Juru bicara Pemerintah Yordania, Mohammad al-Momani mengatakan bahwa negaranya, Amerika Serikat, dan Rusia sepakat untuk menciptakan zona de-eskalasi konflik sementara di selatan Suriah dan dalam hal ini, para perwakilan dari ketiga negara tersebut telah menandatangani sebuah nota kesepahaman.

Krisis Suriah sudah berlangsung tujuh tahun. Para aktor asing penentang pemerintah Damaskus, sudah berkali-kali menggelar konferensi untuk mengakhiri krisis ini, tapi semua upaya mereka tidak membawa hasil yang konstruktif untuk meredam konflik. Sebenarnya, para aktor asing tidak punya tekad yang serius untuk menyudahi krisis dan misi utama mereka adalah menumbangkan pemerintah Suriah.

Sebaliknya, perundingan di Astana, ibukota Kazakhstan di bawah pengawasan Republik Islam Iran, Rusia, dan Turki antara Suriah dan oposisi telah dimulai sejak awal 2017 dan sejauh ini telah menciptakan kondisi untuk mengurangi krisis di Suriah.

Salah satu aspek utama perbedaan antara perundingan Astana dan pembicaraan lainnya mengenai Suriah adalah bahwa ia memiliki inisiatif dan tekad untuk mengakhiri krisis.

Terciptanya zona de-eskalasi konflik di Suriah adalah salah satu dari pencapaian penting perundingan Astana, yang mencakup empat daerah di Suriah dan membuka ruang untuk gencatan senjata di wilayah tersebut.

Yordania dan AS – sebagai kubu anti-pemerintah Suriah dalam beberapa tahun terakhir – juga berupaya untuk menciptakan zona de-eskalasi konflik di selatan Suriah dengan merangkul Rusia. Pada Juli lalu, AS, Yordania, dan Rusia menyatakan bahwa mendukung kesepakatan gencatan senjata merupakan langkah untuk menuju pengurangan konflik secara permanen di selatan Suriah, pemulihan stabilitas, dan penyaluran bantuan kemanusiaan.

Namun, tampaknya ada tujuan lain yang dikejar oleh AS dan sekutunya di balik keputusan itu. Perbedaan utama antara kubu Iran, Rusia, dan Turki dengan trio Yordania, AS, dan Rusia adalah bahwa meskipun kesepakatan trio baru ini untuk sementara bisa meredam konflik di selatan Suriah, namun dalam jangka panjang, ketegangan dan sebuah krisis baru bisa muncul di Suriah.

Zona de-eskalasi konflik di Suriah yang ingin ditegakkan oleh AS, bertujuan untuk mengejar kepentingan tertentu mereka di wilayah selatan negara itu. Salah satu tujuan terpenting AS adalah mewujudkan kondisi khusus di Suriah, terutama di Provinsi Suwayda, Quneitra, dan Daraa untuk menjalankan skenarionya di Suriah. Arab Saudi dan rezim Zionis Israel juga mendukung rencana baru AS di Suriah.

Sementara misi utama Iran, Rusia, dan Turki menegakkan zona de-eskalasi konflik di Suriah adalah untuk memperkuat posisi pemerintah Damaskus dalam perang melawan terorisme.

AS, Yordania, dan Rusia ingin mempersiapkan kondisi pasca kelompok teroris Daesh di Suriah dengan tujuan memperlemah posisi pemerintah Damaskus. Meski demikian, kehadiran Rusia di samping AS dan Yordania diharapkan dapat mengurangi sikap agresif AS di Suriah. (RM)

Nov 13, 2017 17:09 Asia/Jakarta
Komentar