• militer Suriah
    militer Suriah

Hisamuddin Ala, perwakilan tetap Suriah untuk Kantor Eropa Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, pada Selasa (11 September 2018) dalam sebuah sidang di Dewan HAM PBB mengatakan, "Damaskus telah membulatkan tekad untuk membebaskan provinsi Idlib dari kelompok teroris Front Al-Nusra dan kelompok teroris lainnya."

Bashar Al-Jafari, Duta Besar PBB untuk PBB dalam sebuah sidang di Deawn Keamanan soal keamanan Idlib mengatakan, "Damaskus telah mengambil keputusan untuk membebaskan Idlib dari kelompok teroris Front Al-Nusra dan provinsi tersebut akan kembali ke pangkalan Suriah."

 

Sekjen PBB, Antonio Guterres pada Selasa malam mengatakan, "Kondisi saat ini di Idlib sudah tidak dapat dipertahankan, sebagaimana keberadaan kelompok-kelompok teroris di wilayah ini tidak dapat ditolerir."

 

Ketika Sekjen PBB secara tegas berbicara soal krisis di Suriah dan penderitaan yang dihadapi rakyatnya yaitu terorisme, namun negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat menentang keras serangan militer Suriah ke Idlib untuk membersihkan wilayah tersebut dari para teroris.

 

Melalui agitasi dalam skala luas termasuk tuduhan infaktual soal penggunaan senajta kimia oleh militer Suriah dalam pembebasan provinsi Idlib. Namun tujuan akhir mereka adalah pencegahan operasi pembebasan Idlib oleh militer Suriah dan penyelamatan para teroris dari kebinasaan. Tuduhan Barat ersebut mengemuka di saat Sekretariat Teknis Lembaga Proliferasi Senjata Kimia telah berulangkali menegaskan penghancuran seluruh gudang senjata kimia di Suriah di bawah pengawasan internasional.

 

Para pengamat politik dalam hal ini berpendaat bahwa Amerika Serikat menggunakan klaim serangan senjata kimia ke Idlib guna mencegah militer Suriah melancarkan operasinya ke provinsi Idlib. Menyusul gerakan maju militer Suriah dalam satu tahun terakhir, banyak teroris dan oposisi yang telah pindah bersama keluarga mereka menuju Idlib. Oleh karena itu, Idlib disebut dengan sarang para teroris.

 

Idlib adalah wilayah kedua setelah Daraa yang bergejolak di awal krisis Suriah. Pada awalnya, Daraa yang terletak di selatan Suriah dan dekat dengan perbatasan Yordania, bergejola dan kemudian disusul dengan wilayah di Idlib di utara Suriah, dekat dengan perbatasan Turki.  

 

Pembunuhan terhadap pasukan Suriah ketika itu terjadi dengan sangat mengerikan. Berdasarkan data-data statistisk, 146 ribu teroris yang berafiliasi dengan 103 kelompok dari 60 negara dunia, telah direlokasi dari berbagai wilayah Suriah menuju Idlib.

 

Sikap tegas pemerintah Suriah menunjukkan bahwa negara ini tidak akan mengabaikan sejengkal pun wilayahnya dan akan tetap membebaskan Idlib. Dalam langkah strategis tersebut, tidak ada satu pihak atau kekuatan pun yang dapat mencegah pemerintah dan militer Suriah membebaskan Idlib dari tangan kelompok-kelompok teroris.

 

Dapat dikatakan bahwa taktik usang Barat dan Amerika Serikat tidak akan mampu mencegah dilaksanakannya operasi pembebasan provinsi Idlib. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa bersamaan dengan kekalahan para teroris di Suriah, kita juga sedang menyaksikan kegagalan kubu pendukung teroris dalam mengubah perimbangan politik regional.(MZ)

Tags

Sep 12, 2018 18:07 Asia/Jakarta
Komentar