• Emile Lahoud, Mantan Presiden Lebanon.
    Emile Lahoud, Mantan Presiden Lebanon.

Mantan Presiden Lebanon mengatakan, bahasa diplomasi dan perundingan tidak berguna di hadapan rezim Zionis Israel dan rezim ini hanya memahami bahasa senjata.

Emile Lahoud mengatakan hal itu dalam pernyataannya pada hari Selasa (13/2/2018) seperti dilansir IRNA mengutip situs al-Ahed, Lebanon.

"Lebanon telah berpengalaman dari perang pembebasan (wilayah negara ini dari pendudukan rezim Zionis) pada tahun 2000 hingga kemenangan dalam perang 33 hari pada tahun 2006, di mana rezim Zionis hanya memahami bahasa senjata," ujarnya.

Ia menyinggung pengabaian terhadap hukum dan pandangan PBB oleh rezim Zionis, dan menjelaskan, perundingan di bawah pengawasan PBB tentang tembok pembatas dilakukan dengan rezim Zionis, namun pasca negosiasi, rezim ini memulai membangun tembok pembatas di atas garis biru dan titik-titik yang disengketakan, di mana kawasan ini jelas bukan perbatasan internasional atau bukan garis gencatan senjata.

"Kami juga mengadukan berbagai pelanggaran terhadap zona darat, laut dan udara Lebanon oleh rezim Zionis kepada PBB, namun rezim itu justru meningkatkan pelanggarannya tersebut," imbuhnya.

Di bagian lain pernyataannya, Emile Lahoud kepada rakyat Lebanon mengatakan, kalian harus mempersiapkan diri atas opsi terburuk dalam menghadapi musuh ganas ini dan pahamkan kepada mereka tentang kekuatan pencegahan kalian dalam menghadapi petualangan militer rezim Zionis terhadap Lebanon, Suriah, Jalur Gaza atau Tepi Barat.

Selama beberapa pekan terakhir, keteganan Lebanon dengan rezim Zionis meningkat setelah rezim ini mulai membangun tembok pembatas di perbatasan Lebanon dan mengklaim atas blok sembilan minyak dan gas negara ini. (RA)

Tags

Feb 14, 2018 06:05 Asia/Jakarta
Komentar