Pada Jumat, 8 Desember 2017 digelar unjuk rasa besar-besaran anti-Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel di negara-negara Muslim. Demonstrasi ini digelar usai Shalat Jumat untuk memprotes keputusan terbaru Donald Trump, Presiden AS dan sekaligus sebagai bentuk dukungan kepada Intifada baru Palestina.

Pada Rabu malam, Presiden AS mengumumkan al-Quds sebagai ibukota rezim palsu Zionis. Keputusan ini diambil meski muncul berbagai penentangan luas regional dan internasional. Langkah sepihak tersebut juga dikecam oleh negara-negara Muslim.

Kelompok-kelompok Muqawama Palestina mereaksi keputusan sepihak dan tidak bertanggung jawab AS dan mengumumkan bahwa keputusan Trump menginjak-injak semua garis merah Palestina dan juga merupakan pengumuman perang terhadap rakyat Palestina serta memicu dimulainya sebuah Intifada baru.

Trump telah mengambil keputusan yang akan mendorong Timur Tengah memasuki perang baru, yaitu perang yang berbeda dengan transformasi tujuh tahun terakhir di kawasan dan juga bukan perang peradaban, namun perang yang akan membinasakan rezim Zionis Israel.

Seperti yang dikatakan Ismail Haniyeh, Ketua Biro Politik Gerakan Muqawam Islam Palestina (Hamas), keputusan Presiden AS tidak hanya akan memicu dimulainya Intifada Keempat, namun juga akan menyulut kemarahan masyarakat dunia Islam.

Mengingat status dan posisi keagamaan serta identitas yang dimiliki Baitul Maqdis bagi umat Islam dan bahkan sebagai Kiblat Pertama umat Islam, maka Intifada Keempat Palestina tidak akan dibiarkan sendirian.

Menurut Haniyeh, karakteristik pembeda terpenting antara Intifada Keempat yang dimulai sejak hari Jumat, 8 Desember 2017 dan Intifada al-Quds yang dimulai sejak 1 Oktober 2015 dan berlanjut hingga sekarang adalah Intifada Keempat dimulai dalam suasana ketika dunia benar-benar anti-Israel dan di dunia Islam juga terlihat "konsensus Islam" yang mendukung intifada tersebut.

Di sisi lain, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) menggelar sidang darurat pada hari Jumat ini untuk membahas klaim sepihak Trump yang mengumumkan al-Quds sebagai ibukota Israel. Semua anggota DK-PBB kecuali AS secara jelas mengumumkan penentangannya terhadap keputusan Trump.

Komite Hak (yang tidak dapat dicabut) Rakyat Palestina di Majelis Umum PBB juga menggelar pertemuan khusus dan menentang keputusan terbaru AS. Di tingkat regional, juga digelar berbagai unjuk rasa luas di seluruh negara Muslim untuk menentang keputusan Trump.

Parlemen Tunisia juga mereaksi keputusan Trump dengan mengesahkan Rancangan Undang-Undang anti-AS. Sementara itu,Organisasi Kerjasama Islam (OKI) akan menggelar sidang pada 13 Desember 2017 untuk mendukung Palestina dan al-Quds.

Reaksi tersebut menunjukkan bahwa al-Quds bukanlah "potongan yang mudah" bagi Israel, meskipun seandainya AS dan sejumlah penguasa Arab –yang menjadi bonekanya– mendukung keputusan Trump.

Al-Quds bagi rakyat Palestina sangat penting, di mana tiga Intifada sebelumnya juga dimulai untuk membela al-Quds. Perbedaannya adalah dalam intifada-intifada sebelumnya, status al-Quds adalah tempat yang dijajah meski ada banyak klaim dari Israel tentang tempat ini. Namun Intifada Keempat dimulai karena keputusan AS, di mana karena keputusan ini al-Quds secara praktis terpisah dari Palestina.

Pada dasarnya, keputusan terbaru AS untuk mendukung Israel tersebut telah mempercepat kehancuran rezim palsu (Zionis) di Timur Tengah. (RA)

Dec 08, 2017 19:09 Asia/Jakarta
Komentar