• Ilustrasi bahan berbahaya.
    Ilustrasi bahan berbahaya.

Kepolisian Malaysia menyebut tidak ada bukti yang menunjukkan kasus hilangnya perangkat radioaktif seberat 23 kilogram terkait dengan terorisme.

"Sampai dengan tahap ini, tidak ada tanda sama sekali yang menghubungkan hilangnya perangkat (radioaktif) itu terkait dengan aktivitas teroris," kata Kepala Kepolisian Selangor, Mazlan Mansor, dalam pernyataannya, Selasa (21/8/2018) seperti dilansir Kompas.

 

Kepolisian di Malaysia saat ini tengah menggelar investigasi terkait hilangnya perangkat dispersal radioaktif, yang disebut Sentinel Delta 880, yang dilaporkan hilang pada 10 Agustus lalu.

 

Perangkat yang digunakan dalam radiografi industri itu hilang dalam perjalanan dari Kota Seremban di Negeri Sembilan menuju Shah Alam di pinggir Kuala Lumpur. Perangkat tersebut berisi isotop radioaktif Iridium-192 seberat 23 kilogram.

 

Demikian diberitakan Channel News Asia. Polisi sempat meminta keterangan dari dua karyawan perusahaan pemilik perangkat radioakfif sehari setelah insiden, namun telah dibebaskan pada Jumat (17/8/2018) pekan lalu.

 

Sebelumnya, sempat muncul kekhawatiran jika hilangnya perangkat berisi isotop radioaktif itu jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab. Badan Atom PBB juga telah memperingatkan bahwa materi radioaktif yang hilang atau dicuri dan jatuh ke tangan kelompok militan dapat dirakit menjadi perangkat nuklir mentah yang disebut dengan "bom kotor".

 

Perangkat tersebut menggabungkan materi radioaktif dengan bahan peledak yang kemudian dapat mencemari satu daerah dengan radiasi. Berbeda dengan senjata nuklir yang menggunakan fusi nuklir untuk memicu ledakan yang lebih kuat.

 

"Kepolisian Kerajaan Malaysia tengah bekerja sama dengan Badan Perizinan Energi Atom (AELB) untuk melacak perangkat yang hilang tersebut dan menangkap pihak yang terlibat," kata Mazlan.

 

Aug 22, 2018 06:03 Asia/Jakarta
Komentar