• Imam Muhamad Baqir as

Jabir mengatakan, “Ketika masa muda saya pergi menemui Imam Baqir as yang saat itu berada di Madinah. Imam Baqir bertanya kepadaku, “Siapakah engkau dan dari suku apa?”

Saya berkata, “Nama saya Jabir dan saya adalah Ja’fi yakni dari suku Ja’f.”

Imam bertanya, “Untuk apa engkau datang ke Madinah?”

Saya berkata, “Untuk menuntut ilmu.”

Beliau bertanya, dari siapakah engkau ingin belajar ilmu?”

Saya berkata, “Dari Anda.”

Imam berkata, “Mulai saat ini, bila ada yang bertanya kepadamu, engkau penduduk mana? Katakan, aku adalah penduduk Madinah.”

Saya berakata, “Apakah ini bukan sebuah kebohongan?”

Beliau berkata, “Bukan. Apa yang aku ajarkan untuk engkau katakan, bukan kebohongan. Karena siapa saja yang hidup di setiap kota, maka dia terhitung penduduk kota tersebut.

 Kemudian beliau mengeluarkan buku dan memberikannya kepadaku dan berkata, “Ambillah buku ini dan jangan katakan kepada siapapun. Bila engkau melakukannya, maka laknat Allah atasmu.”

Jabir mengatakan, “Setelah terbunuhnya Walid, saya pergi ke masjid dan saya memulai menyampaikan hadis dari Imam Muhammad Baqir as, sampai pada batas masyarakat mengatakan bahwa Jabir sudah gila. Pada zaman itu para penguasa telah menjadikan kondisi yang ada benar-benar dalam tekanan. Sehingga seseorang tidak berani menyampaikan hadis dan pekerjaan Jabir ini menurut mereka adalah sebuah kegilaan.

Amar Ma’fur Dan Nahi Mungkar

Imam Baqir as berkata, “Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah kewajibanyang sangat besar. Sehingga kewajiban akan tetap berada pada tempatnya. Oleh karena itu, setiap kali kewajiban besar dan agung ini ditinggalkan, maka Allah akan benar-benar marah dan tidak mengasihi siapapun. Masyarakat yang baik akan dibinasakan di dalam rumah-rumah para pelaku maksiat dan anak-anak yang masih menyusui akan musnah di pangkuan orang-orang besar. Melaksanakan kewajiban agama ini sangat penting sehingga meninggalkannya sama sepeti ketidakberagamaan.

Kondisi Akhir Zaman

Jabir menukil tentang kondisi akhir zaman dari Imam Baqir as demikian:

Di akhir zaman di antara orang-orang Muslim ada sekelompok orang-orang yang riya, yang secara lahiriyah beribadah dan membaca al-Quran. Menyampaikan hadis, padahal dia sendiri adalah orang yang bodoh. Mereka tidak menganggap amar ma’ruf dan nahi mungkar sebagai kewajiban. Kecuali pada saat mereka menganggap bahwa pekerjaan itu tidak merugikan mereka. Mereka senantiasa berpikir bagaimana caranya bisa mencari alasan untuk keluar dari aturan agama. Mereka mengerjakan salat dan puasa dan lain-lainnya selama tidak merugikan harta kekayaan dan jiwanya. Bila mengerjakan salat akan merugikan harta dan jiwa mereka, maka mereka akan meninggalkannya. Untuk itu bertahanlah dengan hati dan lisan di hadapan para pelaku maksiat dan hajarlah mereka dengan lisan dan ucapanmu.

Menangis Di Sisi Allah

Salah satu budak Imam Muhamad Baqir as menukil; suatu hari saya bersama Imam pergi ke Mekah. Begitu Imam masuk ke dalam masjid, beliau menangis tersedu-sedu saat pandangan beliau tertuju ke Ka’bah. Sehingga suara beliau terdengar memenuhi masjid.

Saya berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan Anda. Masyarakat sedang menyaksikan Anda. Sebaiknya Anda lebih pelan dalam menangis.”

Imam berkata, “Aduh kamu ini, atas dasar apa aku tidak boleh menangis. Padahal Allah akan memandangku dengan penuh rahmat karena tangisanku dan ini menjadi sebab kebahagiaanku.” Kemudian Imam Baqir melakukan tawaf dan salat dan sujud lama sambil menangis. Beginilah kondisi beliau saat haji.

Rakus Pada Dunia

Perumpamaan orang yang rakus pada dunia seperti ular sutera; semakin dia membalut dirinya, maka dia akan mempersulit jalan keluarnya sehingga dia mati dalam balutannya karena sedih menghadapi masalahnya.

Salat

Suatu hari Imam Baqir as di tengah-tengah para sahabatnya menukil hadis tentang salat dari Rasulullah Saw demikian:

Kakekku Rasulullah Saw bersabda, “Bila di rumah kalian masing-masing ada sungai yang jernih dan setiap hari kalian mandi lima kali, apa masih tersisa noda dan kotoran pada kalian?" Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah!” Kemudian beliau bersabda, “Salat seperti sungai tersebut. Dengan setiap salat yang kalian kerjakan, dosa-dosa kalian yang berkaitan dengan Allah akan terampuni.

Untuk itu, setiap kali kalian berdiri mengerjakan salat, maka perhatikanlah Hamd [fatihah] dan Suratnya, rukuk dan sujudnya. Ketahuilah bahwa setiap dosa antara salat ini dengan salat sebelumnya yang terjadi pada dirimu akan diampuni.

Pada saat itu Imam Baqir as berkata, “Dengan demikian, janganlah meremehkan salatmu dimana Rasulullah Saw ketika menjelang wafat bersabda, “Orang yang meremehkan salat bukan bagian dariku." (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Muhammad Baqir as  

Aug 08, 2017 13:12 Asia/Jakarta
Komentar