• Emir Qatar
    Emir Qatar

Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani bertemu dengan Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyah hari Kamis (8/2) dan memberikan suntikan dana sebesar sembilan juta dolar untuk jalur Gaza.

Keputusan Emir Qatar ini menunjukkan politik luar negeri Doha dalam masalah Palestina. Pertama, kebijakan ini mengindikasikan berlanjutnya dukungan Qatar terhadap Hamas sebagai bagian dari gerakan perlawanan Palestina di Gaza. Masalah ini akan berpotensi menyulut eskalasi perselisihan antara Qatar dan empat negara Arab, terutama rezim Al Saud. Pasalnya, salah satu alasan pemutusan hubungan diplomatik antara Arab Saudi yang diikuti Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir adalah masalah dukungan Doha terhadap Hamas.

Keempat negara Arab yang dipimpin Arab Saudi memandang Hamas sebagai bagian dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang mereka masukan dalam daftar kelompok teroris. Selain itu, keempat negara ini mendukung gerakan Fatah dalam masalah Palestina. Oleh karena itu, salah satu dari 13 syarat yang diajukan keempat negara Arab terhadap Doha adalah penghentian dukungan Qatar terhadap Hamas.

Ismail Haniyah

 

Kedua, pertemuan antara emir Qatar dengan Haniyah, dan dukungan Doha terhadap Hamas berlangsung di saat kementerian keuangan AS pada 31 Januari 2018 memasukkan Ismail Haniyah dalam daftar sanksi negara ini yang merupakan bagian dari dukungan Gedung Putih terhadap rezim Zionis Israel.

Analis politik AS, Jake Novak berkeyakinan bahwa keputusan Arab Saudi menekan Qatar supaya memutus dukungannya terhadap Hamas pasca kunjungan Donald Trump ke Riyadh bukan keputusan tiba-tiba. Sebab musuh Hamas adalah Israel. Selama ini pihak yang paling diuntungkan dari upaya Saudi untuk menghentikan aktivitas Qatar adalah Israel.

Aksi Sheikh Tamim memberikan dukungan terhadap Hamas bermakna penolakan Doha terhadap tekanan Washington dalam masalah Palestina. Di sisi lain, emir Qatar juga menunjukkan perlawanan kepada empat negara Arab yang menjatuhkan sanksi kepada negaranya.

Ketiga, keputusan emir Qatar mengucurkan bantuan untuk Gaza diambil dalam situasi yang sangat tepat. Sebab kondisi orang-orang Palestina yang berada di daerah yang diblokade Israel sejak 2011 semakin mengkhawatirkan. PBB dalam laporan terbarunya mengeluarkan peringatan tentang krisis kemanusiaan di Gaza. Dari tujuh pintu gerbang yang menghubungkan Gaza dengan dunia luar, enam pintu berada dalam kontrol rezim Zionis Israel dan satu berada di tangan Mesir.

Amir Qatar dan Ismail Haniyah

Jalur Gaza saat ini menghadapi kelangkaan bahan makanan, obat-obatan dan bahan bakar yang sangat dibutuhkan untuk oleh jutaan orang penghuninya. Selain itu, tingginya tingkat kemiskinan, inflasi dan pengangguran diperparah dengan berhentinya layanan kesehatan dan fasilitas publik lainnya. Dilaporkan, tujuh pusat pelayanan medis di Gaza dihentikan karena tidak mendapat pasokan bahan bakar.

Tampaknya, pertemuan emir Qatar dan pejabat tinggi Hamas akan memperuncing perselisihan antara negara ini dengan empat negara Arab terutama rezim al Saud.(PH)   

Tags

Feb 09, 2018 18:29 Asia/Jakarta
Komentar