Jan 22, 2019 13:19 Asia/Jakarta
  • Ketua tim pemantau PBB untuk Yaman, pensiunan Jenderal Belanda, Patrick Cammaert.
    Ketua tim pemantau PBB untuk Yaman, pensiunan Jenderal Belanda, Patrick Cammaert.

Sekjen Biro Politik Ansarullah Yaman, Fadl Abu Talib mengatakan sikap ketua tim pemantau PBB yang tidak netral dan juga tidak adanya kerja sama dari negara-negara agresor, akan menciptakan hambatan bagi pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata di al-Hudaydah.

Dia mengungkapkan hal itu dalam pertemuan dengan Wakil Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Ma'ain Shuraim di Sana'a pada hari Senin (21/1/2019) seperti dikutip kantor berita IRIB.

"Ketua tim pemantau PBB untuk Yaman, Patrick Cammaert ingin melencengkan arah kesepakatan Hudaydah dan mengeluarkannya dari kerangka kesepakatan yang dicapai di Swedia," ujar Abu Talib.

"Tidak adanya kerja sama oleh kubu agresor terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait kesepakatan pertukaran tawanan, akan menciptakan hambatan dalam pelaksanaan kesepakatan," tambahnya.

Kehancuran akibat serangan Arab Saudi di Yaman.

Abu Talib menegaskan bahwa masalah legitimasi yang dipersoalkan oleh negara-negara agresor hanya sebagai alasan untuk mengejar tujuan mereka dalam menduduki Yaman.

"Presiden terguling Abd-Rabbu Mansour Hadi sama sekali tidak punya tempat dalam proses politik di Yaman," tandasnya.

Gencata senjata yang dicapai antara Yaman dan delegasi dari Riyadh diterapkan pada 18 Desember 2018 di Hudaydah, tetapi koalisi Arab Saudi secara rutin melanggar gencatan senjata.

Koalisi pimpinan Arab Saudi sudah lebih dari 3.200 kali melanggar gencatan senjata di al-Hudaydah. (RM)

Tags

Komentar