• kondisi Ghouta Timur
    kondisi Ghouta Timur

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov memperingatkan ancaman terhadap kelompok militan Takfiri Front Fath al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai Front al-Nusra, sebagai sumber utama kekerasan di wilayah Ghouta di Suriah, seraya mengecam AS karena tidak melakukan tindakan serius melawan kelompok teroris tersebut.

"Front al-Nusra, yang merupakan masalah utama di Ghouta Timur, seperti yang saya sebutkan, secara sadar atau tidak disadari diperlakukan sama dengan kelompok kritikus dan penentang pemerintah Suriah. Front al-Nusra tidak disentuh [AS]," kata Lavrov dalam sebuah konferensi pers bersama dengan rekannya dari Uzbekistan Abdulaziz Kamilov di Moskow pada Jumat (23/2/2018).

Sergei Lavrov

 

"Kami masih belum memiliki bukti bahwa koalisi pimpinan Amerika Serikat melihat Front al-Nusra sebagai target nyata. Tentu saja, kami menarik perhatian kolega Amerika kami untuk itu, tapi kami tidak melihat dampak dari harapan kami," tambahnya.

 

Ghouta Timur dekat Damaskus telah menyaksikan gelombang kekerasan baru dalam beberapa hari terakhir, setelah para teroris melancarkan serangan mortir berulangkali ke ibu kota Suriah dalam mereaksi kekalahan yang akan segera mereka derita.

 

Diplomat Rusia itu juga menyinggung usulan gencatan senjata terbaru untuk Ghouta Timur di Dewan Keamanan PBB dan berpendapat bahwa inisiatif tersebut gagal memberikan jaminan bahwa teroris akan menghentikan kekerasan yang sedang berlangsung.

 

Rencana gencatan senjata 30 hari, yang disusun oleh Swedia dan Kuwait, ditujukan untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan dan evakuasi medis.

 

Pada Kamis, Lavrov menyatakan kesiapannya untuk mempertimbangkan gencatan senjata di Suriah, namun jika tidak mencakup Daesh, Front al-Nusra dan kelompok teroris lainnya yang "melakukan penembakan sistematis terhadap permukiman sipil di Damaskus."(MZ)

Tags

Feb 24, 2018 19:47 Asia/Jakarta
Komentar