Sejumlah tema yang dibahas di Iran Aktualita edisi 3 Agustus 2018; Rahbar: AS Tidak Bisa Dipercaya, Zarif Balas Statemen Trump, Menhan Iran: Kami Tak akan Pernah Tunduk pada Tekanan Musuh dan Pameran ELECOMP 2018 Dibuka di Tehran.

Pekan lalu, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei bertemu dengan para duta besar, kuasa usaha dan pejabat Kementerian Luar Negeri Iran. Rahbar dalam pertemuan tersebut mengatakan, kehadiran regional Iran merupakan bagian elemen kekuatan dan keamanan negara ini yang termasuk tujuan strategis negara.

Ayatullah Khamenei menilai penentangan AS terhadap kemampuan nuklir dan pengayaan uranium tingkat tinggi dan kehadiran Iran di kawasan bersumber dari permusuhan mendalam mereka terhadap elemen-elemen kekuatan Republik Islam Iran. Menurut Rahbar, AS berharap posisinya di Iran kembali seperti sebelum Revolusi Islam, dan tidak akan rela kurang dari itu.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyerukan kepada pejabat kemenlu Iran untuk memperluas hubungan bilateral dan multilateral, serta perhatian khusus kepada organisasi-organisasi regional dengan mengoptimalkan potensi dalam negeri. Ayatullah Khamenei menegaskan, para duta dan wakil Iran di luar negeri harus mengoptimalkan potensi dan kapasitas dalam negeri untuk kepentingan bangsa dan negara.

Ayatullah Khamenei dalam pidatonya berulang kali mengingatkan bahwa AS tidak dapat dipercaya. Rahbar menegaskan, "Saya sudah sejak lama mengingatkan poin penting ini bahwa jangan mempercayai ucapan bahkan tanda tangan AS. Oleh karenanya, berunding dengan Amerika tidak ada gunanya,".

Wawancara

Masalah kita dengan AS tidak bisa diselesaikan. Hal ini harus diperhatikan. Kehadiran sebuah negara yang berbasis agama, apalagi Islam jadi masalah kita dengan AS yang tidak akan bisa diselesaikan. AS menentang keberadaannya. Masalah kita dengan AS terletak pada persoalan ini. Masalah AS dengan Republik Islam mengenai ambisi mereka yang ingin memaksakan kita kembali seperti dahulu (sebelum Revolusi Islam).

Menteri Pertahanan Iran mengatakan, Republik Islam Iran tidak akan pernah tunduk pada tekanan musuh. Menhan Iran, Brigjen Amir Hatami dalam pidato yang disampaikan di Zanjan Sabtu (28/7) menegaskan, rakyat Iran dengan sejarahnya yang gemilang dengan kemuliaan, kekuatan serta pengorbanannya telah menyumbangkan ribuan syahid dan veteran perang, tidak diragukan akan mampu melewati situasi saat ini.

Komandan Pasukan Quds Iran, Mayor Jenderal Qassem Soleimani mengatakan bahwa memulai perang dengan Iran berarti kehancuran semua fasilitas AS dan kami yang akan menentukan akhir dari perang yang kalian mulai. Berbicara pada sebuah acara di kota Hamedan, barat Iran, Kamis (26/7/2018), Mayjen Soleimani menandaskan, “Sebagai seorang prajurit, saya bertugas untuk menanggapi ancaman Trump. Jika dia ingin menggunakan bahasa ancaman, dia harus berbicara dengan saya, bukan kepada presiden (Hassan Rouhani).”

Komandan Pasukan Quds Iran, Mayor Jenderal Qassem Soleimani

Dalam pesan yang ditujukan kepada presiden AS, Mayjen Soleimani mengatakan, "Apakah Anda mengancam Iran dengan tindakan yang belum pernah terjadi di dunia? Anda harus bertanya kepada para komandan militer, politisi, dan kepala badan keamanan AS, apa yang mereka mampu lakukan dalam beberapa dekade terakhir."

Menurut Mayjen Soleimani, pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam dengan sendirinya siap meladeni AS, dan tidak perlu melibatkan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran. Ditegaskannya, "Di tempat yang tidak pernah Anda bayangkan, kami hadir di sana karena rakyat Iran adalah bangsa pencari mati syahid dan telah melewati masa-masa sulit,".

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, situasi saat ini telah menghadirkan banyak peluang bagi Iran, dan hari ini AS menyaksikan dirinya terisolasi dan mengandalkan tekanan politik maksimum demi memajukan tujuannya. Menurutnya, para pejabat Amerika telah kecanduan sanksi dan tidak hanya menjatuhkan sanksi atas Iran.

Menlu Zarif mengatakan, Iran dapat mengubah tekanan untuk memacu produksi nasional dan meningkatkan ekspor non-minyak serta menunjukkan kepada Amerika bahwa mereka harus meninggalkan kecanduannya pada sanksi. Amerika di masa lalu, lanjutnya, mengklaim sebagai pemimpin dunia, tetapi Amerika sekarang berdiri melawan sistem ekonomi liberal dunia, yang telah dibangun oleh mereka sendiri selama bertahun-tahun.

Sebelumnya, Menlu Iran Senin (23/7) menjawab statemen keras Presiden AS Donald Trump mengenai Tehran. Zarif di tweetnya mengatakan bahwa ancaman Trump tidak penting bagi bangsa Iran, dan rakyat Iran selama 40 tahun sering mendengar statemen klise seperti ini.

Menlu Iran kepada Trump menjelaskan, bangsa Iran telah eksis selama ribuan tahun dan menyaksikan kejatuhan berbagai dinasti dan kerajaan termasuk kerajaan mereka sendiri yang usianya bahkan lebih panjang dari berbagai negara lain.  Presiden AS, Donald Trump di akun twitternya menulis, jika ada ancaman lagi terhadap AS, maka Iran akan menyaksikan dampaknya yang jarang mereka saksikan.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif

Presiden Iran, Hassan Rouhani dalam pidatonya secara tegas mereaksi klaim AS yang tidak akan membiarkan minyak Iran diekspor ke luar negeri. Presiden Rouhani mengatakan, presiden AS harus menyadari bahwa Iran penjamin keamanan di perairan kawasan sepanjang sejarah dan jangan bermain dengan ekor singa karena balasan Iran akan menyakitkan.

Salah seorang anggota Senat Amerika Serikat mengatakan, pemerintahan Presiden Donald Trump dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi Hubungan Luar Negeri Senat mengakui, hingga kini tidak ada satu negarapun yang mendukung sanksi Washington terhadap Iran. Senator Chris Murphy menuturkan, Donald Trump sampai sekarang belum berhasil meraih dukungan satu negarapun terkait sanksi yang akan dijatuhkan kepada Iran.

Sebelumnya, Gedung Putih pada 8 Mei 2018 mengumumkan keluar dari kesepakatan nuklir, JCPOA dan dalam kerangka sanksi baru, mengaku akan menekan ekspor minyak Iran hingga ke titik terendah mulai tanggal 4 November 2018 mendatang.

Analis energi Irak, Hamzah al-Jawahiri memprediksi bahwa harga minyak bisa mencapai 400 dolar per barel jika Selat Hormuz ditutup. Jawahiri dalam wawancara dengan kantor berita al-Maalomah Irak, Sabtu (28/7/2018) mengatakan, "Jika Selat Hormuz ditutup, maka ekonomi dari banyak negara industri akan terpuruk, karena industri mereka membutuhkan minyak dan penutupan selat ini bermakna Perang Dunia III."

Di bidang teknologi, pekan lalu digelar Pameran Elektronik, Komputer, dan E-Commerce Internasional Iran ke-24 yang dikenal dengan ELECOMP, dibuka di Tehran mulai hari Sabtu (28/7/2018) di Tehran International Exhibition Center. Acara pembukaan kegiatan ini dihadiri oleh Staf Khusus Presiden untuk Bidang Sains dan Teknologi, Sorena Sattari dan Menteri Telekomunikasi dan Informatika Iran, Mohammad Javad Azari Jahromi.

ELECOMP 2018 diramaikan dengan partisipasi perusahaan dari Iran dan luar negeri untuk memperkenalkan produk elektronik terbaru mereka. Acara ini akan berlangsung sampai 31 Juli 2018.

Pameran ELECOMP adalah kegiatan komersial terbesar di pasar elektronik dan produk serta layanan komputer di Iran. Sejak diluncurkan pada tahun 1995, banyak perusahaan telah memperkenalkan pencapaian terbaru mereka di sektor perangkat lunak dan keras dalam acara setiap tahun.

Tags

Aug 03, 2018 15:29 Asia/Jakarta
Komentar