• Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran
    Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran menuju Moskow Sabtu pagi (28/4) guna mengikuti pertemuan segi tiga menteri-menteri luar negeri Iran, Rusia dan Turki.

Agenda pertemuan sehari ini akan membicarakan dan mengevaluasi sejumlah masalah seperti gencatan senjata, proses perundingan Astana dan transformasi terbaru Suriah.

Perundingan Astana dimulai sejak bulan Januari 2017 yang diinisiasi Iran, Rusia dan Turki dengan tujuan menciptakan perdamaian di Suriah. Upaya yang dilakukan tiga negara ini berhasil meraih sejumlah kemajuan penting demi menyelesaikan krisis Suriah. Sementara Amerika, Arab Saudi dan Israel yang mendukung kelompok-kelompok teroris bersikeras memilih opsi penggulingan pemerintah sah Suriah, tapi konspirasi mereka tidak berhasil dengan kekalahan yang diderita Daesh (ISIS).

Perundingan Astana

Inisiatif Tehran, Moskow dan Ankara mampu meraih dua tujuan strategis; pertama, menghadapi Daesh dan kedua, mewujudkan sarana bagi dialog nasional di Suriah pasca perang selama tujuh tahun dan kehancuran negara ini. Nilai strategis perundingan ini ada pada orientasi penyelesaian krisis Suriah dengan berpusat pada peran negara-negara regional.

Sergey Baburin, pakar senior masalah internasional mengatakan, bila hari ini para teroris telah kehilangan posisinya di Suriah, maka itu hasil dari upaya Moskow, Tehran dan Ankara.

Dari sisi ini, kekhawatiran ketiga negara dari transformasi Suriah harus dinilai sebagai kekhawatiran bersama akan meluasnya ruang lingkup pengaruh militer Barat di kawasan pada periode pasca Daesh. Lumrah bila banyak strategi yang berubah pasca periode Daesh. Sebagaimana Amerika mengatakan pasukan militernya akan tetap hadir di utara Suriah. Turki di periode ini juga tengah menyusun kebijakan terkait Suriah. Di sini apa yang dianggap penting oleh Turki adalah keamanan perbatasan panjang negara ini dengan Suriah.

Elena Dunaeva, peneliti senior Russian Academy of Sciences Institute of Oriental Studies mengatakan, Iran, Rusia dan Turki memainkan peran kunci bagi terciptanya perdamaian di Suriah. Selama setahun terakhir, upaya ketiga negara ini sejak perundingan pertama Astana telah membuahkan hasil.

"Kini Suriah memasuki tahap sensitif dan lebih membutuhkan bantuan negara-negara sahabatnya dibandingkan sebelumnya," jelas Dunaeva.

Sampai saat ini dapat dikatakan dengan tegas bahwa Iran, Rusia dan Turki sebagai negara-negara pendukung perundingan damai Astana memainkan peran penting bagi terciptanya perdamaian di Suriah dan peran ini tidak dapat diingkari.

Staffan de Mistura, Utusan Khusus PBB untuk Suriah pekan lalu menyatakan bahwa pertemuan Sochi merupakan desain yang luar biasa bagi perundingan Suriah dan harus dibantu agar dapat direalisasikan kondisi bagi perwujudannya secara komprehensif.

Staffan de Mistura, Utusan Khusus PBB untuk Suriah

Dengan demikian, ketiga negara Iran, Rusia dan Turki bersama PBB memiliki alasan rasional untuk melanjutkan upaya di jalur ini, sehingga tujuan perundingan Astana dapat terwujudkan secara keseluruhan.

Apr 28, 2018 14:10 Asia/Jakarta
Komentar