini agar menaiki mobil itu. karena mobil ziyan itu kondisinya tidak bagus dan hawa pun sangat panas. Imam Khomeini berkata:

“Mobil ini sedang berjalan dan tidak ada apa-apa. Kita akan pergi dengan mobil ini juga.” (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam Wal Muslimin Mohammad Ali Anshari Kermani

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh

Tags

Feb 03, 2018 15:36 Asia/Jakarta
Komentar