Jan 22, 2019 17:11 Asia/Jakarta
  • Kazem Jalali, Ketua Pusat Penelitian Parlemen Iran dan Mitsigo Saito, Duta Besar Jepang untuk Iran
    Kazem Jalali, Ketua Pusat Penelitian Parlemen Iran dan Mitsigo Saito, Duta Besar Jepang untuk Iran

Mitsigo Saito, Duta Besar Jepang untuk Iran hari Senin (21/01) dalam pertemuan dengan Kazem Jalali, Ketua Pusat Penelitian Majlis Shura Islami Iran mengatakan, "Jepang akan melanjutkan pembelian minyak dari Iran. Karena minyak memiliki peran penting dalam pertumbuhan negaranya."

Mitsigo Saito menjelaskan, "9 dekade kerja sama bilateral antara Iran-Jepang di pelbagai bidang, selain hubungan sejarah, memiliki capaian penting bagi dua negara, dimana levelnya harus ditingkatkan."

Mitsigo Saito, Duta Besar Jepang untuk Iran

Sekaitan dengan hal ini, asosiasi kilang minyak Jepang beberapa waktu lalu menyatakan bahwa negara ini sangat membutuhkan minyak Iran.

Sesuai dengan data statistik kementerian perdagangan Jepang, negara ini pada bulan Agustus lalu telah mengimpor 177.475 barrel minyak mentah setiap harinya, dimana sebelumnya kilang-kilang minyak Jepang menghentikan pengisian kembali minyak Iran.

Sarana dan fokus sanksi Amerika Serikat baik di era Obama maupun di masa Trump telah menjadi penghambat penjualan minyak Iran. Dengan melakukan pendekatan menghentikan penjualan minyak Iran bagi Amerika Serikat adalah tujuan strategis. Tetapi dasar dari tujuan komputasi ini adalah salah, oleh karena itu, Amerika Serikat tidak berhasil mempengaruhi pelanggan minyak utama Iran sejak awal November 2018, ketika negara itu memulai kembali sanksi terhadap Iran.

Ada dua analisa dalam hal ini; pertama, sebagaimana yang diharapkan Amerika Serikat tidak dapat berharap banyak dari Arab Saudi untuk meminggirkan peran Iran dalam memasok minyak.

Adapun analisa kedua, dapat dilihat bahwa Amerika sangat prihatin dengan efek negatif dari bersikeras memaksakan sanksi minyak Iran pada negara lain. Itu pun dalam kondisi ketika Amerika Serikat menghadapi tantangan domestik dan setiap kekalahan dalam kebijakan luar negeri mempengaruhi semua masalah.

Dengan alasan ini, Amerika Serikat mencari jalan keluar untuk mencegah Eropa dan negara-negara kuat seperti Cina, Jepang dan India untuk langsung menentangnya dan mencegah reaksi keras mereka. Eropa sangat mengkritik penarikan diri Amerika dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Sikap Uni Eropa tentang tidak hadir di konferensi anti-Iran dan beberapa sekutunya di Polandia pada Februari mengkonfirmasi hal ini. Eropa telah mendorong komitmennya untuk terus maju. Tetapi dalam hal ini, dengan keseriusannya Eropa mendukung perwujudan mekanisme perdagangan dengan Iran dengan segera dan diimplementasikan.

Oleh karena itu, pembebasan delapan negara dari sanksi sekunder Amerika Serikat dapat dilihat sebagai semacam adaptasi AS terhadap fakta lapangan. Di sinilah mengadopsi mekanisme moneter dan mata uang antara Iran dan pelanggan minyaknya telah mengambil inisiatif dari Amerika Serikat. Misalnya, peluncuran kontrak minyak dengan Cina ke Yuan dan baru-baru ini perjanjian antara Iran dan India untuk membayar harga minyak yang dibeli ke rupee secara praktis merusak sanksi AS dan memberikan rute alternatif untuk menghilangkan dolar dari transaksi minyak. Sesuai dengan data statistik, Cina mengimpor 35 persen, India 33 persen, Uni Eropa 20 persen, dan Turki 7 persen dari penjualan minyak Iran.

Reza Padidar, Ketua Komisi Energi Kamar Dagang dan Industri mengatakan, "Dengan menciptakan bursa minyak, sektor swasta dapat menyediakan minyak yang dibutuhkan oleh pabrik penyulingan kecil di Cina dan di sisi lain, pelanggan di negara-negara Asia Tenggara yang dapat mentransfer minyak ke perusahaan-perusahaan ini."

Eshaq Jahangiri, Wakil Presiden Republik Islam Iran

Eshaq Jahangiri, Wakil Presiden Republik Islam Iran pada hari Senin (22/01) di Kerman (Iran selatan) mengatakan, "Terlepas dari semua rencana Amerika Serikat untuk mencegah penjualan minyak dan transfer uang ke Iran, Tehran menjual minyak sebanyak yang diperlukan."

Tren ini menunjukkan bahwa sanksi Amerika Serikat terhadap Iran pasti gagal dan memalukan dan Iran bahkan tidak akan kehilangan ekspor minyak walau hanya satu barel.

Tags

Komentar