• Imam Jakfar Shadiq as
    Imam Jakfar Shadiq as

Basyar Makari berkata, “Di Kufah saya bertemu Imam Shadiq as. Beliau saat itu sedang makan kurma. Beliau berkata kepada saya, “Basyar! Mari, makan kurma.”

Saya katakan, “Di tengah perjalanan ke sini, saya melihat pemandangan yang benar-benar membuat saya sedih. Karena menangis, sekarang tenggorokan saya sakit dan tidak bisa makan apa-apa. Selamat menikmati untuk Anda. Demi Allah! Ke sinilah dan cicipilah.” Saya mendekat dan mulai makan.”

Beliau bertanya, “Di tengah perjalanan apa yang engkau saksikan?”

Saya berkata, “Saya melihat salah seorang petugas sedang memukuli seorang wanita dan membawanya ke penjara dan Darul Hukumah. Wanita tersebut berteriak begitu mengenaskan seraya berkata, “Demi Allah dan Rasul-Nya! Tolonglah aku!” Tapi tidak ada seorang pun yang menolongnya.”

Imam Shadiq as bertanya, “Atas dasar apa dia dipukuli?”

Saya katakan, “Saya mendengar dari masyarakat bahwa wanita tersebut terpeleset di tengah jalan. Dalam kondisi terjatuh dia berkata, “Hai Fathimah Zahra! Semoga Allah melaknat orang-orang yang menzalimimu!”

Mendengar masalah ini, Imam Shadiq mulai menangis. Begitu banyak air matanya mengalir sehingga sapu tangan dan jenggot serta dadanya basah.

Kemudian beliau berkata, “Basyar! Ayo kita sama-sama pergi ke masjid Sahlah. Kita berdoa untuk kebebasan wanita ini.”

Beliau juga mengutus salah satu sahabatnya untuk pergi ke Darul Hukumah dan mencari kabar tentang kondisi wanita tersebut.

Kami masuk ke dalam masjid dan masing-masing mengerjakan salat dua rakaat. Imam Shadiq mengangkat tangannya dan berdoa, kemudian bersujud. Setelah selesai salat kami keluar melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan seorang lelaki yang diutus untuk mencari kabar. Imam Shadiq menanyakan kejadian yang ada. Saya di sana dan penjaga pintu membawa wanita itu ke dalam dan bertanya, “Apa yang engkau lakukan? Wanita itu menceritakan apa yang terjadi. Dia diberi uang sebanyak dua ratus dirham dari penguasa dan meminta agar memaafkan mereka dan kesalahannya. Tapi wanita itu tidak mau menerima. Kemudian dibebaskan.

Imam Shadiq berkata, “Dia menolak tidak mau mengambil uang dua ratus dirham?”

Saya katakan, “Iya. Padahal dia bersumpah benar-benar membutuhkan.”

Imam menguluarkan tujuh dinar dari sebuah kantong dan berkata, “Bawalah untuknya tujuh dinar ini dan sampaikan salamku kepadanya.”

Basyar berkata, “Saya pergi ke rumahnya wanita ini dan menyampaikan salam Imam kepadanya.”

Dia bertanya, “Demi Allah, Imam Shadiq menyampaikan salam untuk saya?”

Kami jawab, “Iya.”

Mendengar jawaban ini dia lantas pingsan. Kami menunggu sampai dia siuman dan kami berikan dinar itu kepadanya.

Dia berkata, “Mintakan kepada Imam Shadiq as agar memohonkan ampunan budak perempuannya kepada Allah.”

Setelah kembali kami menceritakan kejadian yang ada kepada Imam Shadiq as. Beliau mendengarkan ucapan kami dalam keadaan menangis dan berdoa untuknya.

Ibadah Setiap Orang Sebatas Keimanannya

Imam Shadiq as berkata, “Iman terbagi menjadi tujuh bagian. Sebagian orang muslim memiliki satu bagian dan sebagian lainnya memiliki dua bagian. Ada juga orang-orang yang memiliki tujuh bagian. Oleh karena itu tidak bagus, orang yang memiliki satu bagian dipaksa untuk menanggung beban orang yang memiliki dua bagian dan orang yang memiliki dua bagian tidak boleh dipaksa untuk menanggung bebannya orang yang memiliki tiga bagian. Begitulah seterusnya sampai orang yang memiliki tujuh bagian. Kemudian beliau memberikan contoh.

Beliau berkata, “Seseorang memiliki tetangga seorang Kristen. Yang muslim mengajaknya untuk masuk Islam dan menjelaskan tentang keistimewaan beriman. Seorang yang Kristen ini menerima.

Pada pertengahan malam menjelang subuh sang muslim pergi ke rumahnya orang Kristen yang baru masuk Islam ini dan mengetuk pintunya.

Sang tetangga pun keluar dari rumahnya. Sang muslim bilang, “Bangkitlah dan berwudhulah! Ayo kita pergi ke masjid.”

Lelaki tersebut mengambil wudhu dan memakai bajunya dan pergi ke masjid bersamanya. Sebelum Subuh, orang Kristen yang baru masuk Islam ini mengikuti segala yang dimaukan oleh sang muslim untuk melakukan salat.

Kemudian mereka mengerjakan salat Subuh. Setelah itu duduk sampai matahari terbit. Sang Kristen yang masuk Islam ini ingin pulang ke rumahnya. Sang muslim bilang, “Mau ke mana engkau? Siangnya tidak lama, tunggulah sampai waktu Zuhur tiba dan kita kerjakan salat Zuhur. Lelaki Kristen ini menunggu sampai waktu Zuhur.

Kemudian sang muslim berkata, “Antara Zuhur dan Asar tidak jauh jaraknya. Dia ditahan sampai waktunya salat Asar. Setelah salat Asar dia mau bangkit bergerak, ditahan kembali, seraya berkata, “Tidak lama lagi waktunya Maghrib.” Sampai tiba waktunya Maghrib dan mengerjakan salat Maghrib. Kemudian berkata, “Waktu Isya juga tidak lama lagi tiba, kita kerjakan satu salat lagi lalu engkau bisa pergi.” Setelah salat Isya keduanya berpisah.

Hari berikutnya ketika menjelang subuh sang muslim kembali mengetuk pintunya dan kepada sang Kristen yang baru masuk Islam, berkata, “Mari kita pergi ke masjid!”

Dia menjawab, “Aku adalah orang miskin dan punya keluarga. Untuk agama ini, pilihlah orang yang waktunya lebih luang dari aku.”

Dengan cara ini dia memasukkan ke dalam agamanya dan dengan kelakuannya ini [berlebihan dan memaksakan tidak pada tempatnya] dia mengeluarkannya dari agama. (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as

Sep 03, 2017 19:09 Asia/Jakarta
Komentar