• Parade Angkatan Bersenjata Iran di pinggiran kota Tehran.
    Parade Angkatan Bersenjata Iran di pinggiran kota Tehran.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Brigadir Jenderal Ramazan Sharif mengatakan, kemampuan pertahanan dan misil adalah garis merah Iran dan tidak akan dirundingkan dengan Eropa.

Dalam wawancara dengan televisi al-Mayadeen, Lebanon, Sabtu (2/6/2018), Brigjen Sharif menuturkan, senjata pertahanan Iran juga untuk mendukung sekutu, dan Republik Islam tidak akan mundur dari penguatan, peningkatan akurasi dan kecepatan senjata-senjata ini.

Pada 8 Mei lalu, Presiden Donald Trump mengumumkan penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir dengan Iran.

Beberapa hari setelahnya, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo dalam sebuah statemen mengancam Iran dengan sanksi yang paling berat dalam sejarah jika tidak menghentikan produksi dan uji coba rudal balistik. Dia juga mendesak penghentian penyebaran pengaruh regional Iran sebagai bagian dari 12 tuntutan AS.

Banyak analis dan bahkan para pejabat Amerika sendiri dan Eropa menilai tuntutan Washington sebagai "canggung" dan "tidak masuk akal."

Direktur Studi Pertahanan AS di Center for the National Interest, Harry J. Kazianis mengatakan, "Sikap inkonsisten Washinhton terhadap kesepakatan nuklir tidak ada hubungannya dengan komitmen Tehran atas kesepakatan itu, dan Republikan harus menerima kenyataan ini dan mengakuinya secara terbuka."

Republik Islam Iran berulang kali menekankan bahwa kemampuan pertahanan, kekuatan misil, dan peralatan militernya telah menjadi faktor pencegah agresi musuh. Iran tidak akan menyerah pada tekanan musuh untuk mundur dari kemampuan pertahanan dan program rudalnya, tetapi justru akan memperkuat kemampuan defensif ini.

Pusat Studi Strategis Perancis dalam sebuah laporannya menyoroti serangan rudal Pasdaran Iran ke basis teroris di Provinsi Deir Ezzor, Suriah pada 18 Juni 2017, dan menulis bahwa Korps Pasdaran telah memiliki sebuah senjata dengan akurasi tinggi untuk menargetkan musuh.

Laporan ini sejatinya merupakan pengakuan atas kemampuan rudal Iran. Akan tetapi, Amerika dan Barat sedang berusaha untuk melemahkan kemampuan defensif Iran lewat propaganda, dan memaksa Tehran untuk merundingkan kemampuan misilnya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pidato pada 23 Mei lalu, mengumumkan beberapa syarat untuk melanjutkan kesepakatan nuklir dengan Eropa, termasuk tidak menyentuh dua unsur kekuatan yaitu; program rudal dan kehadiran regional Iran.

Perlu dicatat bahwa Iran mengadopsi kebijakan pertahanan dan keamanan secara mandiri, dan tidak mengikuti dikte kekuatan-kekuatan arogan. Oleh karena itu, siapa pun tidak akan dibiarkan untuk campur tangan dalam urusan internal Iran.

Kekuatan rudal tidak diragukan lagi adalah salah satu dari komponen keamanan nasional Republik Islam Iran. Jadi, Tehran tidak akan meminta izin dari siapa pun untuk mempertahankan kemampuan defensifnya dan tidak akan berunding dengan pihak asing tentang keamanannya.

Namun, AS selalu melontarkan tudingan tak berdasar terhadap Iran dan terus mengobarkan permusuhan. Mereka tidak bisa menerima peningkatan kemampuan Iran di berbagai bidang dan tampilnya negara ini sebagai teladan di antara negara-negara regional.

Pengalaman 40 tahun revolusi menunjukkan bahwa bangsa Iran tidak pernah gentar terhadap ancaman Barat. (RM)

Tags

Jun 03, 2018 14:36 Asia/Jakarta
Komentar