• Eshaq Jahangiri disambut PM Irak Haider al-Abadi
    Eshaq Jahangiri disambut PM Irak Haider al-Abadi

Eshaq Jahangiri, wakil presiden Republik Islam Iran bertolak ke Irak dalam rangka kunjungan tiga hari ke negara tetangga ini. Kunjungan ini mengindikasikan perluasan kerja sama yang semakin meningkat kedua negara pasca pemusnahan kelompok teroris Daesh di Irak.

Jahangiri Rabu (7/3) sore tiba di Baghdad dan disambut resmi oleh Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi. Kemudian kedua pihak melakukan perundingan bilateral. Wakil presiden Iran di perundingan tersebut seraya mengisyaratkan bahwa hubungan Republik Islam dan Irak adalah hubungan baik dan konstruktif mengatakan, "Hubungan kedua negara di berbagai sektor mencapai level yang memuaskan dan hubungan politik Tehran-Baghdad adalah hubungan strategis."

Kunjungan Jahangiri ke Irak

 

Sementara itu, PM Irak Haider al-Abadi di pertemuan ini seraya memuji Iran karena membantu Irak di perang kontra terorisme mengatakan, "Tidak ada yang dapat merusak hubungan kedua negara dan Irak akan memperkokoh hubungannya dengan Iran di seluruh sektor politik, ekonomi dan budaya."

 

Iran dan Irak karena memiliki perbatasan bersama yang panjang, hubungan bersejarah kedua bangsa, persamaan sejarah, budaya,agama dan mazhab, senantiasa mengacu pada perluasan hubungan. Hubungan ini pasca tumbangnya rezim Saddam Husein dan setelah tahun 2003 semakin sistematis khususnya di bidang politik dan dewasa ini hubungan ini mencapai puncaknya.

 

Hubungan rakyat Iran dan Irak mengingat kesamaan budaya, menjadi asas hubungan politik dan ekonomi kedua negara. Dukungan besar ini juga menjadi landasan kuat bagi perluasan kerja sama strategis Iran dan Irak. Public relations ini mengubah Iran dan Irak menjadi dua mitra terpercaya dan resistensi Republik Islam Iran di samping Irak dalam memerangi teroris Daesh merupakan indikasi dari kepercayaan ini.

 

Kerja sama konstruktif  Iran dan Irak di perang kontra terorisme menunjukkan tanggung jawab Iran sebagai sebuah negara tetangga yang menilai keamanan dan stabilitas Irak tak ubahnya stabilitas dan keamanannya sendiri. Keberhasilan Irak melewati krisis instabilitas dan terorisme membuktikan kokohnya hubungan Tehran-Baghdad. Hubungan ini berakar pada kesamaan budaya dan hubungan rakyat kedua bangsa selama bertahun-tahun silam.

 

Selain dimensi politik dan keamanan, ketika Iran sebagai negara tetanggai Irak tidak mengijinkan teroris Daesh menduduki Baghdad dan Arbil serta memperluas instabilitas di negara ini, di bidang ekonomi, Iran juga memainkan peran penting bagi pembangunan dan laju ekonomi Irak.

Iran-Irak

 

Stabilitas dan keamanan permanen merupakan syarat bagi pembangunan dan rekonstruksi Irak. Elemen penting ini kini terealisasi di era pasca Daesh. Menurut petinggi Irak, rekonstruksi di negara ini membutuhkan dana sekitar 100 miliar dolar dan di bidang ini, Iran juga memiliki perhatian khusus kepada Irak.

 

Dalam koridor ini, bersamaan dengan kedatangan Eshaq Jahangiri di Baghdad, Iran menyatakan kesiapannya memberikan kredit sebesar tiga miliar dolar kepada Irak sehingga perusahaan pemerintah dan swasta Iran mampu berpartisipasi lebih serius di proyek rekonstruksi Irak.

 

Iran memiliki pengalaman luas di sektor pembangunan jalan, rel kereta api serta bidang kesehatan, jasa teknis dan pembangunan. Mengingat kebutuhan Irak, pengalaman ini dapat membantu Irak mempercepat proses rekonstruksi kehancuran negara ini di era pasca Daesh.

 

Yang membuat kerja sama Iran dan Irak semakin penting di era rekonstruksi ini adalah hubungan ekonomi kedua negara. Saat ini Irak menjadi tujuan kedua ekspor produk non migas Iran dan selama sembilan bulan lalu, neraca perdagangan kedua negara mencapai 6,1 miliar dolar.

 

Mengingat pentingnya hubungan ekonomi Iran dan Irak serta keragamannya, sangat penting untuk menggambarkan dokumen komprehensif di bidang ini. Dan sepertinya isu ini menjadi prioritas selama kunjungan Eshaq Jahangiri ke Irak. (MF)

 

 

Mar 08, 2018 18:46 Asia/Jakarta
Komentar