Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoygu bertemu dengan Presiden Suriah, Bashar Assad hari Selasa (13/9).

Berdasarkan statemen yang dikeluarkan kementerian pertahanan Rusia, dialog antara Shoygu dan Assad membahas masalah kondisi stabilitas keamanan di Suriah, terutama di zona penyangga konflik serta bantuan terhadap warga di wilayah tersebut.

Dalam pertemuan ini, Shoygu menyampaikan surat resmi  Presiden Rusia, Vladimir Putin kepada Bashar Assad, dan ucapan selamat atas kemenangan terbaru pemerintah Suriah dalam perang menghadapi kelompok teroris Daesh di Deir ez-Zor.

Kedua pihak menegaskan berlanjutnya kerja sama dalam menumpas terorisme, dan dukungan pasukan udara Rusia terhadap militer Suriah dalam perang menumpas kelompok teroris Daesh.

Sesuai laporan komando angkatan bersenjata Rusia di Suriah, pemerintah Assad berhasil merebut kembali sebanyak 85 persen wilayah negara ini yang dikuasai Daesh maupun kelompok teroris lainnya. 

Di sisi lain, Kepala Pasukan Dirgantara Rusia, Jenderal Sergey Meshcheryakov mengkonfirmasi penempatan sistem perisai rudal Rusia di Suriah.Dengan demikian, kedua negara bisa menggunakan sistem pertahanan rudal ini untuk menghadapi setiap potensi serangan udara yang mengancam Suriah.

Sejak 31 September 2015 lalu hingga kini, militer Rusia mendukung pemerintah Damaskus dalam menghadapi milisi bersenjata dan kelompok teroris yang mengancam negaranya. Penembakkan lebih dari 26 rudal Cruise dari kapal perang yang ditempatkan di Laut Caspia terhadap kelompok teroris Daesh dari jarak 1500 kilometer sebagai awal dari dukungan tersebut.

Sejak awal konflik Suriah meletus, Moskow memberikan dukungan di berbagai bidang dari politik, ekonomi hingga militer terhadap Damaskus. Rusia memberikan dukungan besar terhadap operasi militer yang dilancarkan pemerintah Suriah. Selama ini  terjadi semacam pembagian peran di lapangan dalam operasi militer menumpas teroris di Suriah. Militer Suriah melancarkan operasi darat, sedangkan militer Rusia memberikan dukungan dengan mengerahkan jet tempurnya.

Para analis politik menilai salah satu faktor penyebab dukungan Moskow terhadap Damaskus adalah masalah politik unilateral AS di Suriah. Mantan Menlu AS, Henry Kissinger menjelaskan motif Rusia mendukung Suriah, dengan mengatakan, "Saya berkeyakinan bahwa Putin tidak ingin AS menjadi penentu transformasi di kawasan,".

Faktor penting lainnya adalah kekhawatiran tinggi Moskow terhadap penyebaran Wahabisme di negara-negara pecahan Uni Soviet di Asia Tengah dan Kaukasus serta negara-negara yang dihuni oleh Muslim.

Saking besarnya peran positif dan konstruktif Iran serta Rusia dalam tranformasi Suriah, musuh pun mengakuinya. Misalnya, pengakuan dari Perdana Menteri Inggris, Theresa May di sela-sela KTT D7 menyampaikan pandangannya mengenai pengaruh besar Iran dan Rusia dalam penumpasan terorisme di Suriah.

Tampaknya, Suriah yang dibantu oleh Rusia dan Iran mulai menunjukkan keberhasilannya dalam menumpas kelompok teroris yang beroperasi di negaranya. Pertemuan antara menhan Rusia dan presiden Suriah bisa menjadi sarana perubahan penting pasca Daesh di Suriah, termasuk rekonstruksi dan renovasi armada militer negara Arab ini. 

Sep 13, 2017 18:44 Asia/Jakarta
Komentar