• Ali Akbar Velayati, Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bidang Internasional
    Ali Akbar Velayati, Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bidang Internasional

Ali Akbar Velayati, Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bidang Internasional hari Jumat malam (13/7) dalam wawancara dengan televisi Iran Kanal 1 menilai konstruktif pertemuan terbarunya dengan Vladimir Putin, Presiden Rusia. Velayati mengatakan, selama kunjungan ini, kerjasama regional antara Iran dan Rusia telah stabil.

Penjelasan Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bidang Internasional terkait kerjasama regional menjadi satu babak penting dalam hubungan antara Iran dan Rusia. Kerjasama ini telah memasuki fase kritis dalam melawan Daesh di Suriah dan telah membuktikan keefektifannya dalam memulihkan stabilitas kawasan.

Velayati di Institut Valdai, Rusia

Velayati pada hari Jumat dalam sebuah pidato yang disampaikan di Institut Valdai Rusia di Moskow menyampaikan poin-poin penting terkait masalah ini.

Penjelasan Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bidang Internasional menekankan bahwa kehadiran Iran dan Rusia di Suriah akan terus berlanjut. Menurutnya, bila Iran dan Rusia keluar dari Suriah, para teroris akan kembali dan menguasai negara ini. Oleh karenanya, kehadiran ini menjadi penjamin para teroris tidak kembali melakukan aktivitasnya di Suriah.

Kerjasama regional antara Iran dan Rusia kini lebih luas dari sekadar kerjasama di kawasan Kaspia dan hubungan ekonomi multilateral. Tehran dan Moskow menentang kehadiran Amerika, NATO atau pihak lain di kawasan.

"Kedua negara memiliki banyak kepentingan bersama dalam pengembangan hubungan dan kerja sama bilateral," kata Presiden Rusia bulan November lalu saat bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani di Tehran, seraya menekankan bahwa Iran adalah tetangga dan mitra strategis Rusia.

Hubungan antara Iran dan Rusia kini telah terbukti keefektifan dan pengaruhnya di bidang isu-isu strategis. Aspek yang paling penting dari kerja sama ini adalah pembentukan hubungan jangka panjang sekitar kepentingan bersama di sektor ancaman keamanan dan militer, terutama terhadap intervensi militer Barat di kawasan.

Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bidang Internasional menjelaskan, kehadiran para penasihat militer Iran di Suriah dan Irak berdasarkan permintaan kedua negara ini dan Iran tidak akan meninggalkan Suriah karena ancaman Amerika Serikat dan rezim Zionis.

Republik Islam Iran menentang pembagian negara-negara di kawasan dan menekankan diplomasi untuk menyelesaikan masalah dan perselisihan. Iran percaya bahwa konvergensi konstruktif dapat mengatasi ancaman bersama, termasuk terorisme.

Majalah Amerika The National Interest bulan November 2017 dalam analisanya mengkritik kebijakan permusuhan maksimal Washingto terhadap Iran dan menulis, partisipasi Tehran sangat penting bagi stabilitas regional.

Gedung Putih

The National Interest menilai para pembuat keputusan di Amerika tidak punya pandangan yang jauh ke depan, dan menjelaskan, cacat strategis yang paling buruk dan tidak pernah tampak kecuali dalam kebijakan Amerika terhadap Iran. Kebijakan yang berdasarkan permusuhan maksimal dan dialog minimal pasca Revolusi Islam 1979.

Jelas, hubungan Iran dan Rusia sangat sensitif bagi cara pandang dan tujuan hegemoni Amerika di kawasan. Iran dan Rusia telah menunjukkan bahwa mereka tidak bermaksud mundur melawan hegemoni Amerika Serikat dalam hal keamanan dan penyelesaian krisis regional.

Jul 14, 2018 17:59 Asia/Jakarta
Komentar