• Festival Film Iran Pertama di Malaysia.
    Festival Film Iran Pertama di Malaysia.

Festival film Iran perdana di Malaysia dimulai dengan peluncuran film "Under the Smoky Roof" di Golden Screen Cinemas (GSC) di Kuala Lumpur, ibukota Malaysia. Festival yang dimulai pada hari Senin (5/3/2018) malam itu mendapat sambutan luas dari para penggemar budaya dan peradaban Iran.

Menurut laporan IRNA, pembukaan Festival Film Iran Pertama di Malaysia dihadiri oleh Duta Besar Republik Islam Iran Marzieh Afkham, Atase Kebudayaan Iran untuk Kuala Lumpur Ali Mohammad Sabeghi, beberapa dubes negara-negara lain, aktris terkenal Iran Merila Zarei, warga Iran yang tinggal di Kuala Lumpur dan mereka yang aktif dalam industri perfilman Malaysia serta penggemar film-film Iran.

 

"Kami berharap festival film ini menjadi peluang untuk mengenal lebih tentang budaya Iran yang kaya," kata Afkham dalam sambutannya.

 

Ia menjelaskan, pembukaan Festival Film Iran Pertama ini bertepatan dengan ulang tahun sinema Iran ke-120, di mana dalam empat dekade terakhir pasca kemenangan Revolusi Islam, sinema ini mampu menggambarkan tentang fakta, nilai-nilai kemanusiaan, kebutuhan terhadap moderasi dan moralitas, menjauhi kekerasan dan ekstremisme, pentingnya pondasi keluarga dan peran khusus perempuan dalam masyarakat modern yang diluncurkan dengan beragam metode berlandaskan budaya 7.000 tahun peradaban Iran.

 

Dubes Iran untuk Kuala Lumpur menuturkan, sinema bisa menjadi jembatan penghubung di antara masyarakat dan memperkuat hubungan itu. Ia berharap festival tersebut bisa menjadi jembatan hubungan antara rakyat Iran dan Malaysia.

 

Sementara itu, Merila Zarei, aktris dalam Film Under the Smoky Roof mengatakan, saya adalah seorang seniman Iran dari sebuah negara dengan berbagai peradaban dan budaya kuno.

 

Ia mengungkapkan kepuasannya bisa menghadiri Festival Film Iran Pertama di Malaysia, di mana event ini untuk menjelaskan fakta tentang sinema Iran, terutama partisipasi luas perempuan dalam dunia perfilman.

 

Zarei juga mengundang para peserta festival yang belum pernah mengunjungi Iran untuk berkunjung ke negara ini dan melihat dari dekat negara dengan empat musim tersebut.

 

Aktris terkenal Iran itu menuturkan, Iran memiliki pria-pria pemberani yang siap untuk membela negaranya dan siap untuk mempertahankan keyakinannya. Di negara kami, kata Zarei, perempuan dan laki-laki berusaha bersama-sama untuk merealisasikan tujuan-tujuan tersebut.

 

Festival Film Iran Pertama di Malaysia digelar hingga tanggal 17 Maret 2018 dan menampilkan enam film dan dua kelompok seniman Iran. Festival ini diselenggarakan di tiga kota Malaysia;  Kuala Lumpur, Penang and Johor Bahru.

 

Di antara film-film yang diluncurkan adalah "The Sweet Taste of Imagination"oleh Kamal Tabrizi, "The Queen" oleh Mohammad Ali Bashe Ahangar, "Crazy Castle" oleh Abolhassan Davoudi, "Ceasefire 2" oleh Tahmineh Milani, "Under the Smoky Roof" oleh Pooran Derakhshandeh, dan "Where Are My Shoes"oleh Keyiumars Pourahmad.

 

Festival Film Iran Pertama di Malaysia diselenggarakan oleh Pusat Kebudayaan Kedutaan Besar Iran di Malaysia dan GSC, melalui dukungan dari Farabi Film Foundation dan Organisasi Seni Iran, dan National Film Development Corporation of Malaysia (Finas).

 

Para penonton akan memiliki pilihan di antara total dari 36 pemutaran di bioskop-bioskop besar, selama 11 hari tersebut.

 

Ali Mohammad Sabeghi selaku atase kebudayaan Republik Islam Iran untuk Kuala Lumpur kepada wartawan mengatakan, Festival Film Iran Pertama di Malaysia bertujuan untuk memperluas hubungan budaya bersama dan mempromosikan Industri Perfilman Iran kepada masyarakat Malaysia.

 

Atase kebudayaan Iran untuk Malaysia lebih lanjut menuturkan, salah satu pencapaian bioskop yang paling penting dan positif adalah terciptanya dialog budaya, di mana ini membawa negara dan bangsa untuk bersama-sama menikmati cerita kreatif dan orsinil.

 

"Kami berharap festival ini akan memperkuat hubungan lama antara Republik Islam Iran dan Malaysia, dan mempromosikan seni sinematik Iran sebagai jembatan untuk pemahaman budaya dan persahabatan antara kedua negara," ujarnya.

 

Sabeghi menjelaskan, sinema dan film Iran yang memanfaatkan nilai-nilai kemanusiaan dan pendekatan keluarga memiliki fitur unik yang tidak ada dalam film-film seperti Hollywood dan Bollywood.

 

Atase kebudayaan Iran untuk Kuala Lumpur juga menyinggung para pembuat film yang menggunakan hal-hal yang tidak bermoral dan unsur kekerasan untuk memberikan daya tarik dalam filmnya.

 

Ia mengatakan, mayoritas film produksi Iran diproduksi dengan mempertahankan nilai-nilai moral sehingga semua anggota keluarga bisa menontonnya, sebab, film-film ini jauh dari pendekatan amoral seperti dalam film-film Barat. (RA)

 

Mar 06, 2018 16:06 Asia/Jakarta
Komentar