Mei 12, 2019 14:21 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Khamenei
    Ayatullah Khamenei

Dinamika Iran sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya pertemuan Rahbar dengan para ulama, guru dan pelajar agama di Iran.

Isu lainnya mengenai sikap tegas pejabat tinggi Iran terhadap Eropa, pernyataan Presiden Rouhani bahwa bangsa Iran tidak akan menyerah terhadap tekanan lawan, statemen Salehi bahwa Iran tidak lagi harus mematuhi pengayaan 300 kg uranium, Menlu Iran menyebut AS dibenci masyarakat Timur Tengah, dan pengaruh ilmiah Iran di Asia Barat duduki posisi pertama.

 

Rahbar: Ulama, Realisasikan Tauhid dan Tegakkan Keadilan

Pemimpin Besar Revolusi Islam hari Rabu (08/05) bertemu dengan sekitar dua ribu ulama, guru dan pelajar agama yang datang dari berbagai penjuru Iran. Ayatullah Khamenei dalam pertemuan tersebut menyebut kewajiban pesantren dan ulama adalah menjelaskan ajaran Islam dan berusaha merealisasikannya di tengah masyarakat.

"Ulama sebagai pewaris para Nabi harus berjuang untuk merealisasikan tauhid dan menegakkan keadilan," ujar Ayatullah Khamenei.

"Di dalam negeri, perhatian yang diberikan kepada masalah agama dan ulama hari ini tidak dapat dibandingkan dengan masa lalu dan sebelum Revolusi Islam," tegas Rahbar.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, "Gambaran bahwa orang-orang di seluruh dunia telah berpaling dari ajaran agama adalah kesan yang keliru, sebab keingingan untuk lebih tahu ajaran ini justru semakin besar."

Sambil menyitir ayat-ayat al-Quran tentang jihad dan perjuangan para Nabi, Rahbar menekankan, "Tugas Nabi bukan hanya menjelaskan ajaran Islam. Dengan alasan ini, Nabi Muhammad Saw berjuang untuk merealisasikan tauhid dan menegakkan keadilan agar makna komprehensif dan lengkapnya akan terwujud."

 

Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran

Pejabat Tinggi Iran Sampaikan Sikap Tegas terhadap Eropa

Dewan Tinggi keamanan nasional Iran hari Rabu (8/5) mengeluarkan statemen dengan memberikan tenggat waktu kepada 60 hari kepada negara-negara yang masih ada di JCPOA (Inggris, Jerman, Perancis, Rusia dan Cina) untuk memenuhi komitmennya, terutama di bidang perbankan dan minyak.

Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran dalam pernyataannya menekankan, "Selama tuntutan Iran dijamin, Tehran akan terus melanjutkan komitmennya yang ditangguhkan. Tetapi jika tidak, Iran akan menghentikan komitmen lainnya setahap demi setahap."

Ditegaskannya, Iran, pada tahap saat ini, tidak berkomitmen untuk menghormati batasan terkait pemeliharaan cadangan uranium yang diperkaya dan pasokan air berat.

Presiden Iran, Hassan Rouhani mengatakan, "Kesepakatan Iran di JCPOA adalah menjaga tingkat pengayaan di level 3,67. Kini, kami tidak akan menahan diri dari tindakan ini. Artinya, level sudah tidak bermakna bagi kami. Sementara terkait reaktor air berat Arak, kami akan memutuskannya setelah 60 hari, dimana kami melanjutkan program sebelum kesepakatan JCPOA dan menyelesaikan reaktor air berat Arak."

Langkah Iran menerima secara sukarela pengurangan tingkat kegiatan nuklirnya untuk periode tertentu juga telah menjadi ukuran membangun kepercayaan, tetapi Trump tidak hanya mengabaikan prinsip ini, bahkan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pernyataannya mengatakan, "Kami telah mengumumkan kepada negara-negara anggota JCPOA (Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dan China) bahwa mereka memiliki waktu selama 60 hari untuk datang ke meja perundingan. Jika negosiasi dengan lima negara mencapai kesepakatan dan kepentingan utama Iran, terutama di bidang minyak dan perbankan terpenuhi, maka kami akan kembali ke situasi sebelumnya. Tetapi jika kami tidak mendapatkan hasil di akhir periode 60 hari tersebut, maka kami akan memulai dua langkah lain,".

Rouhani juga mengingatkan, dalam sebuah pesan kepada lima negara, kami dengan jelas mengatakan kepada mereka jika ingin mencari alasan lagi dari tindakan kami hari ini dan mengembalikan kasus Iran ke Dewan Keamanan PBB, maka mereka akan menghadapi tindakan tegas dari Iran.

Statemen para pejabat tinggi Iran ini menunjukkan bahwa keputusan hari ini dan batas waktu 60 hari dari Iran untuk pihak lain harus dianggap sebagai peringatan serius mengenai tujuan AS dan nasib akhir JCPOA.

 

Hassan Rouhani

Rouhani: Bangsa Iran tidak akan Menyerah!

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam sebuah pernyataan, Sabtu (11/5/2019) malam, mengatakan bangsa Iran tidak pernah dan tidak akan tunduk pada tekanan.

Statemen itu mengacu pada tekanan politik dan ekonomi yang diterapkan musuh terhadap Republik Islam.

"Sikap menyerah tidak sejalan dengan kultur dan agama bangsa Iran," tegasnya dalam pertemuan dengan sekelompok aktivis politik di Tehran.

Bangsa Iran, lanjut Rouhani, tidak akan tunduk di hadapan rezim agresor dan arogan, dan bangsa ini akan mengalahkan musuh.

AS sedang menerapkan tekanan maksimum terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump secara sepihak meninggalkan kesepakatan nuklir JCPOA. Trump kemudian mengembalikan sanksi-sanksi nuklir terhadap Republik Islam.

Tindakan tersebut mengundang kecaman di dalam Amerika dan dunia internasional.

 

Ali Akbar Salehi

Salehi: Iran tidak lagi harus Mematuhi Pengayaan 300 kg Uranium

Kepala Badan Energi Atom Iran (AEOI), Ali Akbar Salehi mengatakan, hari ini (Rabu, 8/5) Iran tidak lagi harus mematuhi batas 300 kg pengayaan uranium 3,67 persen dan 130 ton air berat.

"Berdasarkan butir 26 JCPOA, Iran berhak menangguhkan sejumlah poin JCPOA ketika menilai pihak seberang tidak menjalankan komitmennya sehingga perilaku mereka dipertimbangkan kembali," ujar Salehi.

Menurutnya, AS menghalangi penjualan uranium yang diperkaya atau air berat Iran, padahal ini merupakan hak Tehran di JCPOA.

"Mempertimbangkan langkah AS dan negara anggota yang lain yang tidak memenuhi janjinya setelah Washington keluar dari JCPOA, presiden Iran mengumumkan penangguhan penjualan uranium yang diperkaya dan air berat hingga pengumuman berikutnya.

Ketua Badan Energi Atom Iran menjelaskan bahwa Iran untuk saat ini tidak akan keluar dari JCPOA, dan menekankan, jika dalam 60 hari, negara lain di JCPOA mampu menjamin pandangan Tehran maka Iran juga akan bertindak sesuai dengan kesepakatan nuklir.

 

Mohammad Javad Zarif

Zarif: AS Dibenci Masyarakat Timur Tengah

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan, masyarakat Timur Tengah membenci AS, sehingga negara ini merasa tidak aman di kawasan.

"Jika AS dan antek-anteknya merasa tidak aman, hal itu karena masyarakat di kawasan membencinya dan tidak setuju langkahnya menuding Iran. Kondisi ini tidak akan berubah," tulis Zarif di akun twitternya hari Selasa (7/5).

"Tim 'B' kembali sibuk untuk mengumumkan pengiriman kapal perang yang sudah dilakukan sejak bulan lalu untuk mengancam Iran supaya mengubah sikapnya," tambah Menlu Iran menyikapi pernyataan empat orang tim B.

Tim B yang disebutkan Zarif yaitu Bolton selaku penasehat keamanan nasional AS, Benyamin Netanyahu (PM rezim Zionis Israel), Bin Salman (putera mahkota Arab Saudi) dan Bin Zayed (putera mahkota UEA).

Keempat orang ini memprovokasi AS supaya mengirimkan kapal perangnya ke Teluk Persia dan menghasut perang dengan Iran.

 

Pengaruh Ilmiah Iran di Asia Barat Duduki Posisi Pertama

Data terbaru Scientific Journal Rankings (SJR) menempatkan nama Republik Islam Iran di puncak negara-negara Asia Barat dalam hal pengaruh ilmiah.

"Para periset Iran menduduki peringkat pertama di antara negara-negara Asia Barat dengan memproduksi 54.388 jurnal ilmiah dan juga 28.813 artikel," kata SJR dalam laporan terbarunya seperti dikutip IRNA, Sabtu (11/5/2019).

Turki dan Arab Saudi dengan memproduksi 42.405 jurnal ilmiah dan 20.644 artikel, berada di urutan berikutnya setelah Iran.

SJR adalah sebuah portal publik yang menyajikan indikator ilmiah negara-negara dunia. Informasi mereka berasal dari situs Scopus, pusat data terbesar yang memuat puluhan juta literatur ilmiah.

Indikator ini dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menganalisis pencapaian ilmiah sebuah negara.(PH)

 

 

 

 

Tags

Komentar