• Donald Trump
    Donald Trump

Dengan semakin berkobarnya api perang ekonomi terbesar dalam sejarah, Senat Amerika Serikat berusaha membatasi wewenang presiden negara ini untuk meningkatkan tarif impor terhadap mitra-mitra perdagangan Amerika.

RUU yang dirancang dua partai Senat dan disetujui dengan 88 dari 100 suara, maka kenaikan tarif terhadap produk impor dan jasa, harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Kongres. Meski ratifikasi Senat Amerika Serikat untuk saat ini tidak bersifat mengikat, namun para senator berharap ratifikasi terbaru akan menjadi langkah pencegah kewenangan Presiden AS Donald Trump dalam menggelar perang dagang yang sangat merusak dan mengeluarkan banyak biaya.

 

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump menetapkan tarif impor tinggi terhadap berbagai produk impor, di mana para aktivis politik dan lembaga-lembaga perdagangan di dalam dan luar negeri telah memperingatkan berbagai dampak dari keputusan tersebut.

Christine Lagarde

 

Christine Lagarde, Ketua Badan Moneter Internasional (IMF), memberikan peringatan tegas kepada para pejabat pemerintah AS dan mengatakan, "Dalam perang dagang tidak ada yang menang dan semua pihak akan merugi."

 

Berbagai prediksi menunjukkan bahwa dalam perang dagang saat ini sebanyak enam juta lapangan kerja di Amerika Serikat bergantung pada berlanjutnya impor barang murah, dan perang tersebut akan mengancam mereka. Sementara dengan kenaikan tarif impor, banyak harga produk impor dan buatan dalam negeri Amerika Serikat yang meningkat. Kalangan masyarakat menengah dan rentan akan semakin tertekan. Selain itu ancaman para mitra dagang Amerika untuk mengambil langkah balasan, akan mengancam pasar ekspor AS dan akan bedampak langsung pada buruk yang bekerja di sektor ekspor.

 

Jonathan Gold, seorang mantan pejabat senior Federasi Retail Nasional (NRF) Amerika Serikat mengatakan, "Perang ini bukan hanya akan berdampak negatif pada sektor retail di Amerika Serikat, melainkan juga terhadap para konsumen dan buruk AS, karena tarif tersebtu selain akan mempengaruhi berbagai produk impor, juga akan mempengaruhi produk buatan dalam negeri Amerika."

 

Ketidakpedulian kubu ekonomi nasionalis yang dipimpin oleh Donald Trump, membuat Kongres yang dikontrol oleh kubu Republik sekarang bekerjasama dengan Demorkat untuk mencegah kian berkobarnya api perang dagang yang disulut pemerintahan Trump.

 

Orrin Hatch, Ketua Komisi Finansial Senat AS mengatakan, "Keputusan Donald Trump dalam memberlakukan tarif 10 persen atas impor senilai 200 miliar dolar dari Cina adalah langkah yang tergesa-gesa."

Cina mengancam akan memberlakukan langkah balasan terhadap impor produk dari Amerika Serikat. Para anggota Kongres khususnya kelompok pro-prinsip perdagangan bebas mengkhawatirkan dampak buruk perang dagang ini pada suara para pemilih AS pada pemilu November mendatang dan akan menimbulkan kekalahan banyak anggota Kongres dalam pemilu sela.  

 

Oleh sebab itu, salah satu cara yang ditempuh adalah membatasi wewenang Presiden AS dalam mengobarkan perang dagang. Akan tetapi sosok seperti Donald Trump kemungkinan tidak akan menyerah di hadapan upaya Kongres untuk membatasi wewenangnya.(MZ)

Jul 12, 2018 19:52 Asia/Jakarta
Komentar