Mei 16, 2019 12:49 Asia/Jakarta
  • Momen perayaan ulang tahun Revolusi Islam Iran ke-40. (dok)
    Momen perayaan ulang tahun Revolusi Islam Iran ke-40. (dok)

Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Mayor Jenderal Hossein Salami mengatakan, musuh-musuh Republik Islam telah membentur jalan buntu dan meski mereka terlihat gagah, namun mereka keropos dari dalam.

Dalam sebuah pernyataan hari Rabu (15/5/2019) di Tehran, Mayjen Salami menambahkan, musuh dengan menerapkan strategi tekanan maksimum dan mengerahkan semua kapasitasnya, berusaha mematahkan keteguhan rakyat Iran, tetapi mereka tidak menyadari bahwa ketenangan, keamanan, kemuliaan Iran bersumber dari perlawanan, ketahanan, dan pengorbanan, dan musuh akan gagal di sini.

Permusuhan AS terhadap Iran mencapai puncaknya setelah satu tahun dari pengumuman Trump keluar dari perjanjian nuklir JCPOA. Washington dengan strategi tekanan maksimum dan juga ancaman militer, ingin menyeret Tehran ke meja perundingan yang sesuai dengan keinginannya.

Pemerintahan Trump dan timnya ingin membuka perundingan baru yang mencakup kemampuan rudal dan pengaruh regional Iran, di samping isu kegiatan nuklir. Pada 8 Mei 2018, Trump keluar dari JCPOA dengan alasan perjanjian itu cacat dan tidak mencakup semua isu yang terkait Iran.

Untuk mencapai ilusinya ini, AS bekerja sama dengan rezim Zionis Israel dan beberapa negara Arab di Teluk Persia. Memperkenalkan Iran sebagai ancaman di Asia Barat telah menjadi instrumen bagi Trump sehingga bisa memeras negara-negara Arab.

Raja Salman dan Presiden Donald Trump di Riyadh. (dok)

Beberapa negara Arab di Teluk Persia terutama Arab Saudi, mengikuti kebijakan Trump dan membentuk front bersama untuk melawan Iran. Namun sebelum ini, front tersebut telah gagal dalam melawan poros perlawanan yang dipimpin Iran di Suriah, Irak dan Yaman.

Pengaruh efektif Iran di Asia Barat dan komponen-komponen kekuatannya, termasuk kekuatan rudal, telah memicu kemarahan AS dan sekutunya. Saat ini, AS meningkatkan perang psikologis terhadap Iran dan strategi ini tidak akan memaksa Tehran untuk menyerahkan komponen kekuatannya kepada musuh.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada Selasa lalu, mengatakan pilihan pasti bangsa Iran dalam menghadapi musuh adalah perlawanan di semua lini, karena negosiasi dengan pemerintah AS saat ini adalah racun.

Ayatullah Khamenei menegaskan, perang tidak akan terjadi, tetapi yang akan terjadi adalah perang tekad. Dalam hal ini, tekad bangsa Iran dan sistem Republik Islam lebih kuat dari musuh dan dengan izin Allah Swt, kali ini kita juga akan menang.

Pengalaman 40 tahun permusuhan AS terhadap Iran menunjukkan bahwa Republik Islam selalu menang dalam perang tekad.

Perlawanan, tekad, dan pengenalan baik rakyat Iran akan musuh telah membuat pemerintah AS gagal dalam meraih tujuannya. Tekanan maksimum dengan maksud memicu protes dari dalam, juga tidak akan mengantarkan para pejabat Washington pada mimpinya.

Dengan semua permusuhan ini, Republik Islam akan melewati fase sensitif ini dengan tekad dan perlawanan rakyat yang tentu lebih kuat dari sebelumnya.

"Tidak seorang pun harus takut akan AS yang tampak digdaya, baik kehebatan mereka maupun kekayaan Qarun yang dimiliki negara-negara (Arab) di Teluk Persia. Kekuatan mereka yang sebenarnya jauh lebih kecil daripada kegaduhan yang mereka buat," ungkap Ayatullah Khamenei. (RM)

Tags

Komentar