Menteri luar negeri negara-negara anggota Liga Arab, Ahad (10/12) menggelar sidang darurat di Kairo, Mesir untuk membahas keputusan Presiden Amerika Serikat terkait Al Quds dan mengecam keputusan tersebut.

Sidang darurat menlu-menlu Liga Arab itu dapat diamati dari tiga sudut pandang, perilaku politik di luar pertemuan, level penyelenggaraan sidang dan peristiwa-peristiwa di sela sidang. Ketiganya menunjukkan bahwa sikap Liga Arab tidak mewakili seluruh anggota tapi hanya sebagian.

Secara umum dapat dikatakan bahwa di tubuh Liga Arab, tidak ada satu suara terkait isu Palestina dan keputusan terbaru Donald Trump yang mengakui Al Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel. Di sisi lain, sejumlah negara Arab sudah mengambil sikap tegas mengutuk keputusan Trump itu, semisal Tunisia yang memanggil duta besar Amerika dan Parlemen Tunisia yang menggelar sidang khusus untuk mengecam keputusan Trump. 

Di negara seperti Mesir, Al Azhar, bahkan beberapa pemimpin Kristen Koptik negara itu membatalkan pertemuannya dengan Mike Pence, Wakil Presiden Amerika akhir bulan ini. Begitu juga beberapa negara Arab pesisir Teluk Persia yang mengecam keputusan Trump.

Bersamaan dengan digelarnya sidang darurat Liga Arab di Kairo, Ahad (10/12) dan kecaman terhadap Trump, sebuah delegasi resmi pemerintah Bahrain di hari yang sama, dikabarkan berkunjung ke wilayah pendudukan. Terkait hal ini, media-media Arab mengabarkan, petinggi tiga negara yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Yordania meski sudah mengetahui keputusan Trump soal Al Quds, tapi tidak menentangnya.

Al Quds

Oleh karena itu, para pengamat meyakini bahwa penentangan yang muncul saat ini dari negara-negara anggota Liga Arab, hanya sebatas taktik yang berbeda dengan strategi asli mereka. 

Bukti lain yang menunjukkan bahwa sikap Liga Arab terkait keputusan Trump dan kecaman terhadapnya hanya mewakili sebagian negara anggota saja, yaitu sekalipun rencana pemindahan kedubes Amerika dari Tel Aviv ke Al Quds, sama pentingnya dengan peristiwa besar lain seperti Deklarasi Balfour, namun Liga Arab hanya menggelar sidang di tingkat menlu yang bukan level tertinggi di organisasi itu.

Dalam pertemuan ini cuplikan video yang menunjukkan Menlu Arab Saudi Adel Al Jubeir yang tampak tidak serius menghadiri sidang dan sibuk dengan telepon genggamnya, membuktikan bahwa keputusan sebagian negara Liga Arab tidak akan lebih dari sekedar pernyataan sikap.

Poin penting lain adalah pernyataan bersama di akhir sidang Liga Arab yang hanya mengecam keputusan Trump dan sama sekali tidak menyinggung soal dukungan atas Palestina dalam perjuangannya melawan Israel yang disebut Ismail Haniyeh sebagai pecahnya "Intifada Keempat", dan sudah diduga Liga Arab tidak akan pernah mendukung Intifada.

Hal yang perlu diperhatikan adalah penyelenggaraan sidang darurat menlu Liga Arab membuktikan bahwa para penguasa dan politisi Arab mengetahui dengan baik urgensi masalah Palestina terutama Al Quds bagi Muslimin khususnya Muslimin Arab.

Dengan demikian, di saat masyarakat sejumlah negara Arab turun ke jalan memprotes keputusan Trump, seharusnya para penguasa Arab tidak boleh tinggal diam dalam menyikapi masalah ini. (HS)

Dec 11, 2017 18:53 Asia/Jakarta
Komentar