Dec 10, 2018 14:23 Asia/Jakarta
  • KTT Tehran
    KTT Tehran

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran menjelaskan bahwa kepala-kepala negara kuat sebelumnya hanya membawa perang dan malapetaka bagi kawasan, seraya menekankan, "Kini kita tidak membutuhkan kepala-kepala negara kuat sebelumnya, tapi kawasan yang kuat."

Menlu Zarif pada hari Ahad (09/12) di laman Twitternya, mengacu pada pernyataan Presiden Iran Hassan Rouhani pada pertemuan dengan ketua-ketua parlemen dari enam negara di kawasan, dimana ia menekankan perlunya dialog antarnegara seraya mengatakan, "Kini, kawasan membutuhkan dialog dialog, menghormati hukum internasional, menerima pihak lain, kerjasama ekonomi dan lebih banyak kontak people to people."

Presiden Hassan Rouhani

Pada hari Sabtu (08/12), Tehran menjadi tuan rumah bagi ketua-ketua parlemen dari enam negara Asia yang berpartisipasi dalam Konferensi Kerjasama Internasional tentang Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme. Topik-topik penting diangkat pada konferensi tersebut yang tidak diragukan lagi menyerukan peningkatan kerjasama untuk memperkuat keamanan kawasan dan memerangi terorisme dan ekstremisme.

KTT ini juga menarik perhatian kalangan Zionis, tetapi dari perspektif lain.

Surat kabar Zionis Jerusalem Post hari Ahad dalam sebuah analisa tentang keberhasilan KTT Tehran pada saat sanksi Amerika Serikat dan tekanan terhadap Iran, menunjukkan penguatan komunikasi intra-regional di Tehran, menulis, "Iran menjadi tuan rumah pertemuan puncak internasional yang penting dan menggambarkan wajah Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya yang terisolasi serta terus meningkatkan pengaruh mereka di kawasan dan di luarnya."

Dari perspektif koran Zionis ini, hubungan yang berkembang antara Rusia, Iran, Cina, Turki dan Pakistan tidak dapat diterima  bagi kebijakan Timur Tengah dan global Amerika Serikat. "Negara-negara ini bukan hanya secara bersama-sama menjagi ekonomi paling penting dan tentara militer besar di dunia, tetapi juga tantangan bagi Amerika Serikat di berbagai wilayah. Sementara kebijakan SS di Timur Tengah, seperti hubungan dengan Arab Saudi dan pendekatan terhadap Suriah telah jelas kehilangan tatanannya," tulis Jerusalem Post.

Kesepahaman seputar keamanan yang berkelanjutan dengan keikutsertaan negara-negara di kawasan ini tidak diragukan lagi adalah peristiwa yang luar biasa bagi negara-negara di kawasan.

Tentunya, dengan pendekatan semacam yang dilakukan KTT Tehran dari sudut pandang Jerusalem Post untuk Amerika Serikat, Israel, dan tentu saja, Arab Saudi, bukanlah sesuatu yang disambut baik, bahkan jika kehadiran militer AS di kawasan ini selama bertahun-tahun, termasuk di Afghanistan, Irak dan Teluk, bukan hanya tidak berpengaruh pada stabilitas dan keamanan, justru telah menyebabkan ketidakamanan dan krisis di wilayah tersebut. Dalam hal ini, terorisme telah menjadi musuh bersama negara-negara di kawasan ini.

Selama bertahun-tahun Amerika Serikat telah menyatakan dirinya sebagai penjaga kebebasan dan sponsor utama hak asasi manusia dan demokrasi di dunia, tetapi American Herald Tribune menulis dalam sebuah laporan yang ditulis oleh Robert Fantina, "Faktanya adalah bahwa mitos ini di luar perbatasan AS tidak dapat diraba dan dipercaya, sementara di dalam negeri ketidakpercayaan itu setiap hari semakin bertambah."

"Amerika menganggap Iran sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian, sementara seluruh dunia justru menyebut  Amerika sebagai ancaman," kata Noam Chomsky, pakar Amerika dalam sebuah wawancara.

Kenyataannya adalah bahwa rapor Amerika Serikat sejak kemerdekaannya telah penuh dengan perang dan pertumpahan darah di seluruh dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam situasi ini, kebutuhan kawasan adalah kerjasama dan bersandar pada kemampuan regional.

Dari perspektif Iran, keamanan kawasan harus didefinisikan dan dijelaskan sesuai dengan kepentingan kolektif negara-negara di kawasan agar memungkinkan untuk memutuskan intervensi kekuatan-kekuatan asing.

KTT Tehran

Dari sudut pandang ini, keberhasilan penyelenggaraan KTT Tehran mencerminkan kemampuan Iran untuk terlibat dalam interaksi regional dan dampaknya terhadap pembentukan konvergensi keamanan di kawasan. Menurut Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran, "Kini kita tidak membutuhkan kepala-kepala negara kuat sebelumnya, tapi kawasan yang kuat."

Tags

Komentar