Hari Selasa, 17 April 2018 bertepatan dengan Hari Tahanan Palestina. Data resmi Komite Urusan Tahanan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) dan Klub Tahanan Palestina menyebutkan bahwa sejak tahun 1967 hingga sekarang, 214 warga Palestina gugur syahid di penjara-penjara rezim Zionis Israel.

Hari Tahanan Palestina merupakan salah satu simbol ketertindasan bangsa Palestina. Hari tersebut membawa pesan kepada masyarakat internasional bahwa keterlambatan dalam menangani kondisi para tahanan Palestina akan menyebabkan berlanjutnya tragedi kemanusiaan di penjara-penjara Israel.

 

Tanggal 17 April 1971 adalah hari di mana tahanan pertama Palestina terbebas dari penjara rezim Zionis dan setelahnya, hari itu dinamai sebagai Hari Tahanan Palestina. Setiap tahun, para tahanan dan rakyat Palestina memperingati hari tersebut dan menegaskan kembali komitmen mereka untuk melanjutkan perjuangan menghadapi penjajahan rezim Zionis.

 

Penangkapan dan pemenjaraan adalah salah satu kebijakan rezim Zionis untuk menekan dan memadamkan perlawanan rakyat Palestina. Atas dasar kebijakan ini, Israel telah menangkap lebih dari satu juta warga Palestina hanya dalam kurun waktu lima dekade lalu. Banyak dari mereka telah menghabiskan umurnya di penjara-penjara Zionis dalam waktu yang lama.

 

Berdasarkan data resmi baru, saat ini lebih dari 6.500 tahanan Palestina mendekam di sel-sel rezim Zionis dalam kondisi yang memprihatinkan. Pemenjaran warga Palestina merupakan pelanggaran nyata Israel terhadap resolusi-resolusi PBB dan berbagai konvensi internasional.

 

Opini publik internasional telah menuntut pengambilan langkah tegas dan cepat dari PBB untuk menindak rezim Zionis dan mengambil tindakan konkret untuk mendukung hak-hak rakyat Palestina. Namun sayangnya, PBB belum mengambil langkah nyata apapun untuk menindaklanjuti kondisi dan nasib tahanan Palestina, alih-alih membebaskan mereka dari cengkeraman beracun rezim Zionis.

 

Selama ini, PBB hanya mencukupkan diri dengan melontarkan kecaman secara verbal terhadap berbagai kejahatan rezim Zionis. Posisi lembaga internasional ini telah memicu banyak protes dari masyarakat internasional.

 

Tahanan Palestina harus dimasukkan ke dalam hukum tahanan dalam perang dan pendudukan. Keputusan-keputusan internasional, konvensi Jenewa dan keputusan tahun 1949 di Jenewa Swiss adalah langkah penting untuk melindungi hak-hak bangsa dan tawanan perang selama pendudukan.

 

Konvensi atau perjanjian Jenewa adalah perjanjian kemanusiaan yang ditetapkan untuk masa perang dan pendudukan. Dalam mendefinisikan peran konvensi itu disebutkan bahwa isi konvensi harus menjamin hak-hak penduduk sipil di kawasan perang dan mendukung hak-hak mereka untuk hidup. Dalam kondisi perang, para tahanan, korban luka perang, pasien, staf medis dan peralatan rumah sakit tidak boleh diserang. Penandatangan konvensi tersebut harus mematuhi aturan dalam konvensi untuk melindungi penduduk sipil, korban perang, pasien dan staf medis.  

 

Direktur Pusat Studi Tahanan Palestina, Ra'fat Hamdouna mengatakan, Israel sebagai rezim penjajah secara sengaja melanggar hukum, aturan internasional dan hukum humaniter internasional ketika memperlakukan para tahanan Palestina di penjara, pusat penangkapan dan ruang interogasi.

 

Surat kabar al-Quds al-Araby dalam laporannya yang mengutip Komite Palang Merah Internasional menulis, para pejabat rezim Zionis masih memberlakukan pembatasan ketat terkait pencegahan terhadap para tahanan untuk bertemu dengan keluarga mereka.

 

Rezim Zionis adalah salah satu penandatangan Konvensi Jenewa, namun menjadi pelanggar terbesar konvensi ini ketika menjajah Palestina. Israel memiliki sejarah panjang dan hitam dalam kasus pengabaian terhadap perjanjian internasional, bahkan perjanjian dengan rakyat Palestina yang didudukinya. Peristiwa ini terus berlangsung ketika PBB menutup mata atas berbagai kejahatan Israel di Palestina. (RA)

 

Tags

Apr 17, 2018 15:49 Asia/Jakarta
Komentar