• Qatar-Arab Saudi Cs
    Qatar-Arab Saudi Cs

Setelah lebih dari tujuh bulan dari tensi antara Qatar dan Arab Saudi Cs, bukan saja tidak ada indikasi meredamnya tensi ini, bahkan berbagai tanda malah menunjukkan tensi yang ada semakin memanas.

Tensi antara Qatar dan Arab Saudi Cs (Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir) meletus sejak 5 Juni 2017. Sikap Qatar yang enggan mengamini kebijakan regional Arab Saudi dan penekanan Doha akan sikap independensi merupakan faktor utama tensi ini yang kemudian berujung pada dakwaan seperti dukungan Qatar terhadap terorisme.

Arab Saudi, UEA dan Bahrain

Babak baru friksi Qatar dan empat negara Arab ini ditandai dengan sanksi empat negara Arab ini dan langkah provokatif Saudi Cs untuk meremehkan dan mempermalukan Qatar.

Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammad bin Abdulrahman Al Thani Rabu (10/1) sore menyatakan bahwa langkah empat negara Arab yang menjatuhkan sanksi kepada Doha telah menimbulkan kerugian materi dan spiritual  terhadap warga Qatar dan mereka menarget rakyat Qatar.

Anwar Gargash, menteri penasehat luar negeri Uni Emirat Arab mengklaim bahwa Doha yang memicu keterkucilan dan munculnya krisis. Bahkan Saud al-Qahtani, penasehat istana kerajaan Arab Saudi kembali mengklaim, "Kami tidak menghitung hari-hari sejak sanksi diberlakukan hingga kini dan isu Qatar sangat kecil."

Dalam hal ini, jet tempur Uni Emirat Arab 21 Desember 2017 terbang di atas zona ekonomi Qatar. Aksi ini selain bentuk provokatif juga ingin menunjukkan bahwa Qatar lemah dan kecil. Langkah tersebut mendorong perwakilan Qatar di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (11/1) malam mengadukan Emirat ke Dewan Keamanan dengan dakwaan melanggar zona udaranya.

Sejatinya sebab utama berlanjutnya tensi adalah pemerintah Qatar meyakini bahwa dirinya bukan negara yang berafiliasi dan mengekor Arab Saudi, namun Riyadh dan sekutunya ters memaksa Qatar dan berusaha membuktikan bahwa negara kecil Qatar akan aman jika berada di bawah naungan Arab Saudi serta akan mengalami pembangunan dan kemajuan.

Faktor lain adalah Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman tidak memandang perbedaan antara kebijakan dalam dan luar negeri. Sama seperti melakukan tindakan bodoh di dalam negeri dengan menangkapi keluarga kerajaan dan menahan mereka, Mohammad bin Salman juga berusaha memaksa negara kecil seperti Qatar untuk mengikuti kebijakan regional Riyadh dengan sikap kontemplatifnya.

Mohammad bin Salman

Namun perilaku tersebut hingga kini menorehkan kegagalan lain di rapor kebijakan luar negeri putra mahkota Arab Saudi. Dalam hal ini, Glen Carey di artikelnya yang dimuat laman Blombergh menulis, langkah Arab Saudi menjatuhkan sanksi terhadap Qatar hanya memperdalam friksi. Kuwait dan Oman, anggota lain Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) juga tidak puas dengan strategi dan metode terbaru Arab Saudi."

Sementara itu, Hani Sabra, pendiri organiasi Alef di New York meyakini bahwa kebijakan regional Mohammad bin Salman sama seperti kebijakan dalam negerinya. Pendekatan ini memang efektif di dalam negeri Arab Saudi dan ia berhasil menyingkirkan rival-rival berpengaruhnya. Namun pendekatan ini di luar akan sangat berbahaya.

Berlanjutnya pandangan dan pendekatan Mohammad bin Salman terhadap negara kecil Arab, bukan saja tidak membuat tensi di antara mereka mereda, bahkan Riyadh harus menunggu langkah serupa dari negara-negara seperti Kuwait dan Oman. (MF)

Jan 12, 2018 20:12 Asia/Jakarta
Komentar