Dec 09, 2018 17:53 Asia/Jakarta
  • Daesh (ISIS) di Suriah.
    Daesh (ISIS) di Suriah.

Operasi militer Suriah telah menewaskan lebih dari 270 anggota kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS) dan menyita sejumlah besar senjata dan amunisi, termasuk 12 peluru kendali anti-tank, TOW buatan Amerika Serikat, di Provinsi al-Suwayda sejak pertengahan November 2018.

Juru bicara Komando Satuan Tugas Rusia di Suriah Oleg Makarevich pada tanggal 3 Desember 2018 mengatakan, para teroris telah ada di al-Suwayda untuk waktu yang lama. Mereka berbondong-bondong ke daerah itu selama beberapa bulan. Di antara mereka adalah milisi yang meninggalkan Yarmouk dan Damaskus sebelumnya dan juga datang dari al-Tanf. Kesulitan lain di sana adalah bahwa tank dan artileri berat memiliki kemampuan manuver yang sangat terbatas, sementara para milisi memiliki banyak peluncur granat, rudal anti-tank dan mortir 82mm.

 

Media pemerintah Suriah pada tanggal 17 November 2018 melaporkan bahwa 380 km2 di timur al-Suwayda dinyatakan sepenuhnya terbebas dari pendudukan teroris Daesh. Namun menurut sumber-sumber lokal, sejumlah sel Daesh masih bersembunyi di daerah gurun di selatan al-Safa. Selain itu, kehadiran besar Daesh masih bisa diamati di gurun Homs-Deir Ezzor. Oleh karena itu, kelompok-kelompok teroris di tepi barat Sungai Eufrat belum sepenuhnya diberantas.

 

Zona al-Tanf yang dikontrol oleh AS secara aktif digunakan oleh teroris Daesh sebagai tempat berlindung yang aman untuk bersembunyi dari serangan pasukan Suriah dan untuk menempatkan kembali pasukannya di Suriah timur. Dengan demikian, tidak mungkin sel Daesh dapat sepenuhnya dihapus di bagian negara ini.

 

Sementara itu, pasukan koalisi pimpinan AS berkontribusi dalam setiap upaya yang mungkin untuk mencegah operasi keamanan militer Suriah di dekat zona al-Tanf. Pada 2 Desember 2018, pasukan koalisi tersebut menembaki posisi pasukan Suriah di dekat al-Ghurab di perbatasan dengan Irak. Pasukan yang dipimpin oleh AS dilaporkan menggunakan Sistem Senapan Roket Mobilitas Tinggi M142 (HIMARS) yang dikerahkan di pangkalan al-Tanaf.

 

Alasan resmi serangan itu tidak diketahui tetapi pasukan AS telah berulang kali menyerang unit-unit tentara Suriah yang mengejar teroris di daerah itu di tepi zona keamanan yang disebut dekat al-Tanf.

Pada tanggal 3 Desember 2018, Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) merilis pernyataan yang mengklaim bahwa 11 militan yang didukung Turki telah dibunuh oleh kelompok itu dalam dua serangan baru di wilayah Suriah, Afrin.

 

Pada tanggal 2 Desember 2018, unit YPG menyerang patroli kelompok teroris Jaish al-Islam di desa Dermishmishe, dekat kota Afrin. Lima teroris Jaish al-Islam tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan itu. Kendaraan mereka juga hancur.

 

Pada hari yang sama, milisi YPG menghancurkan sebuah kendaraan militer yang ditempatkan di markas kelompok teroris Ahrar al-Sham di kota Jinderese. Enam teroris yang didukung Turki itu tewas dan delapan lainnya terluka.

 

Serangan YPG di Afrin kemungkinan akan berlanjut sampai militer Turki dan pasukan proksinya membentuk jaringan keamanan yang efektif di bagian wilayah yang diduduki Turki. Namun, ketidakmampuan dan kebobrokan milisi yang didukung Turki telah menunda dan dalam beberapa kasus, bahkan menyabot upaya-upaya yang dipimpin pemerintah Ankara ini.

Krisis Suriah meletus sejak tahun 2011 menyusul serangan luas milisi bersenjata dan kelompok-kelompok teroris Takfiri yang didukung oleh AS dan sekutunya di kawasan. Mereka berusaha menggulingkan pemerintahan sah Presiden Bashar al-Assad.

Kelompok-kelompok teroris dukungan Barat dan sekutunya itu telah melakukan berbagai kejahatan mengerikan di Suriah yang menyebabkan ribuan orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi. Namun berkat perlawanan gigih rakyat Suriah, kini negara ini berhasil merebut berbagai daerah yang diduduki milisi dan kelompok teroris dukungan asing. Idlib adalah wilayah besar terakhir yang masih di bawah pendudukan milisi dan teroris. (RA) 

Tags

Komentar