Konferensi internasional rekonstruksi Irak yang digelar di Kuwait dimulai hari Senin hingga Rabu (14/2) diselimuti berbagai masalah yang melilitnya.

Perwakilan lebih dari 70 negara dan sekitar dua ribu perusahaan investasi internasional mengirimkan delegasinya untuk berpartisipasi dalam konferensi rekonstruksi Irak.

Penyelenggaraan pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi publik dunia untuk menegaskan komitmennya dalam membantu rekonstruksi Irak  yang porak-poranda akibat perang dan serangan terorisme.

Penyelenggaraan konferensi di Kuwait ini digelar dengan harapan akan terkumpul bantuan finansial memadai demi membantu meredakan masalah yang menimpa Irak. Sumber Irak menyatakan negaranya membutuhkan kucuran dana sedikitnya delapan puluh delapan milyar dua ratus juta dolar untuk rekonstruksi negara itu.

Kehancuran Irak tidak hanya akibat serangan kelompok teroris Daesh yang pernah menguasai sebagian wilayah negara ini. Tapi juga aksi yang dilakukan para pendukung teroris dengan sepak terjangnya yang mengatasnamakan koalisi anti- Daesh pimpinan AS.

Image Caption

Mengenai masalah ini, koran Wall Street Journal melaporkan, Berdasarkan penilaian terbaru yang dilakukan bank dunia dan pemerintah Baghdad terbukti aksi koalisi internasional anti teroris yang dipimpin AS menimbulkan kerusakan besar terhadap infrastruktur Irak termasuk sekolah, bandara, rumah dan fasilitas sipil negara ini. Penilaian ini menunjukkan tingkat kerusakan akibat aksi sepak terjang koalisi internasional terhadap infrastruktur Irak setidaknya  sebesar 45 milyar dolar.

Kelompok teroris Daesh dan koalisi internasional anti-terorisme yang dipimpin AS menjadi pemicu utama kerusakan besar-besaran Irak. Saking tingginya tingkat kerusakan di sejumlah wilayah Irak, para ahli memprediksi rekonstruksi di negara ini membutuhkan waktu sedikitnya selama 10 tahun. Kekacauan, kerusakan infrastruktur, dan kehadiran berbagai kelompok teroris di Irak menjadi warisan yang ditinggalkan AS di negara Arab itu.

Di Irak dan Suriah, Daesh  menjadi salah satu kelompok teroris yang paling rumit dalam penumpasannya. Daesh menjalin hubungan terbuka dan terselubung dengan AS dan Israel serta sejumlah negara Arab maupun kawasan, seperti Arab Saudi.

Dengan bantuan para pendukungnya, kelompok teroris Daesh melakukan berbagai kejahatan di Irak. Daesh menjadi alat bagi kekuatan interventif  regional dan global. Data statistik menunjukkan dalamnya kerusakan Irak akibat ulah kelompok teroris Daesh yang didukung oleh sejumlah negara Barat dan Arab.

Hashd Al-Shaabi

Kini masalah penting dalam rekonstruksi Irak adalah isu ketulusan dan keseriusan publik dunia dalam membantu negara Arab yang porak-poranda itu. Masalahnya, jangan sampai upaya ini justru menjadi alasan pihak tertentu untuk membalas yang lain. Misalnya, Arab Saudi berpartisipasi dalam rekonstruksi Irak dengan tujuan untuk menyingkirkan lawan politiknya.

Riyadh mengajukan syarat ikut serta dalam rekonstruksi Irak apabila Baghdad mengambil jarak dengan Iran dan Qatar. AS dan Turki juga memiliki syarat khusus mengenai rekonstruksi Irak, termasuk di antaranya menyingkirkan Hashd Al-Shaabi dari arena politik Irak. Langkah seperti itu akan menghalangi peta jalan internasional untuk membantu pembangunan ekonomi Irak.(PH)

Tags

Feb 13, 2018 19:47 Asia/Jakarta
Komentar