• JCPOA ala Eropa
    JCPOA ala Eropa

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei saat bertemu dengan petinggi pemerintah menilai penting mekanisme tepat menyikapi Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) setelah keluarnya Amerika. Rahbar menjelaskan, "Harus realistis menyikapi masalah ini dan tidak boleh puas dengan berbagai kemungkinan."

Ayatullah Khamenei Rabu sore (23/5) saat bertemu dengan kepala tiga lembaga pemerintah serta pejabat tinggi Iran menjelaskan sejumlah poin penting terkait keberlanjutan JCPOA. Di antara poin terpenting tersebut adalah adanya jaminan realistis dari negara-negara Eropa untuk menjamin kepentingan ekonomi Iran di tengah-tengah pelanggaran dan sabotase Amerika serta kesediaan mereka untuk tidak membahas dua elemen penting kekuatan yakni program rudal dan aktivitas Iran di kawasan.

 

Rahbar seraya menjelaskan bahwa Eropa harus mengganti ketidakpedulian dan kelalaiannya atas pelanggaran beruang Amerika terhadap JCPOA dengan menyerahkan resolusi ke Dewan Keamanan PBB menjelaskan, "Para pemimpin tiga negara Eropa harus komitmen dan berjanji tidak akan menggulirkan isu rudal dan aktivitas Iran di kawasan."

 

Selain dua poin penting ini, jaminan pemeblian minyak Iran, jaminan bank-bank Eropa terkait transaksi dan pembayaran perdangangan pemerintah dan swasta, perlawanan nyata Eropa terhadap sanksi Amerika anti Iran, merupakan tiga poin lain yang dijelaskan Rahbar sebagai syarat berlanjutnya JCPOA Eropa.

 

Poin-poin penting Rahbar adalah peta jalan pemerintah Iran untuk melakukan lobi intensif dengan lima negara anggota perjanjian JCPOA khususnya tiga negara Eropa yakni Inggris, Perancis dan Jerman, sehingga dalam waktu singkat Iran mencapai keyakinan bahwa kesepakatan nuklir tanpa Amerika bagi bangsa Iran bermanfaat atau tidak.

Image Caption

 

Sensitifitas Rahbar meraih jaminan yang diperlukan dari Eropa pasca keluarnya AS dari JCPOA karena tidak adanya kepercayaan di tingkat internasional dan sejarah Eropa dalam berinteraksi dengan Iran di bidang nuklir. Eropa ketika masa implementasi JCPOA tidak menunjukkan sikap yang tegas atas pelanggaran berulang Amerika dan negara seperti Inggris berulang kali mensabotase penjualan kue kuning atau “Yellow Cake” ke Iran.

 

Selama perundingan nuklir, Perancis memainkan peran polisi buruk. Kini seiring dengan pengumuman pemutusan kerja sama sejumlah perusahaan besar Eropa termasuk Total Perancis dan maraknya kebijakan ragi atas penerapan sanksi baru Amerika, Iran semakin sensitif dengan JCPOA ala Eropa. Dari segi politik dan sejarah, Eropa bermain dengan Amerika dan hal ini dengan jelas dipaparkan oleh Rahbar serta ekonomi Iran menurut beliau tidak akan maju dengan JCPOA Eropa.

 

Ebrahim Mottaghi, pengamat internasional terkait ketergantungan bersejarah Eropa kepada Amerika meyakini, "Eropa dari sisi sikap struktural, yakni politik yang diungkapkan, memiliki sikapnya sendiri, namun di tingkat praktis, Eropa tidak mampu dan tidak ingin melawan Amerika serta mengambil sikap yang berbeda."

 

Kebijakan Eropa yang diumumkan setelah keluarnya AS dari JCPOA adalah mempertahankan kesepakatan nuklir dalam bentuknya saat ini, namun di sisi lain, perusahaan Eropa karena takut Amerika memiliki keraguan atas masa depan kerja sama dengan Iran. Sikap ini ditambah dengan 12 syarat yang diajukan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo kepada Iran, membuat keraguan Eropa semakin besar.

 

Keraguan ini terlihat nyata di sikap Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas setelah melobi John Bolton, Penasehat Keamanan Nasional AS serta Mike Pompeo, Menlu Amerika. Heiko Maas hari Rabu usai bertemu dengan John Bolton dan Pompeo di Washington mengungkapkan, Eropa dan Amerika berada dalam jalur yang berbeda dan memiliki jarak yang jauh terkait revisi JCPOA.

 

Mengingat realitas saat ini di sistem internasional di mana kekuatan menjadi acuan bagi permaian dan kepercayaan di sistem ini bukan unsur yang baik bagi interaksi. Iran dengan pandangan realistisnya terus mengawasi perilaku dan sikap Eropa menyusul keluarnya AS dari JCPOA. Dalam koridor ini, Rahbar menekankan, "Jika Eropa menunda-nunda dalam menjawab tuntutan kami, maka Iran berhak memulai aktivitas nuklirnya yang diliburkan." (MF)

 

 

Mei 25, 2018 19:07 Asia/Jakarta
Komentar