• Mohammad bin Salman
    Mohammad bin Salman

Pergerakan agresif petinggi Arab Saudi untuk menguasai perusahaan besar yang secara praktis sebagai pendukung finansial kelompok teroris Takfiri kembali menarik perhatian atas langkah-langkah pemimpin Saudi yang hanya ingin meraih kepentingan ekonomi dan sekeder berpikir untuk memajukan kebijakan terorisme.

Berita terbaru terkait hal ini diungkapkan oleh Reuters yang melaporkan bahwa pemerintah Arab Saudi berhasil merebut kontrol dan manajemen Binladin Group. Tujuan dari para pemimpin Saudi diluarnya adalah ingin mendapat kepastian akan partisipasi perusahaan ini di program pembangunan di negara ini. Namun tujuan utama petinggi Arab Saudi, khususnya Mohammad bin Salman, pangeran mahkota atalah memanfaatkan kekuatan ekonomi perusahaan ini untuk meraih haus kekuasaannya di dalam negeri dan kawasan serta memajukan kebijakan terorisme negara ini di tingkat internasional.

Mohammad bin Salman

Binladin Group didirikan tahun 1931 oleh Mohammad bin Ladin, ayah dari Osamah bin Ladin, pemimpin al-Qaeda yang tewas serta termasuk perusahaan konstruksi raksasa di dunia. Perusahaan ini banyak berhubungan dengan negara-negara Barat. Hal ini menguak di balik perdagangan hitam pemerintah Barat dan pemimpin Arab dengan perusahaan dicurigai mendukung aksi-aksi teror dan keluarga Bin Ladin memainkan peran besar dalam mengelola perusahaan tersebut.

Sementara itu, perusahaan tersebut memainkan peran utama di berbagai peristiwa anti Muslim di Arab Saudi, namun petinggi Riyadh senantiasa menyimpangkan opini publik dari realita ini. Dalam hal ini pengadilan di Arab Saudi bulan Oktober tahun lalu membebaskan Binladen Group dari kasus tumbangnya crane di Mekah yang menewaskan puluhan orang.

Hubungan penuh rahasia antara pemimpin Arab Saudi dan petinggi negara-negara Barat dengan perusahaan yang dicurigai terlibat terorisme dan sikap mereka menutupi kinerja perusahaan ini terjadi di saat negara-negara tersebut mengklaim tengah memerangi terorisme.

Terkait hal ini, koalisi internasional anti terorisme pimpinan Amerika Serikat menjadi salah satu contoh dari sikap kontradiksi Barat terkait isu terorisme serta peratifikasian undang-undang anti terorisme oleh Arab Saudi selama beberapa tahun terakhir.

Poin yang patut direnungkan dalam kasus ini adalah perilaku Bin Salman, putra mahkota Arab Saudi yang menjadi kolega Bin Ladin dan menunjukkan kesamaan perilaku keduanya yang dengan berbagai metode melancarkan kebijakan terorismenya di kawasan dan internasional.

Oleh karena itu, Mohammad bin Salman dan Bin Ladin harus disebut setali tiga uang dalam mendukung terorisme. Petinggi dan pangerang serta investor Arab Sausi memainkan peran utama dalam membentuk dan menyebarkan terorism edi berbagai wilayah dan pada dasarnya Arab Saudi adalah tempat kelahiran serta pusat koordinasi terorisme Takfiri di dunia serta sumber ideologi terorisme ini adalah pemikiran radikal Wahabi.

Merunut aktivitas Arab Saudi baik di dalam maupun luar negeri, menunjukkan bahwa mayoritas teroris di kawasan dan dunia adalah warga Saudi atau mereka yang memiliki kecondongan ideologi Wahabi dan mendapat dukungan dana serta senjata dari Al Saud. Sama seperti saat ini, berbagai sayap kelompok teroris dukungan Arab Saudi seperti Daesh dan al-Qaeda dengan berbagai nama seperti Ansar al-Shariah, Boko Haram dan al-Shabab aktif di Afrika, Asia dan bahkan di Eropa.

Sebelumnya para terdakwa serangan teror 11 September juga warga Arab Saudi. Selain itu, Osamah bin Ladin, pemimpin al-Qaeda juga warga Arab Saudi. Hassan Soufan, pemimpin kelompok teroris Ahrar al-Sham juga warga Arab Saudi. Bahkan ia lulusan Univeristas King Abdulaziz Arab Saudi.

Binladin Group

Masalah ini kian menguak peran kental petinggi dan investor Arab Saudi dalam memajukan dan mendukung terorisme di berbagai bidang termasuk melalui kanal ekonomi serta pergerakan Mohammad bin Salman untuk mengontrol dan menguasai Binladin Group dapat dicermati dari sini. (MF)

Jan 13, 2018 12:24 Asia/Jakarta
Komentar