Departemen Luar Negeri Suriah di statemennya meminta Turki secepatnya menarik pasukannya dari Provinsi Idlib, barat laut Suriah.

Deplu Suriah Sabtu (14/10) sore di statemennya tersebut mengecam masuknya militer Turki ke Idlib dan menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional Suriah. Di statemen ini disebutkan, langkah Turki tersebut bukan saja tidak berhubungan dengan kesepakatan yang dicapai negara-negara penjamin di dialog Astana, bahkan bertentangan dengan kesepakatan ini serta sama halnya dengan keluar dari kesepakatan tersebut.

Selama babak keenam dialog Astana pada 14 September 2017 yang dihadiri perwakilan Republik Islam Iran, Turki dan Suriah serta wakil Suriah, kubu oposisi bersenjata dan Staffan de Mistura utusan khusus sekjen PBB untuk Suriah, mereka sepakat membentuk zona penurunan tensi di Provinsi Idlib.

Dalam hal ini, kebijakan Turki terkait krisis Suriah berubah dan kontradiksi serta terkait kesepakatan Astana juga terkadang ada perbedaan antara ucapan dan tindakan. Kesepakatan zona penurunan tensi tidak mencakup kelompok teroris Daesh dan Front al-Nusra yang namanya tercantum di list kelompok teroris internasional. Di koridor ini, Turki sebagai salah satu pihak di kesepakatan ini mengirim pasukannya ke Provinsi Idlib dengan dalih membantu pelaksanaan kesepakatan zona penurunan tensi di wilayah ini. Namun gambar yang terilis menunjukkan bahwa masuknya pasukan Turki ke Idlib atas koordinasi dengan kelompok teroris Front al-Nusra.

Koordinasi masuknya pasukan Turki ke Idlib dengan Front al-Nusra merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan zona penurunan tensi yang dicapai di Astana, Kazakhstan serta gerakan untuk menciptakan zona aman bagi kelompok teroris di kawasan.

Militer Turki sejak bulan Agustus 2016 menggelar operasi Perisai Furat dan tanpa ijin dari pemerintah Damaskus memasuki wilayah negara ini. Langkah Turki dengan berbagai trik tersebut dan penyalahgunaan kesepakatan internasonal serta regional untuk menjustifikasi kehadiran militer dan intervensinya di Suriah menuai protes petinggi dan rakyat Suriah serta opini publik.

Kehadiran militer Ankara di Idlib dapat dicermati dalam posisi strategis wilayah ini yang berbatasan dengan Turki. Posisi Idlib yang terletak di antara jalan dan rute strategis Damaskus ke Aleppo dan Aleppo ke Lattakia mendorong posisi strategis wilayah ini semakin penting. Selain itu, tujuan tersembunyi Turki adalah menciptakan titik penghubung bagi pengiriman peralatan logistik bagi keompok teroris dan kubu anti Suriah.

Rakyat Suriah, mengingat langkah agresif Turki dan koalisi anti Daesh pimpinan Amerika Serikat di negaranya dengan dalih memerangi kelompok teroris, menyaksikan jatuhnya satu persatu sebagian wilayahnya oleh para agresor dan teroris.

Di kondisi seperti ini, sikap keras kepala petinggi Turki untuk memperluas gerakan militernya di Suriah semakin membuat warga negara ini khawatir atas ketamakan Ankara. Eskalasi pergerakan militer Turki di Suriah dan pelanggaran luas integritas negara ini terjadi di saat Ankara berdasarkan statemen Moskow (statemen bersama Rusia, Iran dan Turki) dan dialog Astana berkomitmen menghormati kedaulatan wilayah Suriah. (MF)

Tags

Oct 15, 2017 19:30 Asia/Jakarta
Komentar