Sejumlah tema yang dibahas di Iran Aktualita edisi 17 Agustus 2018; Rahbar Jelaskan Masalah Perundingan dengan AS, Militer Iran Perkenalkan Rudal Baru, International Mathematical Union Kenang Matematikawan Wanita Iran dan Minta Muslimah Iran Lepas Jilbab, Tehran Protes Otoritas Georgia

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada 13 Agustus lalu bertemu dengan ribuan warga dari berbagai provinsi Iran di kota Tehran. Dalam pertemuan itu, Rahbar berbicara tentang kondisi ekonomi dan mata pencaharian masyarakat, kelakuan buruk Amerika Serikat, serta pentingnya persatuan antara rakyat dan pemerintah.

Mengenai kondisi ekonomi Iran, mata pencaharian masyarakat, dan kenaikan harga barang, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Sebagian besar pakar ekonomi dan banyak pejabat sepakat bahwa pemicu semua masalah ini bukan sanksi, tetapi karena masalah internal, mismanagemen, dan salah urus. Jika kinerja lebih baik, lebih efisien, lebih cepat, dan lebih tegas, maka sanksi tidak akan banyak berpengaruh dan ia bisa dilawan."

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menekankan, "Di negara ini, tidak ada istilah jalan buntu, karena permasalahan negara sudah diketahui dan juga ada solusi untuk semua persoalan itu, hanya saja para pejabat perlu bekerja lebih keras lagi. Para pemuda dan tenaga ahli memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah. Masalah ekonomi Iran punya jalan keluar, dan tidak seperti yang dikampanyekan oleh musuh dan beberapa pengikut mereka bahwa negara sudah membentur jalan buntu dan tidak ada jalan lain kecuali berlindung ke Syaitan Besar."

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menuturkan sikap para pejabat AS semakin kurang ajar dan sangat lancang dalam beberapa bulan terakhir. Menurut Rahbar, para pejabat AS sebelum ini juga tidak menjaga etika diplomatik dalam membuat pernyataan, namun rezim AS saat ini berbicara dengan dunia secara tidak sopan, kurang ajar, dan tidak beretika; seakan rasa malu benar-benar telah hilang dari mereka.

Rahbar menandaskan bahwa para pejabat rezim AS secara lancang berbicara tentang sanksi, perang, dan perundingan dengan Iran. Beliau mengkritik tawaran AS untuk berunding dengan menyatakan, "Dalam masalah negosiasi, mereka memainkan permainan yang buruk. Salah satunya mengatakan, negosiasi dengan prasyarat, yang lain berbicara tentang negosiasi tanpa prasyarat. Izinkan saya menyampaikan kepada masyarakat bahwa tidak akan ada perang, juga tidak akan ada perundingan dengan AS.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Abolqasem Qasemzadeh, seorang analis urusan politik dalam sebuah artikel di surat kabar Ettela'at tentang strategi baru militer Trump, menulis, "Trump dalam semua visi politiknya di Timur Tengah mengejar dua misi; pertama, memperlemah Republik Islam Iran, terutama dengan penerapan sanksi ekonomi. Dan kedua, menyesuaikan semua kebijakan Timur Tengah untuk menstabilkan hegemoni Israel."

Pekan lalu, Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami mengatakan, Republik Islam Iran mampu menembus seluruh rintangan dan sistem pertahanan rudal musuh, dan industri pertahanan Iran adalah salah satu prinsip utama independensi, serta penjamin keamanan dan stabilitas negara. Pada acara peluncuran rudal Fateh Mobin di Tehran, dia menuturkan, "Hari ini tidak ada yang mampu membendung rudal ini dan sebabnya adalah fleksibilitas, taktis dan kemampuan tinggi yang dimiliki rudal ini."

Brigjen Hatami menekankan bahwa rudal Fateh Mobin seratus persen produk dalam negeri Iran. Sekarang seluruh keperluan personil Angkatan Bersenjata Iran diproduksi di dalam negeri, tanpa bergantung pada pihak asing, dan Iran mampu menjaga keamanannya dalam jangka panjang terutama dengan diproduksinya rudal Fateh Mobin ini.

Rudal Fateh Mobin yang merupakan generasi baru rudal darat ke laut dan dilengkapi dengan pelacak canggih dan pintar, mampu mendeteksi dan menembak target di darat dan laut kapan saja, siang maupun malam, dalam berbagai kondisi lingkungan dan cuaca, termasuk hujan, kabut atau perang elektronik.

The American Enterprise Institute (AEI) dalam sebuah laporan pada Agustus 2017 lalu menulis, "Selama masa perang yang dipaksakan dengan dukungan luas dari kekuatan dunia kepada Saddam, Iran mengalami banyak kerugian, terutama akibat serangan rudal rezim Baath Irak ke kota-kota dan daerah pemukiman." Namun, AS sekarang menilai kemampuan dan kekuatan militer Iran sebagai halangan terbesar bagi ambisi hegemoninya, dan Iran tidak akan merundingkan kemampuan rudal pertahanannya dengan negara manapun.

Republik Islam Iran – tidak seperti beberapa negara Arab di wilayah Teluk Persia – tidak pernah berambisi untuk membeli miliaran senjata, karena negara ini memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pertahanannya sesuai dengan hukum internasional, dengan mengandalkan kemampuan para ilmuwan Iran.

Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam sebuah wawancara dengan media Jerman, Jurgen Todenhofer mengatakan bahwa Iran membelanjakan sedikit senjata dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan. Iran memiliki rudal yang tidak mampu membawa hulu ledak nuklir dan jangkauan maksimumnya adalah 2.000 kilometer. Sementara Arab Saudi memiliki rudal dengan jangkauan yang lebih tinggi dari kami. Misil-misil ini mampu membawa hulu ledak nuklir, sementara rudal kita tidak dirancang demikian. Rudal Saudi memiliki jangkauan 2.500 kilometer."

Pekan lalu, International Mathematical Union menerima usulan Komite Matematikawan Wanita Iran untuk menetangkan tanggal 3 Mei sebagai Hari Internasional Matematikawan Wanita. Tanggal ini dipilih untuk mengenang hari kelahiran Maryam Mirzakhani, legenda matematika dari Iran, yang meninggal dunia pada Juli 2017.

Pada Juli 2014, Maryam Mirzakhani membuat sejarah sebagai wanita pertama yang memenangkan Medali Fields, penghargaan paling bergengsi di bidang matematika. Dia juga memenangkan Clay Research Award dan penghargaan AMS Blumenthal, dan terpilih sebagai anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis, Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional dan Akademi Seni dan Sains Amerika. Mirzakhani adalah seorang profesor di Departemen Matematika di Universitas Stanford AS, di mana dia menginspirasi para mahasiswa dan koleganya.

Mirzakhani lahir di kota Tehran pada tahun 1977, dan telah menunjukkan bakatnya dalam bidang matematika pada usia remaha. Saat itu, ia memenangkan dua medali emas dalam kompetisi Olimpiade Matematika Internasional. Dia melanjutkan studinya untuk menerima gelar PhD dari Universitas Harvard, bekerja di bawah pengawasan Curtis McMullen. Tesisnya dengan cepat membuat dirinya diakui sebagai seorang matematikawan yang kreatif dan visioner.

Maryam Mirzakhani

Hari ini adalah salah satu kebanggaan Iran adalah mencapai kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan. Menurut statistik situs Scimagojr dari tahun 1996-2016, Iran tumbuh secara signifikan dalam hal produksi ilmu pengetahuan pada tingkat dunia. Dengan menerbitkan 6.810 artikel pada tahun 2016, Iran dengan cepat menduduki posisi 11 dunia setelah Cina, Amerika Serikat, India, Jerman, Jepang, Rusia, Korea Selatan, Inggris, Prancis, dan Italia.

Pekan lalu, Kedutaan Besar Iran di Tbilisi mengirim surat protes ke Kementerian Luar Negeri Georgia atas pelecehan terhadap beberapa wanita Iran, yang diminta untuk melepas jilbab mereka saat pemeriksaan keamanan di bandara Tbilisi. Juru bicara Kemenlu Iran Bahram Qasemi pada hari Kamis (16/8/2018) mengatakan, beberapa penumpang wanita dari penerbangan Tbilisi-Isfahan telah diminta oleh pihak keamanan bandara Tbilisi untuk melepas jilbab mereka.

Dia menambahkan, “Setelah menerima laporan, duta besar Iran untuk Georgia memanggil beberapa penumpang untuk memastikan kebenaran kejadian itu dan kemudian mengirim nota protes keras kepada Kemenlu Georgia dan otoritas keamanan bandara.” Selain itu, lanjut Qasemi, Departemen Konsuler Kemenlu Iran juga melayangkan nota protes lain ke Kedutaan Georgia di Tehran, dan meminta penjelasan dari dubes mereka tentang kejadian tersebut.

Dia menekankan bahwa Iran telah meminta pejabat Georgia untuk mencegah terulangnya insiden seperti itu dan kami juga meminta otoritas keamanan bandara untuk memperhatikan martabat wanita Muslim yang mengenakan jilbab.

Tags

Aug 25, 2018 14:08 Asia/Jakarta
Komentar