Apr 26, 2019 11:22 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan, Amerika Serikat harus dicegah dalam mewujudkan kepentingannya dengan melakukan aksi ilegal demi menjaga dan mempertahankan multilateralisme di dunia.

Mohammad Javad Zarif dalam sidang Majelis Umum PBB hari Rabu (24/4) memperingati "Hari Internasional Multilateralisme dan Diplomasi untuk Perdamaian"  mengatakan, segala bentuk tekanan AS terhadap negara lain harus ditolak, karena melanggar hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Pemerintahan AS saat ini yang dipimpin oleh Donald Trump tidak menghargai perjanjian dan hukum internasional, dan mengambil kebijakan apa pun demi meraih tujuan yang diinginkannya. Kini, unilateralisme AS tidak hanya dilancarkan terhadap Iran, tapi juga dilakukan terhadap banyak negara lain di dunia.

 

Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif

Keluarnya AS dari JCPOA serta Dewan Hak Asasi Manusia PBB dan badan-badan PBB lainnya, Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim dan Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF) adalah bagian dari tindakan ilegal pemerintah Trump, yang mengancam multilateralisme di dunia.

Kebijakan unilateralisme yang didasarkan pada realisme agresif yang diwakili oleh pemerintah Trump merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan global, bahkan misi PBB akan dipertanyakan. Sikap diam terhadap sepak terjang Presiden Amerika Serikat akan menciptakan bahaya baru di tengah masyarakat internasional. Dalam situasi demikian, kebijakan Trump bukan hanya menargetkan negara-negara yang selama ini dipandang sebagai musuh AS saja, tapi juga menyasar sekutu negara itu.

Tekanan AS terhadap negara-negara Eropa yang selama ini menjadi mitra dekat Washington dalam masalah bea cukai dilakukan untuk menciptakan kesenjangan antara Eropa Lama dan Eropa Baru dengan dukungan kubu sayap kanan ekstrem. Fakta ini dengan jelas menunjukkan kebijakan unilateral pemerintahan Donald Trump terhadap sekutu tradisionalnya sendiri.

 

Pasdaran

Salah satu puncak dari unilateralisme dan konfrontasi pemerintah AS di dunia dilakukan terhadap Korps Pengawal Revolusi Islam Iran atau Pasdaran. Ketidakpedulian terhadap masalah ini di tingkat global dapat menimpa negara merdeka lain di mana pun di dunia. Stempel teroris yang dilekatkan sebuah negara terhadap angkatan bersenjata negara lain adalah pendekatan berbahaya yang harus ditanggapi serius oleh publik internasional.

Kebijakan sepihak yang diambil pemerintahan Trump terhadap Pasdaran tidak boleh diabaikan begitu saja. Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai simbol multilateralisme dan dukungan bagi perdamaian dunia harus memainkan peran penting dalam menghadapi perilaku otoriter AS. Mengenai masalah ini, Koldo Salazar, pakar politik dari Spanyol dalam wawancara dengan Radio IRIB World Service Siaran bahasa Hispanik menyinggung permusuhan AS terhadap Pasdaran. Ia mengatakan, dalam kondisi yang sangat sensitif saat ini, Dewan Keamanan PBB harus melakukan intervensi dan tindakan nyata.

Setelah mengambil langkah ilegal terhadap Pasdaran, Gedung Putih melanjutkan kebijakan sepihaknya dengan mencabut pengecualian bagi negara-negara dunia dalam pembelian minyak Iran. Masalah ini menunjukkan tirani Amerika yang tidak memiliki komitmen terhadap pihak manapun termasuk sekutunya sendiri dengan mengorbankan kepentingan setiap negara demi mewujudkan tujuannya.

Kelanjutan pendekatan ini menjadi ancaman serius bagi multilateralisme di kancah internasional. Sebab perdamaian dan keamanan akan bisa dijamin dalam naungan kerja sama dan multilateralisme. Menghadapi  pendekatan unilateralisme yang diambil oleh pemerintah Trump, negara-negara dunia dan PBB memainkan peran penting dalam melestarikan multilateralisme.

Di bawah bayang-bayang unilateralisme Trump, diplomasi untuk perdamaian tidak akan efektif. Oleh karena itu, negara-negara dunia harus mengambil tindakan praktis untuk menyelamatkan multilateralisme dalam tatanan internasional. Ketika Piagam PBB dan hukum internasional tidak dihormati, maka tidak akan terjamin perdamaian dan keamanan global.(PH)

Tags

Komentar